Wah.. padahal kan masalah "Perlindungan Anak" merupakan urusan setiap orang di 
setiap tingkatan masyarakat, dan di setiap bidang tugas. Perlindungan anak ini 
menciptakan kewajiban/tugas bagi presiden, perdana mentri, hakim, guru, dokter, 
tentara, orang tua bahkan anak-anak sendiri.
   
  Betapa mengecewakannya kalau ada kejadian yang seperti di ceritakan tadi, 
oknum KBRI yang menjual/mengeksploitasi saudara sebangsanya sendiri.
   
  Penjualan atau perdagangan manusia menurunkan derajat manusia itu menjadi 
komoditi dan oleh karenanya, secara inheren dapat di kutuk, tanpa melihat 
tujuan utama dari di lakukannya pejualan atau perdagangan itu. Jadi, argumen 
bahwa dalam sebagian besar kasus adopsi anak pada akhirnya jauh lebih baik 
kondisi kehidupannya, bagaimanapun, tidak akan membenarkan perdagangan bayi dan 
anak2.
   
  Betapa sedihnya kalo membaca tulisan daurie: Cerita anak kecil yg dijadikan 
pembantu rumah tangga, dijadikan pelacur, dan pekerja perkebunan/peternakan yg 
tak pernah digaji bukanlah dongeng.  Ada ribuan anak dari Indonesia yg dikirim 
ke luar negeri --> mau jadi apa bangsa kita nanti?? :((
  

akhmad daurie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  True story...sampe sekarang Rie masih menyimpan rekaman interviewnya...
ketika salah satu komunitas di Bandung mengadakan diskusi ttg human trafficking 
di Asia..

Seorang anak usia 8 tahun dijanjikan akan diangkat jadi anak asuh dan 
disekolahkan di malaysia,  trus setibanya di sana dia dijadikan pekerja 
perkebunan (tanpa bayaran).  Dia sempat melarikan diri, lantas kemudian bekerja 
di peternakan ayam dan bengkel yg ternyata juga tanpa bayaran, kemudian 
melarikan diri lagi dan kerja jadi pembantu rumah tangga yg juga tanpa bayaran.

Proses melarikan diri pertama kali dgn menyusuri rimba belantara, dan proses 
melarikan diri yang kesekian kalinya dgn meloncat dari lantai dua sebuah rumah.
5 tahun anak lelaki itu terlunta-lunta di malaysia.

Yg menarik adalah dia pernah tertangkap polisi 2 (dua) kali dan diserahkan ke 
KBRI, ternyata setelah dia kemudian "dijual" kembali oleh  oknum pegawai KBRI.
Sedangkan jika melapor ke polisi juga percuma, sebab mereka penduduk ilegal yg 
akan berbuah hukum rajam dan denda (sebelum diserahkan ke KBRI untuk 
dideportasi atau kalo lagi apes dijual lagi oleh oknum KBRI ke makelar TKI).

Bocah itu berhasil selamat dan pulang kembali ke Indonesia setelah berhasil 
kabur dari KBRI ketika oknum yg akan menjualnya kembali ke makelar TKI lengah.  
Diselamatkan seorang wartawan Indonesia yg membawanya ke Batam, kemudian 
dijemput salah satu yayasan dari Bandung untuk disekolahkan.
Sekarang bocah itu bersekolah dan tinggal di sebuah yayasan yg juga merupakan 
pesantren di daerah Bandung.

Cerita anak kecil yg dijadikan pembantu rumah tangga, dijadikan pelacur, dan 
pekerja perkebunan/peternakan yg tak pernah digaji bukanlah dongeng.  Ada 
ribuan anak dari Indonesia yg dikirim ke luar negeri.

Simaklah dan renungkan cerita ttg kejadian ada oknum KBRI yg bukannya menolong 
TKI yg bermasalah, namun bahkan menjual mereka kembali, ada juga yg sampai 
diperkosa dan melahirkan di pengungsian KBRI.

negeri ini sakit jiwa !

salam,

dauRIE


Kirim email ke