Rekan Yuliati,
  Kalau menurut saya yang beginian ini malahan menunjukkan kelemahan daya pikir 
otaknya dan sesuka hatinya berbuat melanggar hukum karena di backing ama para 
petugas polisi yang sudah dirangkul dengan duit untuk memudahkan pelaksanaan 
pameran HD di jalanan umum. Maaf para penggemar HD, saya juga senang lihat MOGE 
kalau dipamerkan di event2 tertentu tapi kalau pameran dijalan raya dam 
menganggu lalu lintas umum dan di backing pak Polisi yang pasti UUD, maaf saja 
saya kurang nyaman melihat kalian yang hanya lewat dengan suara gemuruh dan 
dengan perasaan bangga bisa menyakiti hati rakyat kecil yang sangat menderita 
saat ini. Kalau mungkin berbuatlah sosial dan bantulah mereka yang membutuhkan 
dengan membuka pameran MOGE (HD) dan dari hasil biaya masuk ke pameran 
sumbangkanlah untuk rakyat yang membutuhkan daripada pamer2 kekayaan. Sekali 
lagi maaf kalau saya salah. Saya hanya berusaha memngusulkan bagaimana kalian 
bisa berbuat yang lebih bermanfaat untuk sesama saudara kita
 yang memerlukan bantuan. Korban banjir masih membutuhkan bantuan. Kecuali 
kalian memang sudah tidak tepo seliro kepada sesama.
   
  Salam
  BS

Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Ube,

Saya tidak tahu bahwa POLDA sebegitu rendahnya martabatnya. Dengan mudahnya 
mengeluarkan NOMER OMPANG untuk durasi tiga minggu dan seharga 100 ribu rupiah, 
sebagai pengganti STNK. Pantas saja, betapa BOBROK nya kedisiplinan pemakai 
jalan raya di Indonesia. Masih sangat sedikit (dibanding dengan jumlah pemakai 
jalan raya) orang-orang yang benar-benar mematuhi "traffics regulations". 
Mungkin apa artinya semua rambu-rambu lalu lintas saja, sebenarnya tidak tahu 
sama sekali.
Misalnya, kalau di negara-negara yang peraturan lalu-lintas nya dijaga 
"keluhuran" nya,maka jika akan belok ke-kiri atau ke-kanan, para pamakai jalan 
raya ini sudah harus dijalur kiri atau kanan paling tidak 10 meter sebelum 
mereka belok. Seperti "ancang-ancang" gitu loch. Jadi enggak ada serobot jalan 
dari kanan untuk belok kekiri, atau serobot kiri untuk belok kekanan tepat 
dibelokan-nya. Yang membuat macet nya traffics dan seringnya terjadi 
kecelakaan, seperti para pemakai jalan raya di Jakarta ini.

Jika pengendara HD mempunyai moral yang sangat rendah seperti yang Mas Ube 
gambarkan diposting ini, bagaimana mereka bisa meng-"claim" diri mereka-mereka 
dari golongan "ber-PENDIDIKAN?". 
Bagi saya penmgendara HD ini sudah sama "bobrok" nya (cara mereka berlalu 
lintas) dengan para sopir "angkot". Paling enggak sopir-sopir angkot masih 
berhenti di toll both dan membayar toll. Lha ini yang katanya dari golongan 
"berpendidikan" dan dari lingkungan "the haves", kok gak bayar toll dan enggak 
ada sopan-santun seperti sudah pernah "makan" sekolahan? Kali pendidikan-nya 
juga numpang "LEWAT" aje ni ye?! 
Pantas pada "arogan" sikapnya, karena ya hanya dengan begitu bisa menunjukan 
"siapa aku" nya. Walaupun gak pakai moral yang benar.

Salam,
Yuli

bayusikasep <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pada intinya konvoi apapun, seharusnya memperhatikan hak pengguna 
jalan lain, siapapun itu, dan mengendarai apapun mereka. Termasuk 
juga menghargai para pejalan kaki, penyemplak sepeda, pokoknya 
siapapun. 

Tidak semua konvoi berlaku arogan. Walau masih dalam hitungan 
sedikit, tapi beberapa klub motor, telah memberikan contoh terbaik 
dalam hal berkonvoi. Sebutlah HTML (Honda Tiger Mailing List), HMPC 
(Honda Mega Pro Club), KMCJ (Kymco Motor Club Jakarta) dan seluruh 
chapternya, dan beberapa gelintir klub lainnya. Tapi memang entah 
kenapa, rasa tepo seliro, menghargai pengguna jalan lain, nyaris tak 
pernah saya temui dalam rombongan konvoi HD (bukan semua moge lho, 
cuma HD). Padahal, rekan2 di klub-klub Kymco, yang menggunakan moge 
ber-cc 500, tidak se-arogan anak2 HD.

Mungkin, aroganisme itu muncul, seiring dengan fasilitas dan 
keistimewaan yang mereka dapat. Baik dari segi pengawalan, para 
dedengkotnya yang umumnya Jenderal, dan sebagainya. Bukan sekali dua 
kali, saya temui motor HD, tidak dalam keadaan rombongan, melenggang 
dengan mulusnya memasuki tol, tanpa pengawalan sekalipun, dan tanpa 
membayar. Mereka melewati gerbang tol dengan cueknya, dan langsung 
tancap gas.

Saya pun pernah mengikuti rombongan HD dari Jakarta hingga Bandung, 
dalam rangka meliput touring mereka (saya kerja di sebuah TV 
swasta). Dan saat itu, saya pun dapat melihat dengan jelas, dan 
merasakan, betapa mereka begitu arogan pada siapapun. Termasuk pada 
kami, tim liputan, yang notabene mereka undang.

Untuk surat2 bodong. Harap diketahui, Kepolisian Republik Indonesia, 
melalui masing2 POLDA, dapat mengeluarkan istilahnya NOMOR OMPANG. 
Untuk jangka waktu 3 minggu, dengan tarif 100 ribu rupiah, kita 
mendapat surat sakti dari POLDA sebagai pengganti STNK. Ini berlaku 
untuk motor apapun, bukan moge saja. Dan terbayang kan, betapa 
mudahnya uang sebesar 100 rb rupiah untuk 3 minggu, bagi para 
pengguna HD. Apalah arti 100 rb rupiah per 3 minggu, bagi orang2 
kaya yang senangnya menonjolkan aroganisme itu !!!!!!!!!

Salam,

Ube


         

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke