Rm.Edy P, itulah yang menjadi keprihatinan kita, Romo. sering kali kita itu ibarat sekelompok orang dalam kebakaran. Semua berteriak "Air, air,.... ambil air!" Namun tak ada yang mengambil air. Karena kita ingin orang lain yang mengambil air.
Ajakan tobat mestinya tidak dengan kata-kata, apalagi kalau yang mengajak sendiri tidak menunjukkan sikap dan tindakan tobat. Ajakan tobat menjadi kehilangan maknanya, ketika ajakan itu diucapkan oleh orang2 yang tidak pernah melakukannya. Kita menunggu para pemimpin bersikap seperti Raja dan pembesar kota Ninive yang langsung menanggalkan jubahnya dan duduk di atas abu. Dari atas abu itu ia mengajak orang lain untuk bertobat dan kembali pada ALLAH dengan memerintahkan bahwa semuanya harus mengubah diri, masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.Dan aksi itu dimulai dari jajaran pimpinan, dimulai dari raja. Kita juga menunggu para pemimpin kita bersikap gentelmen seperti Nabi Daud, yang langsung dengan tulus berani mengakui kesalahannya ketika ditegur Nabi Natan. Ajakan "tobat massal" atau "tobat nasional" sebenarnya adalah ajakan yang tidak ditujukan pada identitas pribadi. Dengan demikian tindakan pribadi menjadi kabur dan orang bisa bersembunyi di bawah ketiak orang lain. Di sini hampir tidak ada tanggung jawab pribadi. Padahal, yang namanya tobat itu selalu bersifat pribadi. Tobat merupakan niat dan aksi diri. Ajakan "tobat massal" juga bisa berarti ketidaktulusan untuk bertobat. "Jangan-jangan nanti kalau saya bertobat, orang lain nggak. Rugi dong saya..?" Kita seakan-akan tidak berani mula betobat, takut kalau-kalau nanti orang lain tidak tobat juga. Ajakan "tobat massal" juga bisa berarti mengalihkan perhatian untuk melepaskan diri dari tanggung jawab riil. Bencana bertubi-tubi coba diletakkan sebagai hukuman Tuhan, dan karena itu harus bertobat, agar Tuhan tidak menghukum lagi. Upaya pengalihan perhatian dengan menggunakan semangat relegius ini mudah membuat orang tidak kritis lagi karena orang jadi pasrah menerima bencana. Akibatnya bencana-bencana yang disebabkan oleh kelalaian/kejahatan manusia, dan karena itu mestinya diselidiki dan yang bersalah ditindak, menjadi tidak kritis diteliti. Ketidakkritisan ini membuat kesalahan tidak pernah diperbaiki dan di kemudian hari kelalaian yang sama terulang lagi, yang juga mengakibatkan bencana yang sama. Dan yang bersalah akhirnya bisa lepas dari tanggung jawab. Rakyat kita yang punya semangat relegius yang tinggi bisa menjadi sangat mudah dikelabui dengan ajakan seperti itu.Kemarahan warga akibat kekecewaan juga bisa mudah diredam, dengan ajakan-ajakan suci agama. Namun demikian, saya pribadi tetap menyambut ajakan untuk bertobat dari para penguasa itu secara positif, apapun motivasi mereka. Saya belajar untuk tidak kecewa, meskipun mereka yang mengajak untuk tobat itu ternyata tidak bertobat. Saya bertobat, karena saya mau bertobat. Salam Mulyadi --- In [email protected], "Edy P" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Stephanus Mulyadi, > > matur nuwun...panjenengan mengangkat seruan Amos ke ranah publik kesadaran untuk melakukan tobat. Saya juga sangat tertarik terhadap seruan para pemimpin kita untuk adanya tobat nasional. Seruan seperti itu selalu muncul ketika negeri ini ada dalam keterjepitan (tahun '80an, tahun 1997an, tahun 2000an dan sekarang 2007). > > Maksud saya, kalau situasi itu sudah juga menjepit para pemimpin kita, barulah mereka mengajak rakyat untuk bertobat. Tapi kalau keterjepitan itu hanya dirasakan oleh rakyat jelata, seruan tobat itu tidak ada atau tidak terdengar. Itu artinya apa? > > Jangan-jangan itu bukan ajakan untuk bertobat (melakukan tobat sebagai gerakan, bukan sekedar penyadaran diri), melainkan seruan SUPAYA ORANG LAIN BERTOBAT tapi yang menyerukan atau mengajak tidak punya niatan untuk bertobat. Lha kados pundi menawi makaten? > > Nuwun sewu. > > >
