Pak Sukiadi Yth,

"Mikul Dhuwur Mendhem Jero"..Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai 
pahlawannya..
Tentang Pak Widjojo cs - terlepas dari kekurangan beliau - kita patut memberi 
respek, karena Indonesia mampu lepas dari kondisi ekonomi "minus" ke kategori 
"under development". Tanpa beliau dan tim Ekonomi pada masa itu, mungkin 
kondisi kita saat ini tidak lebih baik dari Bangladesh atau Korea Utara.
Bahwa kita mengalami kegagalan ekonomi tahun 97 - Yes - tapi itu adalah bagian 
dari proses pembelajaran. Jangankan kita, Korsel dan Thailand yang fondasi 
ekonomi (baca: cadangan devisa)nya lebih kuat dari kita juga kolaps kok.
Kalau mereka bisa survive dan "rebounce" dalam waktu singkat, harusnya kita 
meniru sikap positif seperti itu, jangan malah patah arang atau "nglokro".
Kalau Bapak anggota ISEI, tentunya masih ingat ceramah Pak Bambang Sudibyo - di 
depan teman-teman anggota ISEI - bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang 
paling cepat "bouncing" pasca krisis ekonomi 97. Hanya dalam waktu 1 tahun kita 
sudah mencatat pertumbuhan ekonomi (yg tadinya minus), walau kecil, cuma 1 
digit.
Buat Pak Widjojo, kami menunggu "sumbang saran" Bapak, untuk kemajuan ekonomi 
Republik ini.
Bersama kita bisa, Pak.

Salam.



----- Original Message ----
From: tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 12, 2007 6:21:50 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Widjojo di Mata Sahabat [ Was Widjojonomics 
]

Dear Pak I. Wibowo,
Saya setuju banget dengan pendapat anda tentang "puja-puji" untuk Pak Widjojo 
memang sebaiknya tidak terlalu digembar gemborkan. Apalagi kalau kita sempat 
mengikuti perkembangan ekonomi secara komprehensip dan sekaligus berkesemapatan 
mengunjungi Malaysia,China dan Korea Selatan. Apa yang diklim sebagai sukses 
pembangunan ekonomi Indonesia selama 30 tahun hanya menghasilkan Krisis Ekonomi 
yang paling menyakitkan dibandingkan negara negara Asia Tenggara dan Asia Timur 
lainnya. Kalau mereka dan kita mau jujur Ekonomi Orba adalah more Suhartonomic 
rather than Widjojonomics. Dalam berbagai pertemuan dengan Pak Sadli sebagai 
senior ISEI beliau selalu mengatakan bahwa yang namanya pemikiran ekonomi 
Widjojo dan kawan kawan yang mendapat atribut "The Berkeley Mafia" itu benar 
benar dipakai hanya dari awal pemerintahan Suharto sampai akhir Pelita I. Tidak 
sampai sepuluh tahun! Sambil berkelakar Sadli mengatakan bahwa Suharto sudah 
merasa lebih pandai dari para ekonom yang
selama itu membantu dia.Meskipun kemudian Widjojo masih mendapat kantor dari 
pemerintah dan jabatan resminya adalah " Penasehat Presiden untuk bidang 
perekonomian" . Dan kitapun tahu bagaimana sebenarnya para presiden di 
Indonesia sampai era SBY ini mendayagunakan para penasehat mereka.Salam Tjuk 
Kasturi Sukiadi

Kirim email ke