Nampaknya dalam hidup ini kita perlu sekali untuk punya
"harapan".
Sesuatu yang bisa jadi tujuan hingga hidup ini bisa punya makna.
Harapan bagaimanapun kecil dan a'la kadarnya saja, adalah milik
terakhir yang terbaik yang masih bisa dipunyai.
Kalau ini saja sudah tak ada, apalah arti hidup ini?
Hidup tanpa "harapan", tanpa sarapan dan tanpa masa depan.
lantas mau jadi apa diri ini?
Ikut barisan Osama dkk, jadi preman/premin, bunuh diri atau...?
Kemana kita pergi dari situasi kondisi yang begitu?
Apakah yang akan kalian perbuat, rekan-rekan sekalian?
Salam
Las.
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/14/opini/3383756.htm
======================
Berita bunuh diri yang dilakukan seorang ibu bersama empat anaknya di
Malang merupakan cerita buruk. Namun, itu harus diangkat untuk
menyadarkan kita.
Menyadarkan apa? Menyadarkan kita tentang betapa kemiskinan yang ada
di tengah kita begitu menakutkan. Ibaratnya sudah tidak ada lagi
jaring pengaman yang bisa dijadikan harapan untuk keluar dari
kesulitan.
Ketika keputusasaan yang muncul, tidak usah heran apabila banyak
orang kemudian memilih jalan pintas. Seakan bunuh diri merupakan
langkah yang bisa menyelesaikan persoalan, padahal sama sekali tidak.
Apa yang terjadi di Malang tidak bisa hanya kita katakan sebagai
sebuah kasus biasa. Kita harus menangkapnya sebagai sebuah fenomena
gunung es. Karena itu, kita tidak bisa membiarkannya, tetapi harus
berupaya untuk menyelesaikan akar persoalannya, dan akar persoalan
itu tidak lain adalah kemiskinan.
Kita memang diingatkan bahwa kemiskinan tak hanya diakibatkan oleh
ketiadaan pekerjaan. Kemiskinan bisa terjadi karena kemalasan,
ketidakmauan untuk bekerja keras, mau enaknya saja. Untuk yang
terakhir ini memang tidak mudah karena berkaitan dengan kultur.
Kultur dari masyarakat untuk tidak mudah menyerah dan selalu bekerja
keras. Namun, yang berkaitan dengan ketiadaan lapangan kerja
merupakan sesuatu yang bisa kita carikan penyelesaiannya. Dengan apa?
Dengan mendorong kegiatan ekonomi, dengan memacu tumbuhnya investasi.
Hal itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita raih. Namun, sekali
lagi, menuntut kesungguhan kita untuk mau melakukannya, mengambil
keputusan, tidak membiarkan semua itu mengambang tidak menentu.
Sekarang ini praktis ekonomi tidak berjalan.
Persoalannya bukan terletak pada tidak adanya kesempatan, tetapi
ketidakadaan kepastian. Sejak lama sudah diingatkan perlu segera
diperbaikinya aturan iklim investasi. Perlu diperbaikinya aturan
tentang perpajakan, bea dan cukai, ketenagakerjaan, soal ketersediaan
infrastruktur. Tetapi kita tidak segera tanggap untuk segera
menyelesaikan semua pekerjaan rumah itu. Akibatnya, meski kita sudah
dengan susah payah menstabilkan makroekonomi kita, imbasnya tak
sampai ke sektor riil.
Likuiditas hanya berputar-putar di tempat dan akhirnya malah menjadi
beban bagi kita semua. Kemiskinan bukan hanya membuat ada keluarga
yang bunuh diri, tetapi mengimbas ke persoalan lainnya. Mulai dari
masih buruknya kualitas kesehatan hingga pendidikan. Kita mulai
mendengar keluhan keluarga untuk bisa terus menyekolahkan anaknya.
Tidakkah semua itu cukup untuk mengentak kesadaran kita bersama
menyelesaikan persoalan kemiskinan? Terutama masalah pendidikan dan
kesehatan, keduanya harus jadi perhatian utama karena terkait masa
depan kita sebagai bangsa.
Ketika kita alpa menangani kedua sektor itu secara benar, kualitas
sumber daya manusia kita pada masa depanlah yang akan dipertaruhkan.
Kita akan memiliki generasi yang tidak berkualitas di tengah dunia
yang berpacu untuk mempunyai sumber daya manusia yang tangguh. Kita
tentunya tidak mau menjadi bangsa paria di tengah masyarakat dunia.
---------------------------------
Don't get soaked. Take a quick peek at the forecast
with theYahoo! Search weather shortcut.
[Non-text portions of this message have been removed]