Oleh Tonny D Widiastono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/12/Sosok/3365315.htm
=======================

Tutur katanya yang mengalir lancar dan runtut serta senyum yang 
selalu tersembul membuat suasana menjadi amat menyenangkan bila 
berbincang-bincang dengan Alfonsus Budi Susanto. Pria kelahiran 
Yogyakarta, 9 September 1950, ini fasih berbicara mengenai kesehatan, 
terutama diabetes, manajemen, dan berlian. Hal yang terakhir ini 
jarang dimiliki orang Indonesia. 

Lulus SMA de Britto Yogyakarta tahun 1969, pria yang akrab 
disapa "Mas AB Susanto" ini langsung meninggalkan keluarga besarnya 
yang tinggal di Pakuningratan-Yogyakarta, terbang ke Jerman belajar 
kedokteran di Universitas Bonn, dilanjutkan ke Universitas 
Duesseldorf. Gelar doktor untuk Endrocrinology-Diabetology diraih 
dari Universitas Duesseldorf. 

"Selama di Jerman, saya sempat menjadi research assistant pada 
Diabetes Research Institute di Universitas Duesseldorf, tahun 1973 
hingga 1976. Tahun 1976 sampai 1978 saya menjadi medical doctor di 
Rumah Sakit Ratingen, Rumah Sakit Marien, dan Klinik Diabetes Bad 
Oeyhansen. Di Bad Oeyhansen inilah orang-orang terkenal di seluruh 
dunia berobat, termasuk Pak Habibie, Pak Harto, para pangeran dari 
Timur Tengah," tuturnya diselingi tawa riang. 

Dokter manajemen 

Meski sudah hidup enak di Jerman, pria yang mencintai golf ini 
memutuskan pulang ke Indonesia. Tahun 1978, ia diterima di Scheering 
AG Indonesia sebagai direktur medis hingga 1983. Karena tugas-
tugasnya banyak bersentuhan dengan manajemen, dan untuk menambah 
wawasan, AB Susanto mengambil Program Ekstensi di Fakultas Ekonomi 
Universitas Indonesia. 

"Ternyata, ilmu manajemen membuat saya terlena. Padahal, sebagai anak 
mbarep (sulung) dari 11 bersaudara, langkah awal saya banyak diikuti 
adik-adik. Bahkan, adik kelima mendirikan Rumah Sakit Ludiro Husodo 
di Yogyakarta," ujar pria yang selalu tampil perlente ini. 

Klien pertamanya adalah perusahaan berlian De Beers. Saat itu AB 
Susanto dipercaya memberikan konsultasi mengenai pemasaran perhiasan 
itu di Indonesia. Debut ini mengantarnya untuk berkenalan dengan 
sejumlah perusahaan swasta dan BUMN. Karena itu, sejak 1984 hingga 
kini, AB Susanto mengibarkan lembaganya, The Jakarta Consulting Group 
(JCG), Partner in Change dengan moto "Our Goals is to Assist our 
Clients to Achieve Theirs". 

Sepak terjangnya dalam dunia jasa manajemen segera membawa pria yang 
suka memakai kemeja putih dengan frenchcuff di lengan, lengkap dengan 
manset, itu bukan orang asing di kalangan pelaku bisnis Indonesia. 
Bahkan, banyak pengusaha melihat AB Susanto sebagai "dokter" 
spesialis manajemen. 

Dari kantornya di Wisma 46-Kota BNI, AB Susanto dibantu 35 tenaga 
staf banyak memeriksa, mendiagnosa, mengobati, dan memperbaiki 
berbagai penyakit yang diderita perusahaan. Sejumlah perusahaan yang 
pernah ditangani antara lain Matahari Department Store, Accer 
Computer, De Beers, Telkomsel, dan Gudang Garam. 

Kunci utama dalam menangani perusahaan-perusahaan itu adalah menjaga 
kerahasiaan. Berbekal pendidikan kedokteran dan manajemen, AB Susanto 
amat terbantu dalam mendiagnosa, "meracik" obat bagi perusahaan yang 
menjadi pasiennya. "Saya bisa mempelajari kasus dari berbagai sisi," 
ujar suami Suhartati ini. 

Dan kalau sekarang JCG sudah mulai dikenal luas, itu tidak datang 
dengan sendirinya. Kerja keras dan ketekunan membuat JCG bisa terus 
berkibar. Bahkan, suatu saat, ia pernah harus bekerja hingga 500 jam 
per tahun untuk memenuhi permintaan 16 proyek kliennya. 

Meski waktunya banyak tersita untuk memikirkan perusahaan-perusahaan 
agar kembali hidup sehat, energinya seolah tak pernah habis. Sejak 
1997 hingga sekarang, AB Susanto juga produktif melahirkan buku-buku 
manajemen. Selama 10 tahun ini AB Susanto melahirkan sekitar 40 buku. 

Belum lagi berbagai aktivitas lain seperti menjadi anggota Unicef 
Indonesia sebagai National Corporate Advisory Council, Ketua Dewan 
Pengawas Yayasan Mahatma Gandhi, anggota Dewan Pakar Asosiasi Manajer 
Indonesia, dan pengajar program magister manajemen di berbagai 
universitas. 

Ahli berlian 

Seperti konsultan lain, doktor di bidang endikronologi dan 
diabetologi ini juga bergelar master of arts lulusan UI. Dan keahlian 
lain yang jarang dimiliki kebanyakan orang adalah kemampuannya 
menilai berlian. 

"Ah, itu kan kebiasaan dari keluarga. Orangtua saya berjualan emas di 
Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dari sana, saya mengetahui berlian yang 
bagus atau tidak. Selain itu, ketika di Jerman, saya sempat belajar 
di Diamond Graduation di Gemmological Institute of Idar Oberstein, 
Jerman," tutur pria yang selalu tampil segar ini. 

Kemampuannya sebagai ahli berlian ini juga diikuti dua putrinya, 
Yohana dan Patricia, yang juga meraih sertifikat sebagai gemologist. 

Melihat begitu padatnya acara yang harus dijalankan, lantas kapan 
istirahatnya? 

"Saya menjalani hidup ini dengan santai, tidak perlu memaksa diri," 
tutur AB Susanto yang mengaku gemar membaca novel karya John Grisham 
dan Sydney Sheldon. 



Kirim email ke