Halo Vincent, dan sodara2 semuanya
Seperti yang saya pernah katakan dalam email2 saya sebelumnya soal kompatiologi, saya seperti sedang membaca Novel Supernova jilid 1 (Satria,Putri dan Bintang Jatuh)nya Dewi Lestari. Karakter Vincent seperti karakter Ruben dan pasangan-nya (saya lupa namanya) dalam novel tersebut, berusaha atau merasa telah menemukan ilmu baru lebih karena kejenuhan terhadap establishment2 akademik yang sudah ada meski sebenarnya,sebagaimana hampir semua ilmu di masa kita ini,tidak ada SUBSTANSI yang original hanya BANGUNAN/BENTUKAN/ASSEMBLY yang memang saya akui cukup mendobrak. Hanya saja, sekali lagi, saya masih sangat samar pada pemikiran Vincent Liong soal kompatiologi.Saya tidak mengartikan samar ini sebgai sesuatu yg negatif, hanya saja terlalu dini untuk kemudian mengibarkan bendera kompatiologi apalagi (maaf) dengan menjadikan Vincent Liong sebgai suatu branding yang identik. Jangan salah,sedikit cerita saja,ketika pertama kali dikirimi email oleh Vincent,saya sempat ge-er juga karena dari kecil sampe sekrang jujur saja sebenernya saya punya sejarah untuk bisa merasa sebagai anak indigo.Jadisebenernya saya solider juga dengan apa yg dialami Vincent,saya merasa berbagi kesamaan masa lalu.FYI,saya pernah diterima kuliah di 3 PTN (ITS,UNAIR,UNBRAW) dan dan kemudian mengundurkan diri dari ke tiganya karena tidak puas,dulu waktu SMP saya sering kena masalah dengan walikelas dan guru BP karena sering ngotot ngajak debat terbuka dengan guru-guru soal jawaban ulangan saya yang sering berbeda dari apa yg dimaui guru,waktu SMA saya pernah dimusuhi teman2 karena dianggap terlalu vokal. Moral is,bahwa saya,Vincent,Jati maupun anak2 indigo lain itu istimewa,mungkin memang benar adanya,tapi justru karena kita istimewa itulah,seperti apa yg pernah Vincent ucapkan sebelumnya, kita punya tanggung jawab 'khusus',yang disebut Vincent misi messianik (yang saya tidak setuju dengan nama tersebut). Berbeda dengan pendapat Vincent, tanggung jawab khusus itu tidak membuat kita jadi berbeda secara mendasar dengan orang-orang di sekitar kita.Kita memang istimewa tapi tidak punya hak istimewa seperti layaknya seorang messias,kita, rela atau tidak,lahir ditengah masyarakat yang telah berevolusi dengan set-set nilainya sendiri. Bahwa orang2 seperti kita sering melakukan dobrakan2 mungkin itu sudah jadi refleks kita (maaf kalau terkesan geer),tapi saya pribadi tetap menganggap set-set nilai yang sdah ada tadi tetaplah sebuah realitas yang patut diperhitungkan. Perubahan/perbaikan apa yang bisa kita hasilkan kalau toh kita lepas sama sekali dengan set-set nilai tersebut,seperti superkomputer mahacanggih dengan kemampuan komputasi triliunan bit data dalam satu nanosecond tapi tidak terhubung ke jaringan apapun dan diletakkan dalam satu ruang besi terkunci karena takut ter-infeksi. Kalau pemahaman soal indigo ini kita berlakukan surut, tentu banyak kita temukan orang-orang yang bisa kita golongkan sebagai indigo.AlbertiEinstein, Thomas Alfa Edison, Soe Hok Gie, Sukarno dan jutaan orang lain mungkin saja seorang indigo, tapi dalam kisah2 tersebut ada satu pelajaran yang bisa ktia reguk,coba point out siapa yang kemudian mampu mengartikulasikan ke-indigo-an ke dalam set-set nilai masyarakat dan akhirnya benar-benar mampu menghasilkan perubahan (perbaikan) dan siapa yang pupus hanya sebagai 'orang aneh'. Saya tidak merasa telah mampu mengartikulasikan ke'sesuatu'an saya ke dalam masyarakat,saya sendiri masih sangat sering mengalami stress karena tubrukan2 antara apa yg ada dlm diri saya dengan apa yg ada diluar,tp saya yakin tubrukan2 dan stress ini merupakan bagian dari hidup yg tak bisa dihindari untuk menemukan 'slot' kita dalam mahalogos alam semesta ciptaan Tuhan ini. Feel free to contact me,selamat berjuang Salam On 3/13/07, bro_ando23 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > vincetnya ngomong apa yah> kok saya ngak liat.. atau mata saya lagi > sakit... > > ini berat betul kalimatnya.... nyerah saya yah... > > tapi saya cuman kaget vincetliong itu masih seumur saya kali yah... > > saya ngak ngerti teori indigo atau lainnya yang mungkin sedang > bapak/ibu diskusikan... > > yang menarik... gimana saya tahu saya mengerti kalu saya tidak > mengerti... kira2 gimana tuh?
