Pak Koen,
Saya juga merasa bahwa mobil para TNI AL ini sangat sering merasa yang paling
penting dijalanan. Sedan-sedan abu-abu sering yang enggak pernah bertoleransi
dengan kendaraan lain-nya dijalan Raya. Apalagi kok memberi jalan kepada
kendaraan lain yang akan "u-turn", boro-boro, padahal kalau mereka memberi
jalan akan lebih lancar traffics nya.
Dikarenakan di Indonesia ini masih banyak pemakai jalan raya tidak punya tata
cara sopan santun berkendaraan. Ya karena kebanyakan SIM nya hanya di-"tembak"
saja, jadi bagaimana mereka ini tahu cara-cara berlalu lintas?
Tetapi saya juga harus mengakui bahwa akhir-akhir ini banyak pak Polantas
turun ke jalan-jalan raya dipagi hari sewaktu orang-orang berangkat kekantor.
Misalnya dijalan Fatmawati (dari arah selatan) yang akan belok ke Jl. Cipete
Raya, setiap pagi sekarang ada 6 Polantas yang berdiri dibawah Traffics lights
untuk mengatur lalu lintas, jadi lebih sangat teratur. Karena biasanya
angkot-angkot dan kebanyakan kendaraan lain (terutama sedan-sedan mewah) akan
menyerobot dari kiri untuk belok kekanan ke Jl. Cipete raya tersebut, tanpa ada
rasa "guilty" bahwa yang lain-nya sudah meng-antre lama disebelah kanan untuk
belok ke kanan. Sewaktu polisi nya hanya satu, tidak ada yang menurut, tetapi
setelah ada 6 polisi, gak ada deh yang berani. Salut Polantas!
Juga dari Pangeran Antasari yang akan belok ke Puri Sakti, tiap pagi selalu
ada polisi disitu, jadi traffics lebih lancar.
Maka dari itu, kalau kita selalu memberikan input untuk membetulkan cara-cara
berkendaraan di jalan raya, saya rasa POLANTAS akan berbuat sesuatu juga.
Tetapi ya itu, memang harus lebih banyak polisi nya diturunkan kejalan raya
pada saat-saat "rush hour".
Yang sangat amat masih buruk adalah para kendaraan roda dua (motor) dijalan
Ampera raya menuju ke Kemang Raya, masak motor-motor ini mengambil seluruh
jalur kanan jalan, sampai sampai kendaraan yang dari Kemang Rayua akan belok ke
kanan menuju Ampera Raya, tidak bisa belok sama sekali. Padahal ada kantor
Polisi di Jl. Kemang Timur Raya.
Semoga ada lima Polisi tiap pagi berdiri di per-tigaan antara Kemang Raya;
Kemang Timur Raya dan Ampera raya. Karena sangat menjengkelkan para pengendara
motor tersebut.
Salam,
Yuli
Koen Soelistijo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kemarin, sekitar jam empat sore di jalan Warung Jati Barat
(Terusannya Warung Buncit) menegur polisi yang jaga di persimpangan
karena membiarkan bus TNI AL lewat jalur bus Trans Jakarta dari arah
Utara menuju ke Selatan (Ragunan). Polisi hanya bengong saja waktu saya
protes: "Itu ada pelanggaran bus masuk jalur Trans Jakarta kok didiamkan
saja !!" Kemudian di perempatan selanjutnya saya kembali protes kepada
polisi yg lain, dia menjawab "Tadi sudah saya tegur !" Saya tidak sempat
menjawab/menyanggah, karena banyak mobil di belakang saya. Padahal
Polisi bisa menyetop atau menyuruh bus tsb utk kembali ke jalur yg
benar. Polisinya itu berdiri di sisi busway, tapi justru dia yg menepi,
bukannya tetap berdiri ditengah agar bus keluar dari busway. Sebelumnya,
memang banyak pelanggaran motor, mobil pribadi juga bus dan mobil TNI yg
masuk di busway. Kelihatannya Polisi jaga di setiap persimpangan untuk
menangkap pelanggar, tapi Polisi kelihatannya tidak berani menindak TNI.
Beberapa hari yl, saya juga melihat sebuah MOGE meluncur di jalur cepat
di Jl. Sudirman. Padahal aturannya kendaraan roda dua harus di jalur
lambat. Saya lihat Polisi yg berdiri tidak jauh dari MOGE yg meluncur
itu tidak berbuat apa2 meskipun sebenarnya bisa menyetopnya. Dia juga
hanya bengong saja !
Pelanggaran oleh bus TNI AL itu, hampir setiap hari saya lihat. Hanya
kemarin di setiap persimpangan dijaga Polisi, sehingga saya bisa protes.
Alangkah bagusnya bila ada media yg bisa memotret bus TNI yg melintas
dan jalur Trans Jakarta serta Polisi yg hanya membiarkan saja.
Inilah yg terjadi di negeri tercinta ini. Kelompok atau orang yg punya
senjata dan atau kekuasaan, sering arogan.
Saya kadang merenung, kemacetan yg terjadi ini mungkin tidak separah ini
bila Polantas menjalankan fungsinya dg benar. Masyarakat tentu akan
tunduk pada peraturan tidak terkecuali.
Salam,
Koen S