http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/12/28/21363095/franz.magnis.jangan.cuma.kritik.pemerintah.juga.introspeksi.


JAKARTA, KOMPAS.com - Budayawan sekaligus rohaniawan Katolik Franz Magnis 
Suseno menilai tepat peringatan dan keprihatinan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, soal fenomena sosial belakangan di mana semakin mudah berkembangnya 
tabiat dan perilaku baru di masyarakat, saling fitnah dan menyebarkan berita 
bohong.

Namun begitu, pemerintah juga diingatkan untuk mengintrospeksi diri sehingga 
tidak sekadar berhenti pada memperingatkan dan mengkritik warga negaranya 
sendiri terkait masalah itu. Fenomena sosial macam itu diyakini Magnis ada 
penyebabnya.

Pernyataan itu disampaikan Magnis, Senin (28/12/2009), usai mengikuti 
peluncuran dan bedah buku Karakter-Mengantar Bangsa Dari gelap Menuju Terang 
tulisan Soemarno Soedarsono di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). 
Turut hadir Gubernur Lemhannas Muladi.

"Peringatan Presiden Yudhoyono tentunya tepat. Namun pemerintah juga harus 
ingat agar mampu memberi contoh, misalnya soal kesediaan untuk bertanggung 
jawab dan juga menerima sekaligus menangani berbagai kritik, yang datang dari 
masyarakatnya," ujar Magnis.

Tidak cukup sampai di situ saja, Magnis juga mendesak pemerintah bisa bersikap 
peka dan merasakan masyarakat, ketika mereka sudah mulai merasa muak atau ragu 
pada pemerintahan yang ada.

"Saya lihat masyarakat sekarang sudah semakin resah. Hal itu beralasan, apalagi 
dalam beberapa bulan terakhir mereka mengalami banyak contoh ketidakadilan. 
Berbagai argumen politik (atas suatu peristiwa) dilihat masyarakat sangat tidak 
proporsional dan tidak meyakinkan, bahkan bagi mereka yang awam," ujar Magnis.

Dalam kondisi begitu tambah Magnis, masyarakat sebetulnya lebih membutuhkan 
figur dan sosok pemimpin yang tegas dan bisa meyakinkan mereka. Jika kekecewaan 
masyarakat tadi tidak segera ditanggapi, dia melihat akan muncul kekecewaan 
lain yang jauh lebih besar, baik kepada sistem maupun perorangan.

"Kondisi seperti itu sangat berbahaya dan sama sekali tidak kita harapkan. 
Kalau masyarakat tetap dalam keadaan kecewa, tentu pemerintah dan masyarakat 
juga akan berada dalam kondisi yang semakin sulit," tambah Magnis.

Walau begitu tambah Magnis, dirinya melihat berbagai kekecewaan yang muncul  
masih belum terlalu jauh sampai memicu anarkisme di kalangan masyarakat. Akan 
tetapi masyarakat tetap, membutuhkan kehadiran seorang pemimpin, yang prima 
sehingga dapat memunculkan semangat bagi rakyat yang dipimpin.

Dalam kesempatan sama, Muladi mengingatkan Indonesia sebagai bangsa yang sangat 
pluralistik dan terdiri dari banyak suku, bangsa, bahasa, dan agama. Kondisi 
seperti itu menurutnya sangatlah rentan terpecah belah, terutama jika semua 
pihak tidak terus berupaya untuk selalu memperkuat kembali hubungan yang sudah 
ada melalui perkuatan jati diri bangsa.

"Jadi harus diingatkan terus kalau kita ini punya benang merah yang selama ini 
mengikat kita semua. Bentuknya jati diri, filosofi, dan konstitusi bangsa. 
Caranya, kita harus kembali ke sejarah munculnya jati diri bangsa melalui 
sejumlah peristiwa bersejarah," ujar Muladi.

Beberapa kejadian bersejarah yang menandai terbentuknya Indonesia sebagai 
sebuah bangsa itu, tambah Muladi, antara lain mulai dari saat berdirinya Budi 
Utomo (tahun 1908), Sumpah Pemuda (tahun 1928), kelahiran Pancasila, 
kemerdekaan Indonesia, hingga masa sekarang.

Kirim email ke