Berikut kutipan dari www.kompas.com / Blog Kompasiana Daniel Ronda | 2 Januari 2010 | 15:42
John F. Keneddy: “Courage – not complacency – is our need today. Leadership not salesmanship.” Banyak yang melukiskan Gus Dur tidak cocok jadi pemimpin (maksudnya presiden) namun tepat sebagai ulama, bapak demokrasi dan bapak bangsa yang mengayomi semua suku dan agama. Dualisme ini banyak dipercaya tentang pribadi Gus Dur. Namun saya tidak setuju dengan gamblang pandangan ini. Memahami kepemimpinan seharusnya tidak membedakan apakah dia menjadi presiden, ulama, bapak bangsa dan sederet lainnya, semuanya adalah berbicara tentang pemimpin. Seharusnya dikatakan Gus Dur adalah seorang pemimpin, tetapi dapat dikatakan “gagal” menjadi presiden. Adalah Prof Dr Tjipta Lesmana yang menulis buku tentang komunikasi politik presiden-presiden RI: “Dari Sukarno Sampai SBY” terbitan Gramedia. Salah satunya bicara juga soal Gus Dur. Tesis Prof Lesmana bahwa komunikasi yang baik menghasilkan kepercayaan (trust) dan pada akhirnya menghasilkan kepemimpinan yang efektif. Dia juga menyoroti Gus Dur, dan walaupun berimbang kajiannya antara yang positif dan negatif komunikasi politiknya GD, tetapi dia lebih banyak menyoroti soal kelemahannya terutama pengaruh pembisik, marah, mudah berubah dan masalah kesehatan akibat kurang tidur yang berdampak pada efektivitas kepemimpinannya. Namun kajian ini hanya sebatas pemimpin sama dengan presiden. Bagi saya GD adalah pemimpin dan tugas presiden adalah salah satu tugas yang pernah dialaminya di dalam kepemimpinan yang panjang. “Gagal”nya mengakhiri tugas presiden tidak membuat GD bukan pemimpin. Malah, dia memang “truly leader”. Bagi saya kepemimpinan GD tidak bisa ditelaah hanya pada waktu menjadi memagang jabatan atau memimpin, tetapi harus dilihat sejarah pembentukan seorang pribadi GD sejak awal. Di samping proses panjang, maka konteks kepemimpinan waktu itu membutuhkan figur pemimpin yang berbeda. Jadi kita tidak bisa menilai kepemimpinan secara normatif dari kacamata di mana situasi saat ini menilai situasi masa di mana seseorang memimpin. GD sudah ditempa dalam proses kepemimpinan yang panjang dan unik. Saya sebut unik, karena dia memulai dengan teologi dan mengakhiri di politik. Gelar agamawan seperti Kyai, ulama, pemimpin NU, dan kemudian guru bangsa adalah didapat dalam proses pembentukan kepemimpinannya. Pengalaman kepemimpinan tidak bisa diremehkan. Dan yang khusus lagi, dia adalah keturunan tokok ulama ternama dan diperhitungkan dalam perpoltikan nasional yaitu cucu pendiri NU. Campuran antara keturunan dan proses panjang menghasilkan seorang GD yang komplet. Bahkan saya senang dengan GD karena ulasan sepakbolanya di surat kabar sangat piawai (sama piawainya dengan Sindunata). Ia juga pencinta seni, termasuk cita rasa akan musik klasik yang hebat dan saat yang sama bisa menikmati musik rakyat Pantai Utara Jawa yang sarat dengan pergulatan dan penderitaan kehidupan. Salah satunya lagu “Remang-Remang”… Uuh, sebuah pribadi yang unik dan komplet. Bagaimana ketika kemudian menjadi presiden yang begitu banyak kontroversi? Ingat GD dipilih karena konteks saat itu memerlukan figur pemersatu, karena situasi saat itu masih ada konflik agama, dan masalah kewilayahan yang meminta merdeka. Kecurigaan kelompok, suku dan agama sangat tinggi sekali. Ada kaum minoritas mulai melihat ada pergerakan bangsa diarahkan ke negara berdasarkan agama. Ketidakpercayaan sangat tinggi. Ada kelompok Islam sendiri melihat Islam zaman Pak Harto telah memanipulasi mereka dan saat ini adalah kesempatan yang ingin memaksimalkan perjuangan. Dalam situasi tidak saling percaya ini, maka tokoh GD adalah tokoh yang tepat menjadi presiden waktu itu. Pemimpin-pemimpin lain pada waktu era reformasi lebih plin-plan, pejuang yang diharapkan memperjuangkan bangsa dan semua golongan masih dipenuhi dengan strategi melindungi diri dan takut dicap membela salah satu kelompok. Semua pemimpin pada waktu sangat berhati-hati. Tidak demikian dengan halnya GD yang berdiri di tengah-tengah, sehingga dengan cepat dianggap dia adalah figur yang bisa mempersatukan. Poros tengah pun tampil memenangkan GD, yang kemudian juga menurunkannya. Soal setelah menjadi presiden, kegagalan menjadi manajer dan kepala pemerintahan harus diakui. Ia sendiri memang telah memiliki gaya kepemimpinan kyai yang egaliter, apalagi juga karena faktor penglihatannya juga penghambat efektiviatas. Namun siapakah yang tidak memiliki kelemahan? Ketika dia harus diturunkan diganti ada perasaan campur aduk dalam diri saya. Satu sisi menyayangkan mengapa tidak sampai selesai memimpin, namun satu sisi memang kekacauan negara membutuhkan tumbal, dan GD “rela” mengalaminya. Justru yang hebatnya GD malah tidak melakukan apa yang diancamkan sebelumnya. Ia melambaikan tangan dengan celana pendek di istana pada waktu dia diturunkan. Sebagai rakyat, rasanya sedih dan bercampur aduk waktu itu. Bagi saya dia tetap pemimpin dan dia tepat menjadi presiden. Hanya orang di sekitarnya tidak menopang kepemimpinannya. Orang di sekitarnya malah ada yang memanfaatkan peluang ini untuk saling menjegal dan mendapatkan keuntungan. Sebagian pemimpin waktu itu memang waktu itu tidak sabar melihat pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Akhirnya GD diturunkan! Mimpi saya ketemu GD untuk salaman tidak akan pernah tercapai. Namun saya berharap banyak belajar dari dia sebelum semuanya berlalu didiskusikan. Setiap pemimpin terlahir dan berkarya dalam zamannya. Jangan sampai jejak ini hilang begitu saja, bersamaan dengan kepergian GD. Kepemimpinan GD mengingatkan saya tentang pentingnya keberanian, dan tidak hanya jaga citra semata. Teringat kata John F. Keneddy: “Courage – not complacency – is our need today. Leadership not salesmanship.” Dan ini ada pada diri GD. Selamat jalan!
