Oleh Gede Prama 
Penulis Sejumlah Buku, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/17/utama/3383769.htm
========================

Ketika seorang guru ditanya evolusi jiwa manusia ratusan tahun 
terakhir, dengan diam sebentar, menatap mata lalu menjawab, "dari 
gelap ke gelap". Dari ketidakpuasan satu ke ketidakpuasan lain. Dari 
konflik satu ke konflik lain. 

Melihat kehidupan bergerak begini, sejumlah orang desa yang polos 
bertanya, mengapa kemajuan iptek harus seperti ini? Maafkanlah 
keluguan. Andaikan keluguan ini dijawab dengan data, angka, logika, 
mungkin sinyalemen "dari gelap ke gelap" akan tambah panjang. Angka 
dilawan angka. Logika mengundang serangan balik logika. 

Karena demikian keadaannya, izinkan sekali-sekali bukan angka, bukan 
logika yang bicara, tetapi sepi sunyi. Tidak dalam posisi menyebut 
sepi benar, yang berbeda salah. Sekali lagi tidak. Serupa dengan 
mulut manusia, gigi wujudnya keras karena tugasnya memotong dan 
menghancurkan. Lidah bentuknya lembut karena panggilan hidupnya bukan 
untuk menghancurkan, tetapi merasakan. Keduanya punya tugas lain. 
Dengan spirit seperti inilah, sepi sunyi dalam tulisan ini mohon izin 
bicara. 

Sejak dulu, pencinta sepi selalu tidak banyak. 0rang yang bertapa di 
kesunyian selalu lebih sedikit dibanding mereka yang mencari di 
keramaian. Keduanya bertumbuh. 0rang-orang keramaian menyukai 
bertumbuh ke luar (dengan ukuran kekaguman pujian orang), sedangkan 
pencinta kesunyian menyukai bertumbuh ke dalam. Kekaguman dan pujian 
orang dihindari karena penuh godaan ego. 

Melihat bulan dengan lampu 

Satu contoh yang amat menerangi di jalan sunyi adalah pertapa suci 
Ramana Maharshi. Sampai umur 16 tahun tidak ada tanda ia akan jadi 
pertapa. Begitu berkenalan dengan perjalanan ke dalam diri, tiba-tiba 
badannya panas. Ini membuatnya lari ke Bukit Arunachala. Lebih dari 
sekadar panasnya menghilang, ia menikmati kesunyian di tempat ini. 
Bahkan selama puluhan tahun menghabiskan hidup yang sepenuhnya diam. 

Saat mengakhiri diamnya, Ramana menjawab pertanyaan orang secara 
mengagumkan hanya dengan segelintir kata. Dari situ didirikan ashram 
oleh banyak pengikutnya di sekitar tempat ia bertapa. Tiap kali 
ditanya siapa gurunya, ia menggeleng sambil bergumam, "The ultimate 
consciousness is the only teacher" (Kesadaran yang mahautama itulah 
gurunya). 

Serupa dengan ini, di sejumlah perenungan dengan judul agama yang 
berbeda-beda, banyak murid diminta diam. Awalnya percakapan ke luar 
menghilang, diganti percakapan ke dalam. Akhirnya percakapan ke dalam 
pun menghilang. Dan yang tersisa hanya satu, yakni kesadaran. 0rang-
orang yang sudah disinari cahaya kesadaran, akan bergumam, untuk 
melihat bulan tidak memerlukan lampu! 

Kata-kata, logika, angka mirip lampu luar. Manusia membutuhkan saat 
gelap. Namun, dalam terang cahaya kesadaran, manusia tidak memerlukan 
lampu luar. Salah satu founding father kehidupan spiritual Bali (Dang 
Hyang Dwijendra) menulis Kakawin Dharma Sunya. Ia bertutur, jika 
batin yang tenang-seimbang adalah sumber keindahan. Bila sumber 
keindahan sudah di dalam, masihkah manusia memerlukan lampu penerang 
dari luar? Dalam bahasa provokatif seorang guru, "When you still have 
some one who can make you happy or sad, you are not a master, you are 
a slave!" (Jika sumber kebahagiaan/kesedihan masih dari luar, itu 
tandanya seseorang belum menjadi master, masih jadi budak). 

Apresiasi akan sepi memang bukan monopoli Bali. Lama Surya Das 
(Awakening the Buddha Within) pernah menulis bahwa puncak perjalanan 
menemukan perkataan yang benar adalah hening. Eckhart Tolle 
(Stillness Speaks) juga serupa, "wisdom comes with the ability to be 
still. Just look and just listen... let stillness direct your words 
and actions" (Kearifan datang dari keheningan. Lihat dan dengar 
saja... biar keheningan yang menjadi pembimbing). Thomas Merton 
(Thoughts in Solitude) menambahkan, "My knowledge of myself in 
silence... opens out into the silence... of God" (Pengetahuan diri 
dalam keheningan membuka rangkaian keheningan yang berujung pada 
Tuhan). 

J Krishnamurti (The Light in Oneself) menyarankan, meditation is 
absolute silence of the mind (meditasi adalah keadaan batin yang 
sepenuhnya hening). Dainin Katagiri (Returning to Silence) menulis, 
Shakyamuni is some one who practice tranquil silence (Siapa saja yang 
mempraktikkan kesempurnaan keheningan, ia menjadi Buddha). Murid-
murid Zen yang perjalanannya suka menekuni latihan silent 
illumination. Penyair sufi Rumi bertumbuh jauh dalam sepi. Perhatikan 
salah satu syairnya (The Rumi Collections): when you know your own 
definition, flee from it, that you may attain to the 0ne who cannot 
be defined (Saat Anda dipagari kata-kata, cepat-cepatlah menjauh. Ia 
menghalangi mencapai yang Satu yang tidak terucapkan). 

Dengan cerita ini, terlihat banyak manusia yang terterangi rapi oleh 
sepi sunyi. Ia melewati banyak sekat tradisi. Dari Sufi, Nasrani, 
Buddha, sampai Hindu. Jenis manusia-manusia ini memiliki pola 
pertumbuhan serupa. Logika dan kata-kata ibarat kulit dan batok 
kelapa. Di awal manusia membutuhkan. Namun, begitu dikupas dan 
dibuka, kelapa dimakan, airnya diminum, kulit dan batoknya dibuang. 

Mikhail Naimy (The Book of Mirdad) lebih terang lagi. Kata, logika 
serupa tongkat, berguna bagi mereka yang kakinya bermasalah. Bagi 
jiwa yang kakinya sehat, tongkat hanya beban. Lebih-lebih jiwa yang 
bisa terbang, tongkat adalah beban berat. 

Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Saka 1929. 

 



Kirim email ke