Tidak melebar dan tidak melenceng, Pak. Anda saja yang tidak hati-
hati membaca. Saya SAMA SEKALI TIDAK bicara penilaian moral terhadap 
evolusi. Baca lagi, deh.

Saya membicarakan hal yang sama dengan Anda. Intinya moral itu 
sifatnya relatif. Relatif terhadap individu, relatif juga terhadap 
waktu. Hari ini Anda bilang tidak beranak itu membantu mencegah 
kepunahan; dus dibenarkan secara moral. Besok, kalau manusia menyusut 
terus, maka beranak banyaklah yang membantu mencegah kepunahan, benar 
juga secara moral. Saya tidak percaya kalau keputusan mana yang baik 
mana yang buruk itu ditentukan oleh komposisi genetika kita, Pak. Itu 
hasil kerja otak yang mengukur untung dan rugi.

Manusia itu ada dong sifat dasarnya yang dibangun bertahun-tahun 
lewat evolusi, terekam dalam 23 pasang kromosom, yang menyebabkan ada 
tindakan manusia yang tidak sejalan dengan akal sehatnya. Itu yang 
sedang diteliti dan itu yang selalu saya kemukakan. Tidak kemana-
mana, kok.

Andi

--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Lho, ini kok melenceng toh? Dari urusan moral sense sebagai produk 
evolusi kok lalu ujug-ujug jadi soal penilaian moral terhadap 
evolusi? Kalo penilaian moral terhadap evolusi memang bisa beda dari 
satu orang ke orang lain. Ini siapa aja juga ngerti. Tapi intinya 
adalah seberapapun perbedaan nilai moral itu dari satu indibidu ke 
individu lain, dari satu budaya ke budaya lain, secara universal 
semua manusia berpotensi mengembangkan moral sense. Ini yang 
merupakan produk evolusi. Bahwa moral sense ini "warna"-nya berbeda 
dari satu kultur ke kultur lain, ya ini samalah dengan perbedaan ciri-
ciri fisik dan kepribadian, yang membuat setiap orang menjadi "unik".
>    
>   Moral sense yang berevolusi, menurut Steven Pinker, adalah yang 
dilandasi oleh cost-benefit calculation. Kalau saya mau menolong 
seseorang, saya akan menghitung seberapa besar cost yang akan saya 
keluarkan dan seberapa besar benefit yang dihasilkan. Maka itu, 
kecenderungan orang untuk menolong anak atau saudara sendiri jauh 
lebih besar dari pada untuk menolong teman (yang tak ada hubungan 
darah) atau orang asing. 
>    
>   Perhitungan yang sama juga bisa terjadi dalam penentuan seseorang 
mau punya anak atau tidak. Gen hanya tahu satu hal: penyintasan. 
salah satu perilaku wujud dari kecenderungan genetik ini adalah 
reproduksi. Tapi, reproduksi bukan satu-satunya wujud (kecuali pada 
hewan). Ketika dunia menjadi makin padat dan tantangan hidup menjadi 
lebih kompleks, reproduksi yang tanpa batas justru dapat mempercepat 
kepunahan manusia sendiri, dan dengan demikian, menjadi bertentangan 
dengan misi gen untuk sintas. Jadi, tak serta-merta kehendak untuk 
tidak mempunyai keturunan berarti adalah perilaku yang bertentangan 
dengan kemauan gen. 
>    
>   Tapi, tak terlalu tepat sebetulnya bicara soal mau punya anak 
atau tidak dari perspektif moral sense. Makanya, jadi makin terkesan 
diskusi ini melebar ke mana-mana. 
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Pertama, sayangnya moral itu hampir tidak ada yang universal 
(paling-
> paling sebatas mencuri atau berbohong).
> 
> Yang satu mungkin melihat evolusi moral ke arah yang lebih baik, 
tapi 
> pihak lain menilai evolusi yang sama sebenarnya menuju kehancuran. 
> Dua-duanya susah disalahkan; wong saya dan tetangga saya saja 
pijakan 
> moralnya bisa berbeda.
> 
> Kedua, kalau evolusi biologi kan arahnya jelas; menuju survival, 
eh, 
> penyintasan gen. Kalau evolusi moral manusia ternyata melawan arah 
> evolusi biologi, maka biarkan sajalah alam yang menentukan 
> keberlangsungan kita manusia di muka bumi. Di tempat saya tinggal 
> pemerintahnya sedang ketar ketir karena pertumbuhan penduduknya 
(yang 
> alami, di luar migrasi) minus sudah bertahun-tahun. Evolusi moral 
di 
> sini sudah tidak memungkinkan menyuruh perempuan mengutamakan 
beranak 
> pinak di atas karir dan aktualisasi dirinya, apalagi menghalalkan 
> poligami. Tapi evolusi moral di sini juga belum sampai ke 
membiasakan 
> laki-laki sebagai penanggungjawab utama perawatan anaknya. Namanya 
> evolusi moral kejepit di tengah-tengahlah hehe. Tapi mother nature 
> mana peduli, kan? Kalau Anda tidak beranak, ya punahlah Anda.
> 
> Andi
>


Kirim email ke