2010-01-04
Gus Dur dan PGI
Andreas A Yewangoe
Saya tidak tahu pasti sejak kapan PGI melakukan kontak-kontak dengan Gus Dur.
Setahu saya, dalam Sidang Raya ke-11 PGI (1989) di Surabaya, Gus Dur tampil
sebagai panelis. Waktu itu saya mendampingi beliau dalam diskusi yang membahas
persoalan kemiskinan di Indonesia. Beliau adalah Ketua Tanfidziyah PBNU periode
1984-1989.
Seorang Ketua PBNU tampil sebagai panelis di sidang raya gereja-gereja, bukan
hal biasa waktu itu. Saya masih ingat bagaimana reaksi di kalangan dalam NU,
yang menyayangkan penampilan beliau di Sidang Raya itu. Beredar rumors,
penampilan itu bakal mempengaruhi pemilihan kembali beliau sebagai Ketua PBNU.
Tetapi, sebagaimana watak Gus Dur yang konsisten dengan prinsip yang telah
diyakininya, ia bergeming dengan semua itu. Bagi dia, persoalan kemiskinan yang
dibahas gereja-gereja pada waktu itu sangat tepat. Karena penduduk Indonesia
mayoritas beragama Islam, maka sudah pasti angka kemiskinan terbesar terdapat
di kalangan penduduk muslim. Maka, persoalan kemiskinan harus ditangani
lintas-agama.
Selain penampilan di Sidang Raya itu, setahu saya Gus Dur adalah seorang
pembicara tetap dalam seminar agama-agama (SAA) yang secara rutin
diselenggarakan oleh PGI. Bahkan, mengingatkan agar tidak lupa diundang dalam
SAA. Saya yakin, keinginan untuk tampil dalam seminar-seminar seperti itu bukan
semata-mata didorong oleh minat akademis, melainkan agar pemahaman terhadap
agama-agama makin diperluas dan diperdalam. Sedapat mungkin agama-agama
dipahami secara objektif, tanpa prasangka.
Dengan pemahaman objektif seperti itu, relasi antarumat beragama dapat lebih
diperkuat, bukan semata-mata secara emosional, melainkan juga dengan pemahaman
yang sedapat mungkin bisa diperiksa dan diverifikasi. Tentu saja itu tidak
berarti, bahwa segala sesuatu di dalam agama-agama bisa dijelaskan. Bahwa,
agama tetap menyisakan misteri, justru itulah salah satu watak penting
agama-agama. Tetapi, bahwa agama tampil di atas medan sejarah, dan dianut oleh
manusia yang juga menyejarah, bisa diperiksa, dan pemeriksaan yang tanpa
prasangka itu akan makin memperkuat relasi di antara umat beragama. Kesan saya,
Gus Dur sangat menyadari prinsip ini.
Islam yang Ramah
Bagi saya, beliau mampu menampilkan Islam yang ramah, Islam yang adalah rahmat
bagi seluruh alam, Islam rakhmatan li'l alamin. Sebagai demikian, Tuhan tidak
perlu dibela dengan perbuatan-perbuatan yang justru memperlihatkan kebalikan
dari sifat Tuhan Yang Maha Pengasih. Justru di dalam merefleksikan Islam
sebagai rahmat, maka Tuhan telah dibela. Ini keyakinan beliau yang tidak
tinggal di dalam wacana, melainkan justru sungguh-sungguh dibawa ke aras
praksis.
Dari Islam, bisa ditimba sekian banyak nilai bagi peradaban umat manusia.
Karena itu, beliau sangat terganggu nuraninya melihat orang diperlakukan tidak
adil, terutama mereka yang lemah. Maka ungkapan bahwa beliau adalah pembela
kaum lemah tidaklah berlebihan. Hal itu terlihat dalam advokasinya terhadap
penganut Konghucu. Beliau tidak segan-segan menghadiri sidang pengadilan
sepasang pengantin yang pernikahannya tidak diakui negara karena Konghucu bukan
agama "resmi". Bagi Gus Dur, agama mestinya tidak membutuhkan pengakuan siapa
pun, termasuk negara. Agama adalah agama, selama penganutnya meyakini demikian.
Kendati demikian, sebagai Presiden RI, beliau merasa perlu menyatakan pengakuan
terhadap Konghucu sebagai agama. Belakangan, di bawah Presiden Megawati Tahun
Baru Imlek menjadi hari raya resmi nasional.
Bagi umat Kristen, pembelaan beliau terhadap yang lemah sangat jelas. Ia sangat
konsisten dengan itu. Menyikapi berbagai penutupan gedung-gedung gereja di
beberapa tempat, Gus Dur menyampaikan pernyataan-pernyata an pembelaan, bahkan
cukup keras. Ketika sebuah gedung gereja di Depok dicabut IMB-nya oleh wali
kota, padahal sebelumnya telah diberikan, Gus Dur datang ke kantor PGI untuk
menyampaikan solidaritasnya. Sekaligus menyatakan kesediaannya menjadi saksi,
apabila dibutuhkan dalam gugatan yang dilakukan ke PTUN di Bandung.
Banyak sekali hal yang bisa diceritakan mengenai relasi PGI dan Gus Dur. Ketika
terjadi kerusuhan bernuansa agama di Ambon dan Poso, sebagai Presiden beliau
bersedia menerima PGI kapan saja. Kadang-kadang sedikit mengabaikan
aturan-aturan protokoler. Pernah kami (pada waktu itu Ketum PGI adalah Pdt
Natan Setiabudi) tidak sempat berpakaian yang "pantas" karena panggilan dari
Istana menyuruh kami datang segera. "Jangan sampai Gus Dur tidur lagi",
demikian pesan itu. Dengan berpakaian seadanya, kami tampil di sana. Itulah Gus
Dur, justru beliau memakai kain sarung saja. Bagi kami ini luar biasa. Istana
benar-benar menjadi rumah rakyat dalam arti sebenar-benarnya.
Sekarang beliau telah meninggalkan kita. Kita semua sangat berduka. Rasanya
sangat sulit dalam waktu dekat ini kita bertemu dengan orang semacam ini.
Tetapi, saya kira adalah kewajiban kita bersama meneruskan berbagai teladan
yang ditinggalkan Gus Dur. Selamat Jalan Gus Dur. Kami tidak mungkin
melupakanmu.
Andreas A Yewangoe
Penulis adalah Ketua Umum PGI