Salam,

Dalam sebuah buku yang saya baca digariskan bahwa proses belajar adalah
proses yang bisa menceiptakan pelajar independen. Pelajar independen dengan
sendirinya akan belajar untuk mendapatkan ilmunya tanpa tergantung kepada
satu sumber. Untuk menjadi pelajar independen, memang diperlukan sarana dan
prasarana yang mendukung. Ketika zaman teah seperti ini, maka akan sangat
banyak kesempatan untuk dapat belajar secara independen.

Masalahnya lagi adalah bahwa negara kita hanya mengakui dokumen kelengkapan
sebagai bukti bahwa seseorang itu telah memiliki pendidikan. Pada
kenyataannya, kemampuan yang didapatkan dan dipakai dalam dunia kerja dan
pada akhirnya akan menjadi modal dalam kehidupannya adalah yang didapat di
luar lembaga-lembaga pendidikan formal tersebut.

Hal lain yang menjadi masalah adalah sikap mental yang menciptakan seseorang
menjadi pelajar independen. Bahwa selama ini yang ditanamkan di otak kita
adalah yang dimaksudkan dengan belajar adalah duduk dibangku sekolah dan
mendengarkan ceramah dari guru, sembari murid-murid menghayal, seperti apa
yah sapi itu ketika guru bercerita mengenai hewan bertulang belakang,
misalnya. Semuanya telah menjadi sekedar di awang-awang. Apa pentingya
dengan menghapal semua itu. Bukan itu proses belajar yang sebenarnya.
Kembali ke menciptakan pelajar independen, bahwa semua keahlian dan
kemampuan yang dimiliki untuk dapat memperbaiki hidupnya secara kualitas
bisa didapatkan dimana saja.

Tetapi sekali lagi, dikarenakan pemerintah kita mengindoktrinasikan bahwa
pelajar adalah orang-orang yang duduk manis di bangku sekolah formal dan
pada akhir masa pendidikannya adalah orang-orang yang mendapatkan ijazah
yang menerangkan bahwa seseorang itu telah melewatkan masa tiga tahunnya di
sekolah tersebut. Hal ini juga mempengaruhi dunia kerja. Dengan gagahnya
mereka mengatakan bahwa mereka hanya menerima orang-orang dengan kemapuan
tinggi yang digambarkan oleh IPK nya yang tinggi tanpa memperhatikan apakah
itu murni. Saya saat ini ada penyesalan yang mendalam bahwa kenapa saya
tidak belajar secara independen dari pada lulus dari Universitas Negeri di
Bandung sana. Di kantorku para staff lain dihargai lebih tinggi,
digaji, walaupun tidak lulus dari PT terkenal karena mereka mempunyai
kemampuan dan skill yang tentunya tidak didapatkan dari bangku sekolah.

Sekedar menginformasikan hal lain yang masih sejalan dengan hal diatas, saat
ini banyak para pekerja NGO asing yang berasal dari berbagai negara yang
masuk ke Aceh membawa anak dan istrinya. Ketika saya tanyakan bagaimana
dengan masalah pendidikan anak-anaknya, mereka mengatakan bahwa mereka
menjalankan sistem 'home school'. Gurunya adalah para istri yang
disertifikasi oleh lembaga berwenang di negara mereka. Di negaranya ada
berbagai kurikulum yang telah diakui oleh negara. Jadi mereka hanya
mengadakan home school tersebut dengan kurikulum yang telah diakui oleh
negara mereka. Ketika suatu waktu ada kesempatan kembali kenegaranya,
anak-anak mereka akan mengikuti ujian persamaan dan hasilnya diakui oleh
negara. Saya perhatikan bahwa mata pelajaran mereka hanya sedikit. Anak-anak
atasan saya  yang dari Amerika Serikat hanya mempelajari Bahasa Inggris,
Matematika dan Sejarah Amerika. Buku-buku yang mereka bawa untuk ukuran
kita, biasa saja.

Anak-anak mereka sangat santai belajar dan saya pikir mereka banyak
belajarnya dari lingkungannya. Mereka akan menjadi pelajar yang independen
dan saya yakin tidak akan terbebani dan mengatakan shoool is my jail.
Sekolah seperti ini juga akan sangat terjangkau.



On 3/14/07, suprijodio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Memangnya selama ini ada VISI PENDIDIKAN kita?
>
> PENDIDIKAN sebenarnya memang salah satu AMANAH NEGARA. Namun
> Pendidikan itu pula yg paling disia-siakan oleh NEGARA.
>
> Sebuah potensi kehancuran sistematis Pendidikan kita adalah :
>
> 1. Kesempatan Pendidikan semakin TIDAK TERJANGKAU oleh seluruh rakyat.
> 2. Bagi yg bisa menjangkau, maka TIDAK mendapatkan KUALITAS memadai.
> 3. Bagi yg mendapatkan kualitas, maka TIDAK mencetak siswanya untuk
> BIJAK dan KREATIF.
>
> Saya juga gak yakin jika 20% APBN sudah dialokasikan untuk sektor
> Pendidikan, apakah lalu ada jaminan Pendidikan kita maju? Bisa2 malah
> dikorupsi di mana2.
>
> Ada pertanyaan. Siapakah sosok2 yg kira2 PEDULI pada Pendidikan
> Bangsa? Yg Visioner dengan Strategi dan Tahapan yg Jelas? Yg berani
> berseru : "Tahun ... kita akan sejajar dengan NEGARA MAJU!"
>
> Maspri

Kirim email ke