Pak Edy Purwanto, Saya sepakat dgn Bapak. Aturan "HARUS SARJANA" itu emg menggelikan, setidaknya menurut saya. Saya ingin mengutip tulisan Pak Rhenald Khasali yg dimuat di Kompas bbrp waktu yg lalu. Beliau blg "Dalam bahasa "Recode", hasil adalah cerminan dari cara berpikir seseorang. Yang hebat secara akademis, kalau cara berpikirnya keliru, tidak akan mencapai hasil optimal. Maka yang 'pintar akademis' belum tentu 'pintar bekerja' (Kompas 19/01/2006).
Salam, Patrick Hutapea Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung --- In [email protected], "Edy P" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kualitas seseorang tidak pertama-tama ditentukan oleh deretan gelar yang dipampang di seputar nama seseorang. Bahkan kualitas intelektualnya pun tidak bisa diukur hanya oleh deretan gelar yang dipunyai seseorang (karena nyatanya di jaman sekarang ini banyak orang tergila-gila dan memang kerap menjadi gila beneran....dengan cara MEMBELI GELAR dan anehnya...ada aja lembaga yang mau menjual gelar). > > Saya lebih respect terhadap seseorang yang SD pun tidak lulus, tapi berkualitas Prof. Dr (bukan yang gelarnya beli); daripada kepada yang Prof. Dr tapi kualitasnya nggak karuan juntrungnya. > > Saya sebagai warga masyarakat tidak butuh dipimpin seorang yang bergelar sarjana atau lebih tinggi dari sarjana (S-1), tapi saya butuh dipimpin oleh seseorang yang memang pantas disebut pemimpin dan memang bisa memimpin karena memiliki kualifikasi pribadi yang mau mendengarkan orang lain, mampu menghormati orang lain, mampu 'ngemong' orang lain, bisa memahami orang lain, dll yang pada intinya menampilkan dirinya BENAR-BENAR MANUSIA YANG MAMPU MEMANUSIAKAN SESAMANYA. > > Makasih.
