Berikut kutipan dari www.Kompas.com / Blog Kompasiana

Kafi Kurnia |  6 Januari 2010  |  08:37



Saat itu terdengar gossip, Megawati dan SBY berseberangan dan cekcok, saya 
meramal SBY akan jadi musuh dan bersaing dengan Megawati di Pemilihan Presiden. 
Seorang petinggi partai yang mendengar ramalan saya mencibir. Menurutnya tidak 
akan ada calon wakil presiden yang pas bergandeng dengan SBY. Waktu itu saya 
menjawab enteng, bahwa Jusuf Kalla bisa saja menjadi kuda hitam yang 
berpotensi. Ramalan saya benar-benar kejadian. Dan SBY terpilih menjadi 
presiden.


Tak lama kemudian, seorang cenayang berbisik, ramalan-nya SBY bakal terpilih 
lagi setelah menyelesaikan periode pertama. Saat itu giliran saya yang 
mencibir. Karena perhitungan saya, dengan dinamika demokrasi Indonesia yang 
begitu cepat, bakal muncul bakat-bakat baru yang luar biasa untuk tampil 
kedepan. Ternyata perhitungan saya meleset. Pimpinan Nasional Indonesia enerji 
dinamisnya melambat. Dan partai politik gagal merapatkan barisan dan 
memperkokoh ‘leadership’-nya. Hampir semua dirundung konflik dan banyak yang 
pecah dan menciptakan partai sempalan baru.


Sebelum kampanye mulai, seorang wartawan bergosip, bahwa kubu SBY sangat 
percaya diri. Sehingga muncul anekdot bahwa SBY pasti menang biar-pun calon 
wapres-nya adalah sendal jepit sekalipun. Tak lama kemudian Jusuf Kalla membuat 
deklarasi bahwa ia akan maju ke pemilihan presiden. Konon Jusuf Kalla membuat 
deklarasi itu gara-gara ia tahu tidak akan dipinang lagi oleh SBY. Maka langkah 
itu dibuatnya sebagai langkah agresif agar tidak ‘kehilangan muka’. Kalau kita 
meminjam ‘wisdom’ dari Jendral Perang SUN TZU yang hidup 400 tahun sebelum 
Masehi dan teori perang-nya, maka SBY telah melakukan kesalahan fatal yang 
pertama, karena menurut SUN TZU : “Keep your friends close, and your enemies 
closer.” Artinya kalaupun SBY ingin maju tanpa Jusuf Kalla di periode ke dua, 
mestinya ada skenario cantik untuk SBY merangkul Jusuf Kalla agar lengser tapi 
tetap mendukung SBY dan menambah kekuatan. Bukan menjadi potensi kompetitor, 
walaupun kubu SBY sudah
 berhitung bahwa Jusuf Kalla tidak akan punya kesempatan menang.


SUN TZU sendiri memiliki 5 kalkulasi untuk bisa menang perang yakni;

Pertama yang disebutnya The Way. Yaitu ideologi dan kebersamaan visi dan misi 
agar semua prajurit mengikuti perintah atasan-nya dengan baik dan sempurna. 
Tanpa motif yang berbeda-beda. Tanpa ada ancaman pihak-pihak yang berkhianat 
dan menyebrang ke pihak musuh.

Kedua, yang disebutnya The Heaven, yaitu faktor alam dan lingkungan. Bertempur 
di musim hujan dibanding dengan musim panas jelas akan beda.

Ketiga adalah The Ground, atau medan pertempuran.

Ke-empat adalah The General, yaitu kualitas sang pemimpin atau jendral yang 
memimpin perang dengan memperlihatkan ke suri tauladan, dengan kredibilitas, 
pengabdian, keberanian dan disiplin. Semua merupakan tampilan seorang pemimpin 
yang adil bijaksana.

Kelima adalah The Law, yaitu manajemen perang itu sendiri. Bagaimana mengatur 
kesejahteraan prajurit dengan logistik dan organisasi yang teratur dan 
sempurna. Setiap pihak yang ingin menang mutlak melakukan kalkulasi kelima 
elemen ini dengan cermat. Gagal berhitung akibatnya akan fatal, begitu 
peringatan SUN TZU.


Untuk bisa menang menjadi Presiden dalam sebuah pemilu di Indonesia jelas tidak 
akan pernah murah. Lihat saja iklan para calon presiden dalam pemilu yang lalu. 
Dan hitung saja berapa biaya-nya memasang iklan di koran, radio dan televisi. 
Belum lagi bendera, baliho, poster, selebaran dan billboard. Seorang praktisi 
periklanan mengatakan bahwa minimal kampanye se-intensif pemilu baru akan 
efektif dengan biaya diatas 500 milyar. Belum lagi biaya-biaya kampanye di 
daerah-daerah, seperti biaya perjalanan, biaya mengumpulkan massa, biaya artis, 
panggung, menyewa tempat, dan biaya-biaya logistik seperti upah dan gaji ‘event 
organiser’ dsbnya. Bisa jadi jumlahnya jauh berlipat ganda. Belum lagi ‘fee’ 
untuk konsultan komunikasi, konsultan PR, dan konsultan tim kampanye. Pasti 
tidak akan sedikit. Seorang teman saya memperkirakan biaya 2 trilyun untuk 
sebuah kampanye yang lengkap dan efektif.


Nah, biaya logistik sebesar itu tentu saja tidak akan datang dari kocek pribadi 
calon presiden. Pasti juga tidak datang dari langit. Demokrasi di Indonesia 
akan sehat, kalau para partai politik punya sumber keuangan yang sehat datang 
dari iuran para anggotanya. Sehingga partai politik tidak usah pusing 
memikirkan logistik dan sibuk mencari uang kanan dan kiri. Efeknya akan ada 
oknum yang selalu mengatas namakan partai politik dan menjual nama partai 
politik untuk berbisnis. Karena partai politik tidak pernah transparan 
menjelaskan dana logistiknya, jadi jangan heran kalau ada kecurigaan dan gosip 
macam-macam. Seorang teman wartawan secara humor mengatakan kepada saya, bahwa 
andaikata buku “Gurita Cikeas” yang heboh itu benar adanya, maka terlihat jelas 
bahwa SBY masih meniru cara-cara Suharto dalam mengelola logistik lewat 
Yayasan. Ini cara yang kuno. Mestinya SBY dan timnya punya cara-cara inovatif 
untuk ‘reinventing the system’. Jadi kesimpulan
 saya, SBY gagal berhitung secermat nasehat SUN TZU.


Barangkali itu sebabnya semua keruwetan yang sedang terjadi saat ini, adalah 
akibat sistim operasional yang banyak bolongnya. Mulai dari skandal Bank 
Century sampai pada cerita kemewahan Toyota Crown Royal untuk para menteri, SBY 
kelihatan ‘keteter’ mengurusi komunikasi dan PR. Dalam teori klasik The 36 
Stratagems, strategi nomer 13, berbunyi “mengebrak rumput untuk mengusir sang 
ular”. Strategi ini memiliki pola pikir yang sederhana dan efektif. Kalau musuh 
tidak terlihat, ibarat ular yang tertutup rumput, maka kita membuat aneka 
keributan untuk membangungkan ular dan sekaligus mengetahui posisinya dimana. 
Ular panik, membuat kesalahan dan mudah diserang. Itu teorinya. Kalau SBY 
sampai terpeleset gara-gara strategi ini, rasanya akan konyol ‘banget’.


Akhirnya saya sempat ketemu dengan cenayang yang meramalkan SBY akan terpilih 
kedua kalinya. Iseng-iseng saya tanya apa ramalan-nya. Beliau mengatakan SBY 
cuma punya waktu satu bulan lagi. Almanak Cina tahun 2009 berada dalam zodiak 
tahun Sapi, dimana kebetulan SBY juga berulang tahun ke 60, September lalu dan 
karena SBY juga lahir di zodiak tahun Sapi maka tahun 2009 memang tahun puncak 
SBY. Masalahnya setelah 14 Pebruari 2010, zodiaknya berganti dengan zodiak 
tahun macan metal. Dan ini tidak akan menguntungkan SBY. Tahun 1998, dimana 
merupakan tahun reformasi Indonesia, juga berada di zodiak tahun macan, dan 
biasanya tahun gonjang ganjing dengan sejumlah perubahan besar. Sang cenayang 
memberi nasehat bahwa SBY harus bermain sulap secara nasional kolektif untuk 
menambal semua kebocoran dan menyelesaikan semua permasalahan tuntas sebelum 14 
Pebruari 2010.


Lalu saya tanya apa jadinya bila SBY gagal membereskan masalah dalam satu bulan 
kedepan ? Sang cenayang cuma menarik nafas dalam-dalam. Menurutnya sang 
skenario bisa sangat bervariasi dan runyam. Bisa saja opisisi SBY minta SBY 
mengorbankan orang-orang tertentu. Dan terjadi reshufle kabinet, dengan poros 
kekuatan koalisi berubah. Partai politik tertentu akan lebih berkuasa di 
kabinet dan di senat. SBY bisa menjadi sangat lemah dengan posisi tawar yang 
tidak menguntungkan. Atau kalau SBY kembali cermat berhitung ala SUN TZU, SBY 
bisa membalik situasi dan bertambah kuat. Sebuah tantangan yang tidak mudah !



Kirim email ke