Skedar berbagi saja. Anak saya berumur 9 tahun di kelas tiga sd swasta nasional di bandung. yang juga mengalami hal yang sama ketika berhadapan dengan urusan sekolah dan belajar. Anak saya selalu menangis ketika mulai disuruh mengerjakan PR. Dia akan akan selalu mengatakan "I hate School" dan saya tambahkan sebagai ayah yang santai saja menghadapi semuanya "School is my jail" dan ibunya yang kelimpungan karena saya dan anak saya sangat santai menghadapi urusan sekolah.
Puhak sekolah mungkin juga sudah menyadari bahwa apa yang diberikan kepada anak muridnya sudah terlalu padat. Sehingga pihak sekolah memutuskan untuk membatasi jam belajarnya dari jam 7.30-12.00 dari hari senin-jumat dan sabtu hanya untuk kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan anjuran dari Depdiknas Jawa Barat. Anak saya juga memiliki kesibukan lain di luar urusan sekolah. Saat ini anak saya mengikuti kursus kumon, les bahasa inggris dua kali seminggu dan les berenang sekali seminggu. Untuk kumon yang dijalaninya sudah hampir setahun, juga mengalami kejenuhan. Dan seperti biasa ibunya mulai protes, sementara saya, sang ayah, dengan santai menanggapi bahwa anak kami mungkin lagi jenuh. kasih istrahat saja. Memang pada prinsipnya saya tidak mengharapkan anak saya memahami semua hal. Ada beberapa yang saya tekankan dengan cara persuasif. Les bahasa Inggris adalah saya tekankan kepentingannya buat masa depannya dan kebetulan sekali anak saya menyukainya. Les kumon sebenarnya hanya mengikuti trend yang saya tidak bisa tolak dan istri saya yang juga mengatakan semua anak-anak ikut les kumon. Sementara les renang, disamping untuk kesehatannya, pertumbuhannya dan juga relaksasinya, juga untuk soft skill yang diperlukan untuk masa depannya seperti yang saya alami sekarang yang bekerja antar pulau. Semua pelajaran sekolah yang diberikan kepadanya tidak saya harapkan dia memahaminya. Saya jelaskan kepadanya dan kepada ibunya. Karena memang apa yang saya lihat dan alami, banyak yang tidak berguna dan tidak teraplikasikan di masyarakat. Saya mengatakan kepada anak saya, bahwa kalau kamu suka satu bidang, maka kamu berfokus disitu. Kalaupun anak saya mendapatkan nilai 5 dipelajarannya, saya tidak akan memarahi dia. Saya akan tanyakan kenapa dan cukup sampai disitu. Saya sadari bahwa dia mempunyai kemampuan terbatas dan juga perlu tumbuh dengan wajar tanpa banyak menghabiskan energi untuk berfikir keras, stress dan tertekan. Aku tidak bisa membayangkan bahwa anak saya harus 'gila' karena sekolah. Saat ini saya terus mencari apa bakat dan kesenangan dia yang paling menonjol dan itu yang akan saya fokuskan. saya tidak berharap bahwa angka-angka sembilan berbaris di buku rapotnya. Ada satu perbedaan yang saya lihat ketika anak saya memberikan rapornya. Apabila dia memberikannya kepada ibunya, ada ketegangan tersendiri jika ada angka 7 di dalamnya. Kalau anak saya menyerahkannya kepada saya, dia akan bilang dengans santai dan senyum, "Maaf ya Pah! Ada nilai tujuhnya". Aku akan jawab sambil memeluknya,"Ga pa pa, sayang!" selanjutnya dia akan bilang," Mama means cerewet and papa means fun." Saya memang merasakan bahwa beban anak-anak didik berdasarkan kurikulum yang ada sangat berat. Kurikulum Berbasis Kompetensi itu sangat tidak jelas cara penerapannya. Setiap sekolah tidak memiliki sumber daya yang sama untuk menjalankannya. Saya pernah aktif di bimbingan belajar dan bagaimana saya melihat KBK itu tidak akan bisa diterapkan karena membutuhkan sarana dan prasarana yang sangat besar. Pengalaman saya ketika ke sebuah SMA di Lampung. Pelajaran Bahasa Inggris per KBK mengharuskan siswa untuk mampu berbahasa Inggris di akhir semester. Yang mengherankan adalah tidak ada sarana pendukung. Lab bahasa misalnya. Hanya sebuah buku pelajaran, LKS dan guru yang sumpah mati kemampuan bahasa Inggrisnya sangat tidak memadai. Ini baru satu pelajaran, bagaimana dengan biologi, fisika, kimia dan lainnya. Sangat tidak masuk akal. Yang dilakukan oleh guru adalah mencekoki anak-anak dengan teori-teori yang mengambang dan tidak membumi. Ketika guru mengatakan alveoli, anak hanya membayangkan dan tidak memahaminya hanya karena tidak ada manekin atau apa namanya yang menggambarkan bagian2 tubuh manusia di lab sekolah tersebut. Jadi semboyan saya dan anak saya "I hate school" dan "School is my jail" akan tetap saya pakai dan hargai sebagai suatu protes terhadap sistem pendidikan kita yang sangat tidak membumi. Mengambang dan hanya temporer. Kejar tayang di akhir semester. Trimakasih. Rinsan Tobing "*Ayah yang tidak perduli dengan nilai kimia anaknya 5, karena anaknya menyukai seni"* ** Di rumah sebenarnya media belajar On 14 Mar 2007 01:49:47 -0700, [EMAIL PROTECTED] < [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Friends, > Karena ini surat terbuka, maka silakan disebarluaskan! > > SUARA PEMBARUAN DAILY Jum'at, 17 Juni 2005 > --------------------------------- > Surat Terbuka kepada Mendiknas: > > Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius! > > BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah me-layangkan surat ini ke > lembaga Bapak. > Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh orang yang penting, > melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah yang merasa > prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar kemungkinan Bapak tidak > akan menerima surat ini. > Atau, kalau toh Bapak menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak > bersedia membacanya. > > Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini "surat > terbuka" yang dapat dibaca oleh semua orang, > khususnya para ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan > dan pengajaran di > sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab, menurut saya, apa > yang terjadi pada anak saya > lebih kurang dapat juga dirasakan pada anak-anak seusianya. > > Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi ujian > kenaikan kelas. > Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang cukup terpandang di daerah > Jakarta Timur. > Akan tetapi semenjak dua-tiga bulan terakhir, kata "sekolah" dan "belajar" > > baginya telah menjadi hantu yang > sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei lalu, tepat pada "Hari > Pendidikan Nasional", misalnya, > anak saya menyatakan mogok pergi ke sekolah. Alasannya sederhana: "Aku > benci sekolah!" Sebagai orangtua, saya > memang dapat memaksa agar dia tetap pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, > > model pemaksaan seperti itu tidak akan memecahkan persoalan. > Jadi saya membiarkan ia tidak pergi ke sekolah, dan menjadikan hari itu > sebagai kesempatan untuk mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah. > > Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya > sebagai orangtua. > Pertama-tama dia berkeluh kesah tentang begitu banyak mata pelajaran yang > harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia tahu untuk > apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata "telan mentah-mentah" sengaja > saya pilih, karena hanya itulah padanan yang paling tepat bagi system > pengajaran yang (masih terus) mengandalkan pada "hafalan mati" - walau pun > > sudah begitu banyak kritik pedas ditujukan pada sistem seperti itu. > > Standar Kurikulum Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK > (Kurikulum Berbasis Kompetensi) > dan "otonomi khusus" masing-masing sekolah. > Akan tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha > memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agar tidak dinilai > "ketinggalan" dari sekolah-sekolah "favorit". Apalagi, dalam sistem KBK, > faktor pendidikan guru sebagai "fasilitator" (perhatikan: bukan sebagai > guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan!) akan sangat > menentukan. > KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terbuka, > > seperti internet, fasilitas perpustakaan, lingkungan yang > memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah mata pelajaran > tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua asumsi itu, pada > praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah > pada umumnya. > Alhasil, sistem "telan mentah-mentah" kembali merajalela. Mari saya beri > contoh konkret. Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling > tidak harus "menelan" 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan > khas daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan > PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta - untuk siswa di Jakarta). > > Itu berarti, setiap siswa harus "menelan mentah-mentah" setidaknya 15 buku > > - saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! - > untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung anak > saya, bukan saja jumlah > mata pelajarannya sangat banyak, tetapi juga kandungan masing-masing mata > pelajaran sangat rinci, dan karena itu terlalu berat bagi seorang siswa > SLTP kelas II. Ini mudah dicermati jika Bapak Menteri sempat memeriksa > buku-ajar standar yang dipakai di sekolah-sekolah kita. > Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki waktu cukup untuk memeriksa dengan > cermat isi buku-ajar itu. Jadi, izinkan saya memberi contoh yang saya > petik secara acak dari buku-ajar anak saya. > > Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan mampu > > memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. > Dan,masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat > dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi. > Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian, asas, > landasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan peran, > macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang terkait! Dan, > > subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan negara dalam kehidupan > ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD, jenis-jenis pajak, bagaimana > menghitung pajak, dan peraturan yang terkait) sampai tahap-tahap > pembangunan jangka panjang (Pelita I sampai Reformasi). Hal yang sama juga > > terjadi dalam mata pelajaran lain. > > Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa diharapkan > memahami mulai dari sistem pencernaan (manusia dan hewan), > sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transportasi (manusia dan > hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya. > Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa > mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara Diapedesis > dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda tahu Globmerulus > dan di mana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan antarsel saraf (mana > bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan seterusnya. Karena itu, > tidak heran jika seorang dosen biologi di sebuah universitas berkomentar, > "Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi yang perlu diajarkan di > Universitas?" > > Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk siswa > yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri? Seorang siswa > SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati pasal-pasal mana dalam KUHP > yang dipakai untuk menghukum "perkelahian pelajar secara per orangan yang > mengakibatkan satu pihak luka atau mati", pasal-pasal mana untuk > "perkelahian pelajar secara berkelompok", dan pasal-pasal mana yang > dipakai jika "pelajar menyerang guru"! > > Juga, jangan lupa, pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika "pelajar > mabuk-mabukan, minum-minuman keras", atau jika terjadi "pemerasan oleh > pelajar", atau "pencurian di kalangan pelajar", atau "pelajar membawa > senjata api atau senjata tajam"... > > Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci beban > mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat ia pergi > ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas. Menurut > > saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung semua beban itu tanpa > masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan jujur, anak saya bukan anak > yang jenius, seperti juga anak-anak pada umumnya. > > Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang > sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif anak > sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki cara lain > kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah! Jangan Tanya, Hafal > > Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal ulangan umum. Mungkin di > permukaan, cara itu kelihatannya berhasil. Tetapi, jika dipandang dari > sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah gagal total! Kita telah ikut > berpartisipasi menjadikan kata "sekolah" dan "belajar" momok yang sangat > menakutkan bagi anak-anak didik - mereka yang akan menggantikan kita di > masa depan. > > Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi > menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi > pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan anak > > jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius! * > > Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), > Jakarta
