Saya setuju dengan mba Yuli, malah jangan2 mereka itu ga sekolah dan 
ijazah atau SIM nya pada nembak ......                      ( karena semua 
bisa dibayar dengan uang ???? ) hi hi hi kuacian deh ..........





Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
03/16/2007 09:49 AM
Please respond to Forum-Pembaca-Kompas

 
        To:     [email protected]
        cc: 
        Subject:        [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Bagaimana Solusi Konvoi 
Motor ?


Mas Ube,

Saya tidak tahu bahwa POLDA sebegitu rendahnya martabatnya. Dengan 
mudahnya mengeluarkan NOMER OMPANG untuk durasi tiga minggu dan seharga 
100 ribu rupiah, sebagai pengganti STNK. Pantas saja, betapa BOBROK nya 
kedisiplinan pemakai jalan raya di Indonesia. Masih sangat sedikit 
(dibanding dengan jumlah pemakai jalan raya) orang-orang yang benar-benar 
mematuhi "traffics regulations". Mungkin apa artinya semua rambu-rambu 
lalu lintas saja, sebenarnya tidak tahu sama sekali.
Misalnya, kalau di negara-negara yang peraturan lalu-lintas nya dijaga 
"keluhuran" nya,maka jika akan belok ke-kiri atau ke-kanan, para pamakai 
jalan raya ini sudah harus dijalur kiri atau kanan paling tidak 10 meter 
sebelum mereka belok. Seperti "ancang-ancang" gitu loch. Jadi enggak ada 
serobot jalan dari kanan untuk belok kekiri, atau serobot kiri untuk belok 
kekanan tepat dibelokan-nya. Yang membuat macet nya traffics dan seringnya 
terjadi kecelakaan, seperti para pemakai jalan raya di Jakarta ini.

Jika pengendara HD mempunyai moral yang sangat rendah seperti yang Mas Ube 
gambarkan diposting ini, bagaimana mereka bisa meng-"claim" diri 
mereka-mereka dari golongan "ber-PENDIDIKAN?". 
Bagi saya penmgendara HD ini sudah sama "bobrok" nya (cara mereka berlalu 
lintas) dengan para sopir "angkot". Paling enggak sopir-sopir angkot masih 
berhenti di toll both dan membayar toll. Lha ini yang katanya dari 
golongan "berpendidikan" dan dari lingkungan "the haves", kok gak bayar 
toll dan enggak ada sopan-santun seperti sudah pernah "makan" sekolahan? 
Kali pendidikan-nya juga numpang "LEWAT" aje ni ye?! 
Pantas pada "arogan" sikapnya, karena ya hanya dengan begitu bisa 
menunjukan "siapa aku" nya. Walaupun gak pakai moral yang benar.

Salam,
Yuli

Kirim email ke