Chairil dan Yuli, Rencana Taufiq Kiemas untuk membeli Megaria dan mengubahnya menjadi sebuah pom bensin, saya dengar dari seorang teman, sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, teman saya ini menjadi salah seorang penghubung (bahasa kerennya makelar?) antara salah seorang pemilik Megaria (pemilik Megaria ada 2/3 orang) dengan pihak Taufiq. Yang saya tahu, saat itu hampir saja terjadi kesepakatan. Hanya saja belakangan salah seorang pemilik Megaria itu menyebutkan yang dijual hanya bagian sahamnya saja. Taufiq gak mau, karena dia mau semuanya. Persoalan tambah runyam ketika diketahui juga bangunan itu telah menjadi cagar budaya, oleh sebab itu tidak boleh dibongkar. Ada juga yang bilang, tanah tempat gedung Megaria itu dibangun, belum jelas sebenarnya punya siapa..? Ada yang bilang tanah itu masih milik pemerintah. Karena aneka kekacauan itu, Taufiq batal melakukan transaksi. Tapi yang saya dengar lagi belakangan ini, sekarang seluruh pemiliknya sudah bersedia menjual Megaria secara keseluruhan, baik itu gedung maupun tanahnya. Entah bagaimana persoalan tanah itu akhirnya "beres".. Sayang sih, memang, karena pasti banyak sekali orang yang punya kenangan "nostalgia" dengan tempat itu.. (saya juga loh.. hehehe..) Kalau digantinya dengan sesuatu yang lebih baik, seperti gedung teater yang diidamkan Yuli, saya juga setuju banget..!!
Salam, kaka. --- In [email protected], chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > mbak Kaka, > tolong mbak ajak saya dan kawan-kawan ya untuk demo kalau megaria di jual dan di beli untuk dijadikan mall, pom bensin,........... etc. > kita turun ke jalan sudah banyak sekali bangunan-bangunan seperti megaria yang dihancurkan hanya deni keuntungan ekonomis. > > salam, > (pendukung kesewenangan terhadap cagar budaya) > csd
