Banyak terimakasih Pak Tamrin atas komentarnya. Saya sangat hargai pendapat Bapak. Dan itu bener sekali. Tapi dalam mensosialisasikan isu jender kita juga butuh nuansa lain, NUANSA RENUNGAN. Dan dalam memberikan renungan tentu kita bicara apa adanya, tak menutup2-i, bahwa masih banyak perempuan yang memang diperlakukan seperti lilin dan dibuai dalam simbol kebajikan sebuah lilin. Dan ini banyak terjadi di daerah2, bahkan juga di perkotaan, bahwa perempuan yang mulia itu adalah perempuan yang tahan menderita, perempuan yang shaleh adalah perempuan yang patuh pada suami dalam kondisi apa pun, dan perempuan yang baik itu yang tidak banyak bicara dan berani berargumen. Sementara di sisi lain kontribusi perempuan/istri terus dinikmatin, tapi hak dan ruang tak dibagi. (tentu Pak Tamrin juga paham sekali akan hal ini).
Saya kira itu bukan catatan memelas atau meratapi nasib. Dan itu bukan puisi! Itu menggambarkan kehidupan real! Bukankah selama ini akibat ketidakadilan jender menimbulkan masalah besar bagi perempuan? Masalah itu banyak berbuah derita kan? Kenapa kita mesti menutupinya dengan mengatakan 'saya tahu apa yang saya mau' sementara derita terus memagut tubuh perempuan? SISI ITU memang perlu kita lakukan, bahwa perempun juga "tahu apa yang dia mau", tetapi kita juga tak harus menutupi bahwa dengan sikap "kutahu yang kumau" tak selamanya diterima positif dari kelompok lelaki yang kental budaya patriarkhi, perlu sisi lain dalam 'merengkuh' mereka. Dan renungan yang saya bagi bukan untuk merendahkan kaum saya, juga bukan untuk memelas2, itu mewakili situasi lapangan. Saya kira NUANSA YANG TIDAK 'MENGHENTAK ' DAN TERLIHAT 'KALEM' juga dibutuhkan dalam mensosialisasikan isu jender. Dan ini akan lebih kaya kan tentunya, dengan gayanya sendiri2. Ada yang dengan semangat tinggi, ada yang dengan perenungan, ada yang dengan 'angkat senjata', dan ada yang dengan nuansa biasa2 saja. Saya kira itu suatu hal yang bagus untuk sebuah gerakan, dalam hal ini mengkampanyekan kesetaraan. Berikut akan saya lampirkan pendapat teman2 lain tentang analogi lilin itu, untuk menambah keragaman diskusi kita. DARI SEORANG LELAKI DI ACEH :"dalam memperingati hari perempuan ini, mungkin artikel ini mengingatkan kita akan pentingnya seorang perempuan. Pantaslah Surga di Bawah Kakinya. Banyak para pria berpikir setelah menikah segala kebutuhannya akan selalu dilayani oleh sang istri, padahal dalam kenyataannya tidak bisa begitu. Bila suatu ketika istri sakit, isteri bekerja atau sibuk ketika mengasuh si kecil apakah kita sebagai suami akan diam saja. Tentu dibutuhkan kerjasama untuk meringankan bebannya. Bahkan menurut saya, demi menjaga keseimbangan tugas dan keharmonisan kehidupan rumah tangga pekerjaan rumah tangga pun sebaiknya ditangani bersama. Memang tidak mudah menjalani pernyataan ini, kecuali kita sudah mengalaminya sendiri. Beruntung saya berkesempatan mengalaminya. Saat baru satu malam saja saya menjaga si kecil, saya sudah berpikir, mungkin itulah alasannya mengapa surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu. Barangkali surga itu tak hanya berada di telapak kakinya saja melainkan di seluruh tubuhnya. Bila kita mau berpikir dan merasakan betapa beratnya pekerjaan menjadi ibu rumahtangga, tentu akan timbul kesadaran untuk menghormati, menghargai dan menyangi istri kita karena tugas yang diembannya. Maka kini saya semakin berempati dengan beratnya pekerjaan menjadi ibu rumahtangga. Semakin dalam pula kesadaran saya untuk menghargai dan menyayangi istri, karena tugas yang diembannya ternyata bukanlah sebuah tugas yang ringan ( [EMAIL PROTECTED]). Dari tokoh perempuan Aceh : "Ada satu perubahan yang mendasar dalam cara Ibed menulis, ini penilaian orang awam dalam dunia menulis lho...Hehe. Dulu menurut Saya, tulisan Ibed sangat 'akademik" sehingga terkadang agak kering, dan hanya dipahami or lebih mudah dipahami oleh akademisi. Tapi kalau yang sekarang, baik yang oase, maupun artikel jauh lebih humanis, dan sangat membumi.. Terus terang Saya lebih menyukai yang model sekarang, ini juga mudah dipahami oleh seluruh komunitas. Ini strategi yang sangat baik dalam mengkampanyekan hak-hak perempuan. Yang kedua.. memang beda tulisan yang dimulai dengan sentuhan mendalam dari batin.. Teruskan kawan...:) Peace, S ( [EMAIL PROTECTED]) Segini dulu dari saya. Suatu kehormatan bisa berdiskusi dengan Pak Tamrin. Salam Hangat, ZDj On 12 Mar 2007 04:17:38 -0700, Martin goro-goro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbak Zobaidah, memang Anda betul, maaf, saya keliru. Tulisan Anda > sebenarnya jelas secara tersurat maupun tersirat. Ketidaknyamanan saya lebih > bersumber pada terdeteksinya nada/spirit puisi Anda yang memelas, meratapi > nasib. Saya pengen ada perempuan yang lebih yakin-diri, asertif, punya > semboyan "kutahu yang kumau" Dan, bisa mencapainya tanpa minta > belas-kasihan. Hanya ada Tuhan di antara perempuan dan nasib mereka. Gitu > lho! > > Senang berdialoh dengan Mbak Zobaidah. Salam kesetaraan Demos, > > tat > Tamrin Amal Tomagola
