wah wah wah.. ini benar2 fenomena :P (jadi inget Inul)
Saya penggemar Empat Mata, beberapa episode yg kelewat saya rela download via 
internet.

Apakah saya kategori penonton yang tertindas? terbelakang? penat? ndeso? 
Hahahaha.. ah gak pa paaa! saya gak mau pusing dengan segala analisa dan 
penjelasan yang rumit. Lha wong acara ini hadir bukan untuk didiskusikan koq :P 

Kenapa gak lanjutkan saja bahasan Republik BBM?

Acara TV itu kembali kepada selera.. kalo suka silakan ditonton.. kalo gak suka 
ya pindahkan channel aja :D beres atuh, gak perlu dibahas dan mencari 
pembenaran lewat analisa A analisa B.. teori A teori B... Mas Garin boleh lah 
mempunyai pandangan atas acara ini.. that's it.. dia seorang sinematografer. 
Jangan dikorek2 ke masalah selera lah.. percuma gak akan ada ujungnya koq

Yo wes! santai dan yang ringan2 lagiii.. :D
Motulz
PS: Tukul= You're so too cool (tukul) to be true



Patrick <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Nimbrung yahh,

Menyoal Program Acara Empat Mata bersama Thukul Arwana, saya rasa
tulisan Garin Nugroho yg lalu bukan bermaksud utk "membela" acara
Thukul Arwana itu. Menurut hemat saya, Pak Garin hanya memaparkan
fenomena yg menjadi ruang lingkup acara itu. Jujur saja, saya suka
menonton acara Mas Thukul itu, walaupun tidak rutin menontonnya. Terus
terang, saya tidak mencoba mencari alasan kontemplatif atau filosofis
atas fenomena yg menjadi ruang lingkup acara Empat Mata. Tp, saya
sepakat dgn opini Pak Garin Nugroho bahwa acara Empat Mata telah
menjadi semacam dunia singgah bagi penontonnya yg penat akan rutinitas
& rentetan musibah di negeri ini. 
Dan, saya juga sangat sepakat bahwa Empat Mata menampilkan wajah
budaya populer masyarakat Indonesia dewasa ini. Saya kutip dari
tulisan Garin Nugroho, "Sebuah dunia campur aduk, dari profan hingga
kasar, yang tidak perlu tetapi diperlukan, dipuja dan diolok,
metropopolis dan ndeso, penuh senyum dan brutal, religius dan munafik,
terbuka dan fanatik"...Bukankah kita bagian dari itu semua? Kenapa
harus menolak? Apakah rasa malu dapat menjadi dasar penolakan itu?
Kalau kita malu, bagaimana bisa kita mengubahnya? Jadi, Empat Mata
bersama Thukul Arwana?? Kenapa tidak?!!!    

Salam hangat,

Patrick Hutapea
Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional
Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Kirim email ke