Halo Wielsma,
   
  Iya nih, saya lagi doyan guyon. Tapi, bisa Anda bayangkan, kan, bagaimana 
imajinasi bisa dikaburkan dengan realitas? Cuma angan-angan dan lamunan, tapi 
dianggap sebagai sungguhan. Inilah yang terjadi pada konstruksi-konstruksi 
gender yang kini dominan itu. Kapan ya kaum laki-laki bangun dari tidur 
panjangnya dan mimpi kosongnya tentang kehebatan dirinya sendiri? Kemampuan 
menyulap fantasi menjadi kenyataan inilah yang selama ini jadi senjata 
pamungkas patriarki. 
   
  Sayang, banyak orang pintar yang keblusuk alias termakan oleh tipuan ini. 
Thanks buat penegasannya untuk mempertajam gagasan.
   
  manneke

Wielsma Baramuli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Bung Manneke!
Pendapat-pendapat seperti yang anda tanggapi di bawah ini bukan lagi sekedar 
imajinasi atau tafsir, ini sudah ekspresi dari konstruksi berpikir yang 
cenderung dikekalkan dan benarkan. Ini masalah paradigma. Pradigma ini dianggap 
kekal dan benar kekal dan benar karena mendapat support dari agama, sehingga 
upaya merubah paradigma relasi perempuan dan laki-laki selalu bersinggungan 
dengan agama dan mentok ditangan agama!

Dalam hal apapun, kita selalu berpikir bahwa agama adalah instansi terakhir 
yang menentukan kebenaran sesuatu, padahal agama itu sendiri adalah juga sebuah 
upaya (bukan satu-satunya upaya) mencari kebenaran. Jika demikian, maka tidak 
ada salahnya kita mulai berpikir bahwa diskusi ini juga bisa jadi jembatan bagi 
proses perubahan paradigma agama kita masing-masing, sehingga kita dapat 
memahami agama dengan lebih manusiawi, dan dapat membangun relasi perempuan dan 
laki-laki secara setara. Bukankah agama ada untuk emansipasi kemanusiaan dan 
untuk memanusiakan manusia, dan kalau kita bicara manusia, itu berarti 
perempuan dan laki-laki. 

Saya hanya ingin mengatakan bahwa ide-ide yang baik jangan menjadi padam karena 
di veto oleh agama! Agama juga perlu berubah, agama perlu di veto juga! Itu 
saja. 

Salam,
wielsma





Manneke Budiman wrote:
Ha ha ha, butuh imajinasi hebat untuk bisa sampai pada tafsir seperti ini. 
Untungnya perempuan tak menafsirkan bahwa:

a) karena laki-laki terbuat dari debu, sedang perempuan dari tulang, maka 
perempuan lebih kuat dari laki-laki. Maka itu, soal mana yang lebih getas 
sangat ditentukan dari logika mana kita bicara.

b) karena perempuan identik dengan hati, maka perempuan punya kapasitas untuk 
emati dan menyayangi jauh lebih besar daripada laki-laki (tapi, apa betul hati 
itu letaknya di kiri, Pak? Kok menurut ingatan saya dari pelajaran biologi dulu 
tempatnya di kanan?)

c) tulang rusuk melengkung maksudnya agar wanita menerima arahan dari laki-laki 
karena dia nantinya akan menjadi pendidik utama? Lho? Apa bukan karena 
perempuan adalah pendidik utama maka berarti laki-laki pun harus tunduk pada 
pendidikan dan arahan perempuan? Kalo nggak, bukan "pendidik utama" dong? 
Lengkungnya rusuk juga bisa ditafsirkan sebagai elastisitas dan anti-kekakuan 
lho? Hayo, yang mana?

Untung ya, Pak, perempuan nggak ge-er seperti laki-laki, yang menafsir sesuatu 
demi keuntungan kaumnya sendiri? Jadi, sebetulnya siapa dong yang lebih bijak? 
He he he...

manneke


                
---------------------------------
 New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more 
at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke