Oleh Abdul Munir Mulkhan

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/04455193/gitu.aja.kok.repot-nya.gus.dur



Pernyataan yang sering dipakai Gus Dur untuk mengomentari persoalan, sikap 
seseorang, atau lembaga, "Gitu aja kok repot", mengesankan sikap permisif. 
Mungkin itu pula komentarnya terhadap ribuan pelayat dan penziarah yang ingin 
mendekap makamnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, orang seperti Gus Dur tentu mulus melewati 
berbagai sensor malaikat di alam kubur. Boleh jadi seloroh penuh makna itu 
merupakan kunci suksesnya juga di alam pascaduniawi ini.

Menjelang malam tiba saat matahari melangkah ke pintu peraduannya hari Rabu, 30 
Desember 2009, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI, 
berpulang ke haribaan Allah, meninggalkan kita semua dalam labirin kehidupan 
tanpa ujung. Namun, seloroh dan canda guraunya yang selalu membuat pendengarnya 
tertawa lepas tercerahkan sehingga tak pernah lupa lelucon segarnya, bukan 
hanya karena lucu, tetapi juga karena penuh makna, akan selalu menyertai kita 
pada hari- hari menyusuri lorong tersebut. Tampak samar, tetapi jelas secercah 
cahaya di ujung labirin yang disulut Gus Dur itu bagaikan Sang Guru di depan 
ruang kelas yang sedang mengajar tentang kemanusiaan dan kebangsaan.

Begitulah, kenyelenehan Gus Dur sering melahirkan beragam tafsir yang keliru 
atau sama-sama benar ketika kata dan kalimat yang beliau pakai menerobos 
pemaknaan konvensional. Orang sering itu sebut sebagai perilaku "wali" yang 
nyulayani adat (unik) atau tampilan manusia bukan hanya di maqam (tahapan sufi) 
tertinggi, tetapi juga melampaui maqomat.

Gus Dur dengan penuh percaya diri mengaku sebagai memiliki darah China, Dayak, 
Pasundan, Batak, darah segala suku dan etnis yang terasa aneh dan tidak masuk 
akal bagi banyak orang. Namun, itulah cara Gus Dur berempati dengan segala 
ragam budaya dan etnisitas, juga religiusitas. Tokoh puncak NU ini dengan 
enteng menyatakan kekagumannya kepada tradisi organisasi Muhammadiyah, akan 
mengembangkan tradisi itu saat berhadapan dengan aktivis gerakan ini tanpa 
kehilangan ke-NU-annya.

Syekh Siti Jenar

Wafatnya Gus Dur menyentak kita semua meski sudah cukup lama beliau sakit. 
Suasana itu membawa penulis menerawang ke masa pertama bertemu di sebuah hotel 
di kawasan Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, sebelum Gus Dur menjabat Ketua PB NU. 
Kenangan ini menuntun penulis ke masa-masa bercanda di sekeliling meja kerja 
Gus Dur di kantor PB NU bersama Ahmad Dhani, Holland Taylor (CEO LibForAll), 
dan beberapa wartawan.

Cengkerama sesaat setelah LibForAll Foundation memberi penghargaan kepada si 
Raja Dewa, Ahmad Dhani, tiba-tiba disela pernyataan seorang teman, "Gus, inilah 
orang yang memopulerkan kembali Syekh Siti Jenar!" sambil menunjuk dan menyebut 
nama penulis. Gus Dur berkata, "Mas Mulkhan!" begitu Gus Dur memanggilku, "dari 
garis ayah, saya ini keturunan Syekh Siti Jenar lho!" Saya pun segera 
menimpali, "Wau, kalau begitu Gus Dur sesat!" setengah menghardik walaupun 
jujur saya sedikit khawatir menunggu reaksinya. "Biar saja, gitu aja kok 
repot," kata Gus Dur seperti tak peduli yang membuat kami semua tertawa lepas. 
Inilah keunikan sikap Gus Dur yang sulit dicari padanannya di negeri ini.

Beberapa tahun kemudian, penulis bertemu kembali dengan Gus Dur dalam seminar 
tentang Pancasila di Universitas Parahyangan, Bandung. Tiba gilirannya, Gus Dur 
menjelaskan bahwa dirinya adalah keturunan raja-raja Pasundan. Ketika seorang 
ahli sejarah Pasundan meragukan dan meminta informasi tentang referensi 
kebenaran pernyataan Gus Dur tersebut, dengan enteng Gus Dur menjawab bahwa 
sumbernya ialah Ki Juru Kunci. Mendengar penjelasan tersebut, peserta seminar 
pun tertawa lepas. Lebih lanjut, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya merupakan 
keturunan Kiai Kasan Besari dari Tegalsasi Ponorogo, guru sang pujangga 
Ronggowarsito.

Tak mau kalah dengan Gus Dur, penulis segera berkata, "Jelek-jelek Gus, saya 
ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari." Mendengar itu, Gus Dur hanya berdehem 
kecil. Penulis melanjutkan, "Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya 
adalah Ki Juru Kunci." Spontan Gus Dur berkata, "Wah, yen ngono awake dewe iki 
sih sedulur, sih sedulur! (Wah, kalau begitu kita ini masih saudara/ 
keluarga!)."

Beberapa minggu kemudian muncul tulisan Gus Dur di sebuah harian ibu kota 
tentang Islam kebangsaan dan kemanusiaan. Dari Kiai Kasan Besari itu, urai Gus 
Dur dalam artikel itu, lahir generasi Islam kebangsaan dan kemanusiaan melalui 
dua alur, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari alur NU lahir 
beberapa ulama besar yang menurunkan tokoh seperti Gus Dur sendiri. Sementara 
dari alur Muhammadiyah, menurut Gus Dur, menurunkan elite gerakan seperti Kahar 
Muzakkir, Syafii Ma'arif, dan penulis sendiri. Begitulah gaya Gus Dur 
menjelaskan nilai-nilai Pancasila dan Islam yang rumit menjadi sebuah kisah 
yang yang mudah dicerna, diingat, dan dipahami oleh semua kalangan.

Nasionalisme Islam yang humanis, toleran, dan pluralis, menurut Gus Dur, bisa 
dilacak dari kisah sejarah dan legenda tentang Kiai Kasan Besari tersebut. 
Itulah barangkali salah satu warisan paling berharga Gus Dur yang perlu 
dicermati dan dikembangkan.

"Selamat jalan, Gus!" Semoga kelak kita dipertemukan dalam perjamuan Tuhan di 
kampung surgawi. "Gitu aja kok repot!"

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Mantan Wakil 
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Anggota Komnas HAM

Kirim email ke