Oleh Budiarto Shambazy

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/0253398/.politik.luar.negeri.gus.dur



Sisi lain dari kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden adalah dominasinya dalam 
pelaksanaan politik luar negeri. Dominasi itu ditunjukkan "tur keliling dunia" 
yang menghabiskan 23 dari 40 hari pertama masa pemerintahannya, rekor baru yang 
fantastis dalam sejarah kepresidenan.

Wajar Ketua MPR Amien Rais dan Ketua DPR Akbar Tandjung mengkritik Gus Dur 
jangan terlalu sering melawat karena banyak persoalan domestik, seperti konflik 
Aceh. Gus Dur menjawab, tujuan tur mengembalikan nama baik Indonesia, berharap 
investor menanamkan modal lagi, dan mencari dukungan internasional terhadap 
keutuhan Aceh sebagai bagian dari kita.

Dominasi Gus Dur bukan penyimpangan politik luar negeri. Bung Karno dan Pak 
Harto juga figur dominan dengan gaya berbeda. Bagi mereka bertiga, menteri luar 
negeri pembantu aktif yang menjalankan diplomasi dan wajib mengikuti panduan 
kepala negara.

Ada beda sedikit: Pak Harto lebih bersikap pasif menyerahkan otoritas kepada 
para menlu, sedangkan Bung Karno dan Gus Dur jauh lebih aktif bukan cuma 
menentukan arah, tetapi juga nuansa-nuansanya.

Peranan kepala negara vital karena posisi politis dan geografis Indonesia yang 
amat strategis. Negara-negara Asia dan Afrika mengandalkan kepemimpinan 
Indonesia di Gerakan Nonblok, Asia Tenggara menempatkan kita sebagai saka guru 
ASEAN.

Saat Perang Dingin berkecamuk, Indonesia menjadi rebutan Blok Barat dan Timur. 
Barat menjalankan kebijakan subversif agar Indonesia tidak jatuh ke tangan 
komunis, China dan Uni Soviet ingin menjadikan kita sebagai satelit.

Dominasi Bung Karno tampak dari peranannya menggalang Konferensi Asia-Afrika, 
Gerakan Nonblok, dan Conference of New Emerging Forces (Conefo). Bung Karno 
bahkan memerintahkan Perwakilan Tetap RI di New York memutuskan Indonesia 
keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di tingkat regional, Bung Karno menggagas pembentukan poros Jakarta-Phnom 
Penh-Hanoi-Beijing-Pyongyang yang cenderung berkiblat ke Blok Timur. Sikap 
agresif Bung Karno ditunjukkan pula melalui politik konfrontasi terhadap 
Malaysia.

Dominasi Pak Harto tecermin dari perubahan orientasi politik luar negeri yang 
pro-Barat dan "diabdikan untuk pembangunan ekonomi". Bantuan dana untuk Orde 
Baru berdatangan dari negara-negara Barat berkat politik luar negeri yang 
antikomunis. Pak Harto memutuskan hubungan diplomatik dengan China.

Politik luar negeri Pak Harto berhasil menjaga kesinambungan kepemimpinan 
Indonesia di Asia Tenggara dengan melanjutkan gagasan Bung Karno mengenai kerja 
sama regional melalui pembentukan ASEAN lewat Deklarasi Bangkok 8 Mei 1967. Ini 
tindak lanjut dari cita-cita Bung Karno membentuk Association of Asian States 
(ASA) 31 Juli 1961 dan Maphilindo (5 Agustus 1963).

Parlemen Orde Lama dan Orde Baru tidak terlalu mempersoalkan dominasi kepala 
negara kecuali untuk isu-isu kontroversial. Keterlibatan aktor-aktor masyarakat 
terbatas karena tak begitu peduli dengan proses pengambilan keputusan politik 
luar negeri yang elitis.

Namun, saat Gus Dur memimpin, asumsi itu berubah. Globalisasi memaksa rakyat 
dan parlemen giat mengikuti perkembangan internasional dan regional yang 
berpengaruh terhadap situasi domestik. Tak mudah menilai sukses tur keliling 
dunia Gus Dur karena usia pemerintahannya yang pendek.

Pernyataan politik luar negeri perdana Gus Dur mengumumkan rencana pembukaan 
hubungan dagang dengan Israel.

Ada dua alasan: pertama, menggairahkan hubungan dengan lobi Yahudi. Indonesia 
paling tidak bisa minta tokoh Yahudi, George Soros, tak mengacaukan pasar 
uang/modal untuk menghindari krisis moneter. Kedua, meningkatkan posisi tawar 
Indonesia menghadapi Timur Tengah yang tak pernah membantu Indonesia mengatasi 
krisis moneter.

Melalui Menlu Alwi Shihab, Gus Dur setidaknya mengintrodusir tiga elemen 
politik luar negeri. Pertama, menjaga jarak sama dengan semua negara, kedua 
hidup bertetangga baik, dan ketiga "kebajikan universal".

Seperti Bung Karno, Gus Dur berambisi mewujudkan "poros kekuatan" di Asia. Ia 
sempat memulai prakarsa tersebut dengan menggagas Forum Pasifik Barat yang 
terdiri dari Indonesia, Timor Timur, Papua Niugini, Australia, dan Selandia 
Baru yang sempat disuarakan ke sembilan negara ASEAN.

Masih segar dalam ingatan, Gus Dur membujuk Singapura menyetujui pembentukan 
Forum Pasifik Barat dalam KTT ASEAN di Singapura, November 2000. Menteri Senior 
Lee Kuan Yew menolak permintaan itu. Wajar jika Gus Dur langsung ngamuk, 
membuat Singapura gempar.

"Pada dasarnya orang Singapura melecehkan Melayu. Kita dianggap tak ada. Lee 
Kuan Yew menganggap saya sebentar lagi turun (dari jabatan presiden). Singapura 
mau enaknya sendiri, cari untungnya saja," kata Gus Dur.

Sebelum itu Gus Dur mengemukakan pembentukan poros (axis) 
Indonesia-China-India. Tak lama kemudian ia memprakarsai pula poros ekonomi 
Indonesia, Singapura, China, Jepang, dan India. Sayang, sejumlah negara 
Barat—dan beberapa sekutu mereka di kawasan ini—merasa khawatir dengan fenomena 
"kebangkitan Asia" ala Doktrin Wahid ini.

Melalui Mensesneg Bondan Gunawan, Gus Dur minta bantuan saya dan sejumlah teman 
untuk merumuskan pembentukan organisasi Dewan Keamanan Nasional. Sebagai 
presiden, Gus Dur berkeinginan setiap sarapan sudah di-brief tentang 
perkembangan politik dan keamanan regional/internasional yang mutakhir dan apa 
yang harus dilakukan pemerintah.

Pada hari-hari itu kami bangga menjadi warga Merah-Putih karena tekad besar Gus 
Dur mengembalikan pamor Indonesia sebagai kekuatan menengah yang sedang 
tercabik oleh krisis moneter, konflik sosial, dan proses disintegrasi. Ia 
seorang visioner, ilmuwan, praktisi, sekaligus presiden luar negeri yang 
mungkin sukar kita temukan lagi.

Kirim email ke