Dear teman2 pemerhati TOBAT,
   
  Bukannya saya antipati dengan aura tobat. Tapi apakah yang mengusulkan 
bertobat itu juga akan bertobat? Siapa yang harus bertobat? Apakah jika setelah 
bertobat dan keadaan  membaik,kembali lagi menjadi bangsa yang amburadul dan 
kemudian tobat lagi??? Berapa kali bangsa ini harus TOBAT.
   
  Langkah yang lebih TEPAT untuk TOBAT adalah yang mengusulkan untuk bertobat 
itu sendiri.
   
  smoga bangsa ini tidak akan melakukan pertobatan nasional !!!!!!!

Edy P <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Stephanus Mulyadi,

matur nuwun...panjenengan mengangkat seruan Amos ke ranah publik kesadaran 
untuk melakukan tobat. Saya juga sangat tertarik terhadap seruan para pemimpin 
kita untuk adanya tobat nasional. Seruan seperti itu selalu muncul ketika 
negeri ini ada dalam keterjepitan (tahun '80an, tahun 1997an, tahun 2000an dan 
sekarang 2007). 

Maksud saya, kalau situasi itu sudah juga menjepit para pemimpin kita, barulah 
mereka mengajak rakyat untuk bertobat. Tapi kalau keterjepitan itu hanya 
dirasakan oleh rakyat jelata, seruan tobat itu tidak ada atau tidak terdengar. 
Itu artinya apa?

Jangan-jangan itu bukan ajakan untuk bertobat (melakukan tobat sebagai gerakan, 
bukan sekedar penyadaran diri), melainkan seruan SUPAYA ORANG LAIN BERTOBAT 
tapi yang menyerukan atau mengajak tidak punya niatan untuk bertobat. Lha kados 
pundi menawi makaten?

Nuwun sewu.

Kirim email ke