ketika seseorang itu dewasa secara fisik, berarti dia siap untuk menjadi pejantan dan kalau di kampung saya, itu namanya jadi anak muda Jerman. Rambut klimis, diberi Pamonade yang banyak, kilat-lat-lat, pakai baju rapi, dasi koepoe-koepoe dan sukur-sukur kalau punya penjepit celana model si Charlie Caplin. Ada yang nggak tahu Charlie Caplin? Yaa, sori ya, kalau yang blom tahu si Charlie ini, doi itu adalah pelawak terkenal yang pake kumis model HItler dan dulu si Unang nya waktu masih Bagito, suka niru juga, ya kita tinggalkan soal unang, kita lanjut anak muda Jerman. Jangan lupa juga pake sabuk yang hitam mengkilap dan gaspernya stainless steel atau kuningan juga boleh asal dibrasso dengan mantab.. nggak punya brasso, ya pake jeruk nipis dan garam aja lalu laplah dengan mencling... ting..! Jangan lupa untuk memakai sepatu kulit yang sudah disemir poll, kilat dan licin, coba test dulu , kalau lalat blom tergelincir, berarti anda blom siap, ulang lagi, kalau nggak ada lalat, yaa nyamuk juga boleh asal jangan nyamuk Aedes, nanti malah jadi DB - bin Dengue yang katanya serem bin mematikan. Nah, kalau itu nggak ada juga, ya anda pake rambut deh, kalau rambut atau bulu juga boleh, itu bisa tergelincir di sepatu itu, berarti anda sudah lulus untuk jadi anak muda Jerman dan siap untuk jadi pejjantan dan dinikahkan. Saya tidak tahu persis, kenapa istilah anak muda Jerman ini dipakai dan mungkin sekarang udah nggak umum lagi disebut untuk anak yang sudah besar dan siap untuk menikah, tapi dalam periode saya masih di kota kecil saya - katakanlah kampung begitu- istilah ini dari awalnya untuk memuji, menjadi semacam joke halus untuk mengatakan bahwa seseorang itu sekedar besar badan saja, tapi pikiran itu tidak berkembang. Seorang anak manusia, pemuda yang berkembang dewasa itu akan bisa mempergunakan akal pikirannya untuk berinteraksi dan juga menerima pandangan orang lain, dan tentu saja mau belajar dan mencari ilmu dan anak muda Jerman ini biasanya dijadikan sebutan untuk pemuda-pemuda yang sekedar senang nampang dan bergaya, entah itu di pasar malam, di bioskop atau ditempat-tempat ibadah. Ketika ditanya, diajak untuk berdiskusi yang ada itu hanya lah upaya untuk adu otot tanpa mau mencoba mencari tahu dan belajar lebih giat. Biasanya pandangan orang-orang yang disebut anak muda Jerman ini sempit, ya, seperti pakai kaca mata kuda begitu dan yang kelihatan olehnya cuma apa yang muncul di depan matanya dan kalaupun mereka menoleh-kalau masih bisa, loh- itu juga jarang sekali karena seluruh perhatiannya sudah tersita oleh apa yang dia jalani. Coba anda bayangkan, membersihkan sepatu, gasper, berdandan dan lain-lain, itu sudah menyita banyak waktu mereka, mempelajari apa yang dia kecengi entah itu bioskop atau tempat ibadah atau pasar malam itu pun sudah habis waktunya, jadi wajar sekali kalau pengetahuan mereka itu terbatas. Nah, mana mungkin anda mengajak mereka untuk berdiskusi soal filsafat, soal kehidupan dengan bahasa umum dipergunakan dikalangan para penikmat dan pemerhati kehidupan. Sedikit sekali di antara para anak muda Jerman ini yang lalu beralih ke jalan yang membuat mereka itu mau memahami hidup ini dengan lebih luas dan mau melepaskan kaca mata kudanya, padahal, kematangan pikiran itu sungguh membutuhkan kita untuk mau memahami dengan lebih mendalam dan mau mencari apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, atau ingin disampaikan oleh kehidupan kepada kita melalui kejadian-kejadian yang kita temukan dalam keseharian kita. Nah, kadang, anak muda Jerman ini pun bergaya seperti orang yang beragama atau penekun spiritual namun itu tadi, semuanya sekedar di permukaan atau kosmetik belaka tanpa bisa melangkah lebih jauh. Pada akhirnya memang mereka-mereka ini bisa akan sangat berkuasa dikalangannya, ya , karena mereka toh melihat secara fisik dan di permukaan saja dan sayangnya orang-orang semacam itu banyak sekali. Tentu saya yakin itu bukan anda karena anda bisa membaca tulisan ini sampai di titik ini, itu menandakan anda punya pikiran yang terbuka, hati yang mau mengamati dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, dan dalam hal ini saya, irwan sutjipto. Di bagian atas saya katakan sedikit saja dari para anak muda Jerman ini yang mau melepaskan kaca mata kudanya dan melihat kehidupan itu dengan lebih baik, dan mereka-mereka ini biasanya justru akan lebih cepat lagi kematangan batinnya dibandingkan dengan para peminat filsafat pada umumnya, kenapa, ya karena rasa bersalah dan sadar akan ketertinggalan mereka merupakan suatu cambuk yang membuat mereka itu berusaha dengan tekun dan mencari makna kehidupan, arti hidup baginya dan bagi umat manusia dan sering kali di antara mereka itu ada yang bisa menemukan kebenaran sejati pada akhirnya, entah itu istilahnya melihat dhamma di mana-mana, menyaksikan Allah di mana-mana atau bertemu dengan Roh Kudus, ya saya nggak tahu juga. Yang pasti, saya senang mengamati para anak muda Jerman ini masih banyak berkeliaran di dunia dan ini berarti Pamonade sekarang masih laku tapi udah ganti merek dan model, mungkin pakai L'Oreal, atau Foam nya Rudy atau merek terkenal lainnya sekarang. Oh ya saya jadi lupa, semoga dengan ini anda bisa mengerti bahwa kedewasaan secara fisik itu maksudnya apa dan juga kedewasaan secara spiritual itu seperti apa. Anda boleh hafal dan tahu semua istilah di dunia, tapi kalau anda tidak bisa memahami maknanya dan berbicara dengan bahasa anda sendiri, anda pun masih anak muda Jerman, sekedar pejantan saja. Hanya ketika anda sudah paham makna dan bisa berbicara dengan hati, baru anda bisa dikatakan mulai dewasa secara spiritual. Bagaimana caranya, ya itu tugas anda untuk mencarinya dan tugas guru anda juga untuk membimbing anda. Saya kan sekedar ngobrol di sore hari. Nah, anda tentu akan bertanya, apa lagi judulnya kali ini :) yaa, kita kasi judul Anak Muda Jerman saja yah, buat orang Jerman sori dan bagi yang tahu sejarah istilah ini , mohon di share ke japri saja... 140307
--------------------------------- Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. [Non-text portions of this message have been removed]
