JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meraih 
penghargaan lifetime achievement Charta Politika Award 2009. Gus Dur dinilai 
sebagai sosok multitalenta yang berjasa dalam mendorong proses demokratisasi 
dan perlindungan hak asasi manusia dalam bingkai pluralisme. 

Penghargaan terhadap Gus Dur ini diberikan dalam Charta Politika Award 2009 
oleh lembaga konsultan politik Charta Politika yang digelar di Hotel Nikko, 
Jakarta, Senin (4/1/2010). Penghargaan ini juga merupakan kali pertama digelar 
oleh lembaga yang dipimpin oleh pengamat politik Bima Arya Sugiarto ini.

"Pemikiran dan gaya komunikasi Gus Dur yang spontan dan lugas telah berpengaruh 
besar. Charta Politika menilai Gus Dur telah menjadi seorang newsmaker yang 
sangat berpengaruh dalam dunia politik kita," kata Analis Politik Charta 
Politika, Arya Fernandes, kepada Kompas.com di sela-sela acara.

Charta Politika Award me rupakan bentuk penghargaan kepada tokoh-tokoh yang 
berhasil memengaruhi pembentukan opini publik melalui pernyataan mereka di 
media.

Selain memberikan lifetime achievement kepada mantan Ketua PBNU ini, Charta 
Politika juga menyerahkan penghargaan kepada lima tokoh lainnya dalam lima 
kategori, yakni kategori Pimpinan Lembaga Negara diraih Ketua Mahkamah 
Konstitusi Mahfud MD, Pimpinan Kementerian atau Lembaga Pemerintah 
non-Kementerian diberikan kepada Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Kategori 
Politisi dari Koalisi Pemerintahan diberikan kepada Ketua Fraksi Demokrat Anas 
Urbaningrum, Kategori Politisi Oposisi kepada Politisi PDI-P Maruarar Sirait, 
dan Kategori Aktivis dan Pengamat kepada Direktur Lingkar Madani untuk 
Indonesia Ray Rangkuti.

Seluruh tokoh yang mendapatkan penghargaan terlihat hadir dalam acara tersebut. 
Sementara untuk almarhum Gus Dur diwakili putri bungsunya, Inayah Wahid.

Arya Fernandes menjelaskan, penghargaan ini diberikan kepada tokoh-tokoh 
tersebut atas dasar penelitian survei media. Survei yang dilakukan dengan 
metode purposive sampling ini dilakukan di enam surat kabar nasional, yakni 
Kompas, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Republika, Rakyat Merdeka, dan Indo 
Pos.

"Mengapa kami memilih pada studi media, karena media sangat menentukan dalam 
membentuk pola pikir audiens. Survei Charta Politika sepanjang tahun 2009 
menunjukkan bergesernya pola komunikasi politik dari yang tradisional melalui 
mobilisasi massa menjadi komunikasi modern melalui perang opini di media 
massa," ungkapnya.

http://nasional.kompas.com/read/2010/01/04/20395485/.quot.Lifetime.Achievement.quot..untuk.Gus.Dur/all

Kirim email ke