Oleh  Laode Ida

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/04/03230297/menghargai.dan.mencari.figur.pengganti.gus.dur



Dua hari menjelang akhir tahun 2009, warga bangsa ini ditinggalkan seorang 
tokoh besar, mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mantan 
Ketua Tanfidziyah PB NU selama 15 tahun (tiga periode) itu pergi untuk 
selamanya, hijrah ke alam baka memenuhi panggilan Sang Pencipta.

Yang merasa kehilangan atas kepergian Gus Dur tentu bukan saja kaum nahdlyin 
(warga Nahdlatul Ulama/NU), melainkan juga banyak pihak, utamanya bagi pencinta 
tegaknya nilai-nilai pluralisme di negeri ini. Bahkan, pada tingkat tertentu, 
ada kalangan minoritas yang sedikit gelisah lantaran membayangkan suasana 
psikologis yang bukan mustahil akan berbeda pada era pasca-Gus Dur.

Suasana kejiwaan sosial seperti itu memang wajar. Soalnya mereka sudah 
merasakan begitu signifikan dan selalu tulusnya cucu pendiri NU, KH Hasyim 
Asy'ari, itu memberikan perlindungan terhadap kalangan minoritas sehingga bisa 
menjalankan hak-hak budaya dan agama yang dianut secara baik. Bahkan, lantaran 
pemikiran dan sikapnya yang demikian konsisten dalam melakukan pembelaan 
terhadap elemen bangsa yang terusik hak-hak budaya, agama, dan politiknya itu, 
Gus Dur memperoleh kritik tajam atau berhadapan dengan kekuatan konservatif 
dalam pandangan agama dan sikap politik tertentu.

Namun, bukan Gus Dur namanya kalau gentar atau kendur dalam menghadapi semua 
kritikan dan kecaman yang tertuju kepadanya. Sebaliknya, ia semakin gigih 
dengan memperoleh dukungan luas baik dari elemen-elemen masyarakat demokrasi di 
Indonesia maupun mancanegara. Semuanya menjadi bagian dari penguat gerakan 
pemikiran dan budaya dalam rangka mendarah-dagingkan nilai-nilai kemajemukan 
sehingga suasana kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan selalu harmonis dan 
penuh toleransi.

Eksistensi pluralisme

Gagasan dan tindakan Gus Dur seperti itu sebenarnya merupakan ajaran 
nilai-nilai kebangsaan yang hakiki berangkat dari realitas sosiologis 
keindonesiaan, berangkat dari penghargaan yang tinggi terhadap hakikat dan 
eksistensi kemanusiaan. Kita tak bisa menghindarkan diri dari kenyataan 
multi-etnik dan komunitas dengan budaya dan agama masing-masing; yang 
sebenarnya sudah menjadi bagian dari fondasi filosofis bangsa ini: Bineka 
Tunggal Ika.

Tepatnya, ketika Gus Dur mengembangkan pemikiran dan gerakan sosial budaya 
untuk penghargaan terhadap eksistensi pluralisme, sebenarnya ia tengah 
melakukan penyadaran kepada masyarakat dan penyelenggara negara untuk terus 
memperkokoh bangunan keindonesiaan. Sebaliknya, bagi siapa pun yang 
menghalanginya, boleh jadi merupakan bagian dari segelintir warga atau elemen 
bangsa yang secara tak langsung berupaya merapuhkannya. Yang terakhir ini sudah 
pasti sangat tidak diinginkan.

Pemikiran kebangsaan dan perjuangan Gus Dur itu sudah sangat jelas dan 
seharusnya menjadikan rujukan bagi penyelenggara negara dan atau siapa pun yang 
berperan di ranah publik. Dengan demikian, tak perlu ada yang khawatir dengan 
menganggap "jangan-jangan roh Gus Dur tak menjelma atau masuk dalam kalbu para 
penentu kebijakan di negeri ini".

Masalahnya, memang, andai pun "ajaran Gus Dur" diakui eksistensinya, tetapi 
belum tentu ada yang secara berani mengimplementasikannya. Padahal, penghargaan 
terhadap Presiden ke-4 RI yang itu bukan hanya sekadar menganggapnya berjasa 
sebagai "pahlawan bangsa" dan atau istilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
sebagai Bapak Pluralisme, melainkan pada tingkat di mana ajarannya benar-benar 
diwujudkan dalam praktik hidup bermasyarakat dan bernegara. Tanpa itu, berarti 
sama halnya dengan mengabaikannya, hanya menjadikannya sebagai pelaku sejarah 
sosial dengan pemikirannya yang selalu menarik untuk dikaji, tetapi sulit atau 
luput diaplikasikan.

Kekhawatiran seperti itu pada dasarnya juga beralasan. Mengapa? Pertama, tindak 
lanjut perjuangan Gus Dur memerlukan figur berkarakter di mana, kalau mau jujur 
diakui, hingga sekarang kita masih sulit menemukannya. Kita memang memiliki 
banyak tokoh yang menonjol (prominent figures) dengan kapasitas individu yang 
kuat. Akan tetapi, (1) jarang yang memiliki keberanian untuk secara progresif 
tampil "melawan arus", berkorban untuk sebuah idealisme bernilai kerakyatan dan 
kebangsaan, dan (2) memiliki basis budaya dan massa yang jelas sebagai modal 
sosial dan back up politik.

Terlambat menyiapkan

Gus Dur merupakan sosok pemikir Islam, aktivis dan pejuang yang tanpa ragu 
berjuang untuk tegaknya kebenaran dan keadilan, dengan dukungan kapasitas 
individu dan basis sosial politik yang jelas (yaitu NU); di mana semua itu 
menjadikannya disegani oleh kekuatan-kekuatan konservatif yang berupaya 
mengganggu atau menghalanginya.

Kedua, agaknya jajaran NU sedikit terlambat dalam mempersiapkan sosok pengganti 
Gus Dur.

Barangkali pada saat posisi NU di bawah pengaruh Gus Dur begitu menonjol, para 
tokoh lain di jajaran NU lebih menikmatinya ketimbang merancang skenario 
regenerasi atau sirkulasi elite "dari NU untuk bangsa" secara berkelanjutan.

Gus Dur sendiri, dengan segala kelebihannya, terkesan mencengkeram NU untuk 
tetap berada di bawah "kekuasaannya" sehingga secara langsung ataupun tidak 
langsung menghambat peluang munculnya figur-figur alternatif dari NU. Padahal, 
di dalam warga NU, tanpa perlu menyebutkan namanya satu per satu, telah dan 
sedang bermunculan figur-figur terdidik dan potensial yang berpikiran progresif 
seperti halnya Gus Dur.

Kondisi sekarang ini, tak berlebihan kalau dikatakan bahwa baik NU maupun 
beberapa elemen bangsa ini tengah berada dalam transisi pencarian figur-figur 
"Gus Dur Baru" untuk melanjutkan perjuangannya.

Laode Ida Sosiolog, Wakil Ketua DPD RI, Artikel Ini Pandangan Pribadi

Kirim email ke