Pak Si Andi,
   
  Saya bilang:
   
  A. Pernyataan Anda ini adalah pernyataan keliru dan tak didasari ilmu, 
melainkan bias gender.
  B. Setara atau tidak tak ada kaitan langsung dengan monogami atau poligami. 
Dalam monogami juga bisa kok nggak setara. 
   
  Ya, saya bilang perempuan dan laki-laki secara genetik setara. Karena, untuk 
kseribu kalinya, gen tidak mengenal kelamin. Gen cuma kenal satu hal: 
kesintasan. Kok Anda lemot amat sih barang gampang gini nggak ngerti-ngerti? 
Bukti dan referensinya? Baca saja daftar buku yang sudah pernah saya berikan 
kepada Anda di milis ini juga dalam konteks debat kita. Ada terlalu banyak, 
sila dibaca sendiri. 
   
  Memang perlawanan banyak alasannya. Tapi dalam perspektif evolusi, jika 
secara genetik laki-laki dan perempuan tak berbeda, maka setiap upaya dominasi 
oleh satu pihak akan dianggap sebagai perintang bagi ioptimalisasi kesintasan 
pihak yang lain. Dengan kata lain, upaya dominasi oleh laki-laki atas perempuan 
menjadi penghalang besar bagi perempuan untuk mengoptimalkan potensi 
kesintasannya. Ini dengan logika sederhana saja sudah jelas. Anda muter ke mana 
saja kok tak kunjung paham. Jangan sok pakai istilah "non-sequitur" segala ah 
kalo maknanya nggak ngerti bener :)
   
  Keterbatasan jumlah sel telur dibanding sperma tidak lalu menyebabkan 
perempuan secara naluriah mencari laki-laki dominan atau memandang kesetaraan 
tak ada gunanya. Ini kan kata Anda. Analoginya dalam biologi evolusi adalah 
bahwa banyaknya jumlah gen tidak serta-merta membuat suatu organisme lebih 
dunggul dari organisme dengan jumlah gen lebih kecil. Yang menentukan tingkat 
kecanggihan suatu organisme adalah banyaknya jaringan genome dan neuron. Liat 
referensi yang sudah saya pernah kasih kalo perlu data dan referensi.
   
  Perempuan di milis ini aja banyak nenentang kok Anda masih juga memaksa 
menjejalkan kemauan Anda kepada mereka? Sudah terbukti kan laki-laki "dominan" 
macam Anda ditolak banyak perempuan di milis ini? Yang saya heran, kok Anda 
masih ngeyel mau bilang perempuan doyan laki-laki dominan. Kebanyakan nonton 
film hollywood, ya?
   
  Soal superioritas laki-laki atas perempuan, And atak perlu mengatakannya 
secara eksplisit, Bung. Membaca semua email Anda tentang kesetaraan gender ini, 
semua orang yang sedikit pinter aja sudah bisa ngeliat kok bahwa 
ujung-ujungnya, itulah ide dasar yang hendak Anda sampaikan. Cuma caranya 
lumayan cerdik: caranya dibalik, yaitu dikatakan bahwa perempuanlah yang 
MENCARI laki-laki dominan (alih-alih dikatakan bahwa laki-laki dominanlah yang 
sibuk cari perempuan untuk ditaklukkkan). Shame on you!
   
  manneke
   
   
   
  

 
  To: [email protected]
From: "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 23 Mar 2007 05:58:00 -0000
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER

        Pak Manneke, 

Saya bilang:

A. Perempuan itu secara alamiah maunya laki-laki yang dominan. 
B. Konstruksi sosial yang monogamislah yang mengajari wanita mencari 
pria yang "setara" karena yang dominan itu sering-sering bukan materi 
yang sesuai untuk hidup monogami.

Pilihannya sekarang mana yang alamiah mana yang bukan kan? Anda 
bilang sebaliknya B-lah yang alamiah dan dan A yang konstruksi 
sosial. Sekarang diskusi bisa dibikin lebih ringkas. Tinggal Anda 
buktikan, bagaimana logikanya, mana data dan referensinya, bahwa 
secara alamiah perempuan itu maunya laki-laki yang "setara". 

Argumen terakhir yang Anda berikan, saya kutip:
"Bahwa pada akhirnya perempuan melawan, dan patriarki kini mengalami 
krisis serius akibat perlawanan itu, adalah bukti bahwa kehendak 
menjadi setara adalah suatu dorongan naluriah yang tak dapat diredam. 
Jadi, dalam perspektif evolusi, perempuan tidak secara genetik 
berbeda dari laki-laki."

Kalimat pertama tidak nyambung, Pak. Non-sequituur kalau dalam logat 
Banyumasan. Perlawanan banyak alasannya. Tidak semata-mata dorongan 
alamiah.

Kalimat kedua jelas tidak benar. 

Perempuan memiliki jumlah sel telur yang terbatas, 500-an butir saja; 
tidak bisa difoya-foya seperti jutaan sel sperma laki-laki. Kalau sel 
telurnya dibuahi, maka konsekuensinya dia harus hamil, melahirkan, 
dan menyusui. Sebaliknya, tindakan berhubungan seks bagi laki-laki 
tidak memiliki konsekuensi apa-apa. Kondisi seperti ini menentukan 
manusia perempuan yang sintas mempunyai pilihan yang berbeda 
(dibandingkan laki-laki) dalam mencari pasangannya. Kalau dia kawin 
dengan lelaki sembarangan, tidak ada jaminan sel telurnya yang 
terbatas itu akan menjadi manusia yang mampu bertahan hidup dalam 
persaingan, sementara "biaya" yang dia keluarkan sungguh tidak 
sebanding dengan yang dikeluarkan pasangannya. Jadi tidak ada 
gunanyalah dia mencari partner setara.

Dan untuk yang kesekian ratus kalinya saya bilang, saya tidak 
menganggap laki-laki itu lebih tinggi dari perempuan. Saya masih 
bicara pilihan perempuan dalam mencari pacar.

Andi

Kirim email ke