Jakarta, Kompas - Tidak saja seorang ulama besar, tokoh pejuang kemanusiaan, 
dan tokoh politik, Abdurrahman Wahid juga penerobos pengelolaan laut Indonesia 
ketika masih menjabat sebagai Presiden RI keempat. Tahun 1999, ia mendirikan 
Departemen Eksplorasi Laut, cikal bakal Departemen Kelautan dan Perikanan 
sekarang.

Menteri Eksplorasi Laut saat itu, Sarwono Kusumaatmadja, menyebut Abdurrahman 
Wahid atau Gus Dur sebagai sosok yang sangat menguasai sejarah kemaritiman, 
jauh sebelum menjabat sebagai presiden. Dari penguasaan sejarah itu lalu 
memunculkan pemahaman kewilayahan dan akhirnya tahu Indonesia kurang 
memerhatikan masalah kelautan.

Karena itulah nama yang dipilih Departemen Eksplorasi Laut. "Gus Dur berhasil 
mengangkat isu kelautan ke permukaan karena nama itu. Waktu itu sama sekali 
bukan arus utama," kata Sarwono ketika dihubungi Jumat (1/1) malam.

Saat departemen dibentuk, lanjut Sarwono, urusan kelautan RI hanya di tingkat 
eselon dua atau direktur di bawah sebuah departemen. Itu pun terpencar-pencar.

"Penggunaan nama eksplorasi laut menyadarkan semuanya dan berhasil memancing 
kenyataan bahwa persoalan laut hingga saat itu ditelantarkan. Jalan pikirannya 
memang kadang tidak lazim, tapi sering kali dia yang benar dan dalam soal 
kelautan dia memang benar," kata Sarwono.

Sejak itu, berbagai penelitian dan pengembangan sumber daya laut banyak 
diungkap. Tahun 1999 pula, Direktorat Budidaya Perikanan di bawah Departemen 
Pertanian bergabung di bawah Departemen Eksplorasi Laut.

"Karena keberanian Gus Dur, persoalan nelayan dan pesisir turut terangkat. 
Dialah penyedia kendaraan menuju pengarusutamaan peran laut yang akhirnya 
dibelokkan menjadi eksploitatif oleh generasi berikutnya," kata Sekjen Koalisi 
Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik.

Bahkan, tahun 2006, setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, Gus Dur 
membantu langsung kesulitan nelayan tradisional Bengkalis, Riau, yang 
mengeluhkan kebijakan penggunaan jaring batu yang hanya menguntungkan pengusaha 
besar. Tak hanya menerima nelayan di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU), Gus Dur pun bertindak.

"Gus Dur menemui langsung Presiden Yudhoyono dan akhirnya Gubernur Riau 
mencabut kebijakan itu," kata Riza yang turut mendampingi nelayan waktu itu.

Ide brilian

Menurut Riza, pendirian departemen yang mengurusi laut Indonesia merupakan ide 
brilian. Dua pertiga luas kedaulatan Indonesia merupakan perairan laut dengan 
sumber dayanya yang melimpah.

"Ide itu berdampak besar, yang sebelumnya hanya didengung-dengungkan Indonesia 
sebagai negara agraris. Kenyataannya, berjuta-juta warga hidup di kawasan 
pesisir," katanya.

Berbagai data menunjukkan, perairan Indonesia merupakan rumah bagi spesies 
biota laut penting bernilai ekonomi tinggi, di antaranya lokasi pemijahan ikan 
tuna, enam dari tujuh penyu ada di Indonesia, rumput laut kelas dunia, dan 
ratusan jenis ikan hias ada di sana.

Karena kekayaan itu, tak sedikit nelayan dari negara lain mencuri kekayaan laut 
Indonesia. Peneliti-peneliti laut pun beberapa kali dipergoki meneliti secara 
tersembunyi biota laut Indonesia.

Menurut Sarwono, peran Gus Dur sangat besar dalam mengembangkan perhatian 
terhadap laut Tanah Air. Ia melanjutkan beberapa perjuangan yang telah 
dilakukan tokoh seperti Ir Djuanda dan negosiator hukum laut internasional, 
Mochtar Kusumaatmadja (alm) serta Hasjim Djalal.

"Kalau saja departemen kelautan tidak didirikan, kesadaran kemaritiman dan 
kelautan Indonesia sangat susah bangkit. Gus Dur memahami betul masalah itu," 
kata Sarwono.

Kontribusi budaya

Budayawan Radhar Panca Dahana, secara terpisah, mengatakan, Gus Dur tidak hanya 
pada masa menjadi presiden memberikan perhatian luas kepada dunia seni dan 
kebudayaan, tapi sejak awal tahun 1980-an. Pada masa itu, dunia seni dan 
kebudayaan sebenarnya mendapatkan jenderal baru, yang dengan senjata 
kata-katanya, rajin memperjuangkan posisi seni dan kebudayaan.

"Sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur berperan kuat mengusik kesenian 
untuk tidak asyik—sekaligus membusuk—di dalam tempurung egoismenya sendiri," 
kata Radhar.

Seniman Butet Kertaredjasa menilai Gus Dur menjaga nilai kemajemukan yang 
otomatis menjaga nilai kebhinnekaan.

"Pada era Gus Dur seni budaya berkembang tanpa ada lagi yang dilarang. Ia juga 
pemimpin yang tidak antikritik. Suatu kali, ketika saya mementaskan monolog 
dengan lakon 'Guru Ngambek' pada Hari Pendidikan Nasional tahun 2001, ia bisa 
menerima kritik. Ia tidak marah," kata Butet.

(GSA/NAL)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/03394442/gus.dur.penerobos.bidang.kelautan.

Kirim email ke