Oleh Brahmacarya Bhargawa Chaitania 
Rohaniwan Hindu, Dosen Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/17/opini/3387319.htm
=========================

Musibah yang terjadi silih berganti merata di seluruh negeri, di desa 
maupun kota, seakan meluluhlantakkan sendi kehidupan. 

Banjir merendam permukiman tanpa memandang kaya atau miskin. Banjir 
belum surut, kita dikejutkan kecelakaan pesawat terbang dan angkutan 
laut. 

Konflik horizontal di beberapa daerah masih menimbulkan bekas luka 
yang belum tersembuhkan. Sementara perekonomian kita belum 
menunjukkan peningkatan yang signifikan, di mana rakyat kecil 
kesulitan mendapat bahan pokok dengan ditandai antrean panjang 
memperoleh beras murah dalam operasi pasar. 

Bencana Yogya dan lumpur Lapindo seolah menjebol tanggul kesabaran 
yang memerlukan penyelesaian serius. Keadaan ini seolah menggambarkan 
Bumi Pertiwi tak henti dilanda bencana. 

Alam tidak pernah memberi masalah. Kita hanya dihadapkan situasi yang 
berubah. 

Fenomena alam yang terjadi bukan suatu masalah jika kita bisa 
melihatnya dengan kearifan. Alam tidak pernah memberi kita masalah 
apalagi bencana, kita hanya dihadapkan pada situasi. 

Alam dan irama manusia 

Dalam situasi yang sama, setiap orang berbeda cara menerimanya. 
Misalnya banjir bagi sebagian orang yang rumahnya terendam merasa 
tidak berdaya dan tidak nyaman, dia merasa menjadi korban. Tetapi 
bagi penarik gerobak merasa banjir adalah suatu keadaan yang bisa 
dimanfaatkan untuk mengais rezeki dengan mengangkut barang dan orang 
ke tempat lebih aman. 

Semua terkena dampak banjir baik langsung maupun tidak langsung. Bagi 
anak-anak, genangan air dipakai sebagai arena bermain. Jadi, 
sebenarnya siapa yang menjadi korban? 

Orang yang tidak bisa menerima situasi dan mengondisikan keadaan 
untuk lebih baik merasa paling menjadi korban. Dia merasa alam tidak 
lagi bersahabat. Padahal, sebenarnya alam senantiasa mengikuti irama 
manusia. 

Dalam interaksinya, manusia bisa memengaruhi alam dan alam juga bisa 
memengaruhi manusia. Keduanya saling terkait, tidak ada situasi yang 
buruk tanpa suatu sebab. Untuk itu kita perlu mengkaji ulang hubungan 
kita dengan alam sehingga tercipta keserasian dan keseimbangan untuk 
menciptakan keharmonisan. 

Kesempatan introspeksi 

Perayaan Tahun Baru Saka atau Nyepi bertujuan mengingatkan kita 
introspeksi diri, agar ber-yadnya (berkorban) kepada alam lingkungan, 
sesama manusia, dan Tuhan dengan ikhlas. 

Kini pengorbanan sudah amat langka, yang menonjol adalah keegoisan 
dan kepemilikan. Kita perlu meningkatkan kesadaran yang bisa 
menumbuhkan rasa empati terhadap sesama makhluk dan alam lingkungan. 

Kesadaran ini penting untuk menggugah sikap kesetiakawanan sosial di 
antara kita dalam menanggulangi dan menyikapi situasi sulit yang 
terus berkembang. Untuk itu tepat sekali, perayaan Hari Raya Nyepi 
Tahun Baru Saka 1929 ini mengusung tema "Jadikan Hari Raya Nyepi 
Tahun Baru Saka 1929 sebagai Momentum Meningkatkan Kesetiakawanan 
Sosial Menuju Perdamaian dan Kesejahteraan yang Berkeadilan". 

Hal ini senantiasa bisa dicapai dengan meningkatkan sradha 
(keyakinan) dan bakti kita kepada Tuhan, hubungan harmonis antara 
sesama manusia, dan menjaga kelestarian alam. 

Melalui Catur Brata Nyepi, yaitu empat cara melatih spiritual yang 
terdiri atas amati geni (tidak menyalakan api amarah), amati karya 
(relaksasi), amati lelungan (bermeditasi), dan amati lelanguan 
(merenungkan diri), diharapkan bisa menambah spirit (semangat hidup) 
kita yang lesu dan bisa mengubah situasi ke arah lebih baik. Dengan 
demikian, santi (kedamaian) senantiasa terwujud di Bumi Pertiwi. Rasa 
empati bisa diwujudkan dengan melakukan kegiatan yang bersifat 
meringankan penderitaan sesama serta senantiasa mencintai dan menjaga 
kelestarian lingkungan. 

"Selamat hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929". 





Kirim email ke