Thailand dan Indonesia di Posisi Kedua, China dan Vietnam Lebih Baik http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/14/ln/3384006.htm ========================
Singapura, Selasa - Berdasarkan hasil survei dengan responden pelaku usaha asing, Selasa (13/3), Filipina merupakan negara paling korup di Asia. Sebaliknya, Singapura dan Hongkong adalah negara yang "bersih" dari korupsi. Dalam rangkuman hasil survei lembaga Konsultan Risiko Politik dan Ekonomi (PERC) yang markasnya ada di Hongkong itu juga disebutkan, China, Indonesia, dan Vietnam telah menunjukkan ada peningkatan dalam upaya memberantas korupsi. Persepsi mengenai korupsi memburuk ketika sampai pada Thailand. Ini karena, menurut pandangan responden, kondisi di Thailand setelah berada di bawah kekuasaan junta militer sejak September lalu ternyata tidak lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya. Kesimpulan hasil survei PERC itu didapat setelah menanyai sekitar 1.500 eksekutif bisnis asing di 13 negara yang ada di kawasan Asia Tenggara pada Januari dan Februari lalu. Dengan sistem penggolongan dan nilai 0 sebagai nilai terbaik dan 10 sebagai nilai terburuk, Filipina mendapat nilai 9,40. Padahal, tahun lalu Filipina memperoleh nilai 7,80. Posisi Filipina saat ini pernah menjadi posisi Indonesia tahun 2006. Pada tahun lalu, Indonesia adalah negara paling korup di Asia. Data lama Menanggapi hasil survei PERC, Presiden Filipina Gloria Arroyo yang juga seorang ekonom membantah kebenaran hasil survei itu karena PERC memakai "data-data lama". Arroyo juga mengaku peringkat kepercayaan dunia internasional kepada Filipina sebenarnya telah pulih dan makin membaik. Dalam pandangan PERC yang memberi jasa konsultasi kepada berbagai perusahaan swasta dan pemerintah itu, data-data dalam hasil survei tersebut hanyalah menunjukkan gejala memburuknya persepsi tentang korupsi, bukan tentang perubahan yang benar-benar terjadi di Filipina. Salah satu contoh persoalan di Filipina yang mungkin membuat responden berpandangan negatif tentang korupsi di Filipina adalah proses pengadilan korupsi mantan Presiden Joseph Estrada yang berlarut-larut. Setelah Filipina, urutan kedua negara yang paling korup di Asia adalah Thailand dan Indonesia. Kedua negara itu sama-sama meraih nilai 8,03. Sejak tahun lalu citra Thailand makin buruk. Sebaliknya, nilai Indonesia lebih baik. Padahal, pemerintah junta militer yang menggulingkan pemerintahan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra sejak September lalu telah berjanji akan memerangi korupsi. "Tetapi tidak ada jaminan perilaku junta militer juga akan lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya," laporan PERC. Direktur Khusus Bidang Ekonomi Makro di Institut Penelitian Pembangunan Thailand (TDRI) Somchai Jitsuchon mengakui tidak kaget pada penemuan survei itu. Bahkan, Somchai menilai korupsi hanya bisa dikurangi oleh pegawai negeri yang memiliki gaji tinggi yang tidak pernah bekerja. Terkait dengan korupsi di Indonesia, PERC menyatakan kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberantas korupsi telah "membuahkan hasil positif meski sebenarnya sikap Yudhoyono itu jelas melawan arus". Juru bicara untuk Komite Anti-Korupsi Nasional Indonesia, Johan SP Budi, mengatakan survei itu "menunjukkan keseriusan pemerintah untuk memperbaiki citra dan menumpas korupsi". PERC juga menyinggung kondisi Malaysia yang berada di posisi tengah- tengah. "Rakyat Malaysia sangat kecewa kepada PM Abdullah Ahmad Badawi yang dianggap tidak sanggup atau tidak bersedia segera mewujudkan janjinya untuk mengurangi korupsi," sebut laporan PERC. Lebih baik Responden memandang China dan Vietnam ternyata sedikit lebih baik dibandingkan negara lain di Asia. Namun, menurut analisis PERC, persepsi mengenai korupsi di kedua negara itu baik-baik saja karena sebenarnya korupsi tak pernah dibahas terbuka di dua negara komunis itu. Karena itu, PERC mengusulkan reformasi karena korupsi hanya akan membatasi rencana perluasan bisnis perusahaan. Persoalan lain yang juga penting, menurut PERC, adalah banyak pihak asing "yang memetik keuntungan dari korupsi di berbagai negara di Asia sering sengaja mencari tempat aman untuk korupsi". (AFP/LUK)
