Bung Rahadian, Anda menyodorkan tulisan dari Professor Deborah E Lipstadt tanpa Anda membacanya dengan cermat. Coba baca apa pendapatnya tentang jumlah korban yang 6 juta jiwa itu. Saya kutipkan saja : "We should NEVER avoid valid historical questions. For example, when historians realized that the death tolls for Auschwitz/Birkenau were too high, they recalculated and lowered them (saat ini dipercaya bahwa jumlah sebenarnya adalah antara 1,5 s/d 2 juta jiwa). They did not hesitate to do so, even though some people feared correctly so that it would "give comfort to deniers." Instead, serious historians welcomed the corrected information (Inilah mestinya sikap seorang ilmuwan. Tidak takut mengakui kesalahan dan mengakui adanya fakta baru yang lebih benar) Another example of correcting a mistaken notion relates to the accusation that the Nazis rendered Jewish corpses into soap during the Holocaust. During the war and afterwards many people said that the Germans made Jews into soap. No one knows the precise origins of this rumor, but it persisted after the war. Survivors who arrived in Israel were sometimes called: `Sabonim' [Soaps]. In fact, there is no proof that the Germans regularly processed Jews into soap. They may have and probably did experiment in doing so, but we have no indication that it was ever done on a mass basis. Many historians, myself included, have regularly talked and written about this, despite the fact that there are those who argue that it "plays into" deniers' hands.
Jadi jumlah 6 juta jiwa itu memang TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN kebenarannya dan diakui sendiri oleh Prof Libstadt. Satu hal yang penting kita pahami adalah apa yang disampaikan oleh beliau bahwa :" Correcting mistakes does not, in any way, lessen the Germans' crimes. The Germans' actions were horrendous enough that there is no need to support myths in lieu of facts or to fear the facts. By the same token, if the Allies did things wrong, then we should address it and acknowledge it. I have no doubts that they did some terrible things. Nothing, however, that they did can compare to the Nazis' crimes which include the Holocaust, the T-4 [euthanasia program], medical experiments on prisoners, and so much else." Jadi kekejaman Nazi terhadap orang Yahudi itu adalah fakta sejarah dan tidak perlu ditutup-tutupi dan tidak perlu takut untuk dibongkar ulang. Meski demikian, bukti menunjukkan bahwa para Revisionislah yang mampu menunjukkan ketidakakuratan klaim selama ini bahwa ada 6 juta korban dari orang Yahudi. Kita telah tertipu selama ini bahwa ada 6 juta korban orang Yahudi. Tapi kalau ada akademisi yang tetap mengusung mitos '6 juta korban' itu ya apa boleh buat! :-) Satu hal yang saya heran dari Anda, Bung Permadi. Anda membawa-bawa nama Prof. Lipstadt dan Anda 'perkuat' dengan pendapat seorang rakyat Iran yang awam dalam masalah ini. Apa maksudnya? :-) Salam Satria --- In [email protected], "Rahadian Permadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebelum saya mengutarakan pendapat saya, apakah saudara Imron Cotan di > sini adalah mantan dubes Aus untuk Indonesia? Atau memang memiliki nama > yang sama? > > Sdr Cotan begitu gencar mengedepankan sejarah holocaust dari versi > revisionis. Persoalannya apakah memang versi revisionislah yang paling > akurat dalam merepresentasikan holocaust? Cara belajar yang baik, > apalagi sejarah, adalah banyak membaca dari berbagai macam versi dan > kemudian membandingkannya. Dalam kasus ini, saya tidak mendapatkan kesan > bahwa ada niat untuk memaparkan data lain agar ada perimbangan > informasi. Misalnya tulisan sejarawan Richard J Evans atau Deborah E > Lipstadt. Kedua orang ini sangat penting dalam perdebatan sejarah > tentang holocaust (lazimnya dalam studi sejarah perdebatan semacam ini > disebut history wars). Libstadt memenangkan kasus gugatan yang diajukan > oleh David Irving. Sementara itu Richard J Evans, sejarawan yang ahli > dalam persoalan Jerman, menjadi saksi ahli yang melakuan riset atas buku > Irving. > > Ulasan yang cukup baik tentang sejarawan revisionis bisa dilihat dalam > tulisan Jonathan Petropoulus yang dimuat dalam jurnal akademik, The > History Teacher, Vol. 28, No. 4. (Aug., 1995), pp. 523-539 dengan judul > Confronting the "Holocaust as Hoax" Phenomenon as Teachers. Wawancara > Deborah E Libstadt juga menyebut tentang persoalan holocaust as hoax ini > (http://www.threemonkeysonline.com/article.php?id=391 > <http://www.threemonkeysonline.com/article.php?id=391> ). Menurut kedua > akademisi tersebut, holocaust denial melakukan kampanye yang cukup > gigih. Dari artikel surat kabar, website, hingga jurnal akademik (The > Journal of Historical Review). Tidak adanya dokumen yang menyatakan > bahwa Hitler memerintahkan untuk menggunakan gas adalah poin yang > dieksploitasi oleh para holocaust denier. > > Saya akan kutip beberapa data untuk menanggapi sdr Cotan. > > Jika sdr meragukan bahwa jumlah 6 juta tidak mungkin lantaran populasi > Yahudi, studi yang dilakukan oleh Sergio Dellapergola (Between Science > and Fiction: Notes on the demography of the holocaust) mengungkapkan > bahwa pada tahun 1939, jumlah Yahudi di Polandi sebesar 3,5 juta, > Rumania 520.000 lebih, Hungary 400.000 lebih, Ceko 350.000, Perancis > 300.000 lebih dan di Ukraina 1.5 juta lebih. Dari jumlah ini semua kalau > dibuat hipotesis barangkali angka jutaan adalah perkiraan yang cukup > moderat. > > Salah satu dokumen yang sering dikutip adalah Wannsee protokol yang > memuat daftar orang Yahudi di berbagai negara. Dalam protokol tersebut > dibicarakan tentang 11 juta orang Yahudi. Registrasi dan data sensus > juga digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang Yahudi. Dr Roderich > Plate adalah bertanggungjawab terhadap sensus penduduk di Jerman. Ketika > Jerman berhasil menginvasi Polandia, Reinhard Heydrich yang turut > menghadiri konferensi di Wannsee menginstruksikan sensus penduduk. > > Gas Chamber. Ada baiknya sdr Cotan membaca artikel yang ditulis oleh > Daniel Keren, Jamie McCarthy dan Harry W. Mazal (The Ruins of Gas > Chamber: A Forensic Investigation of Crematoriums at Auschwitz I and > Auschwitz-Birkenau). Mereka menemukan tiga lubang bersama dengan temuan > lainnya dalam krematorium. > > Mengenai konferensi di Iran, saya menemukan satu surat kabar yang > mengulas pertemuan tersebut (Global Information Network, New York, > December 18, 2006, IRAN: STUDENTS BOO AHMADINEJAD OVER HOLOCAUST > CONFERENCE). Dalam satu wawancara kepada warga Iran biasa, pendapat > Ahmadinejad malah membuatnya bingung. Baiknya saya kutip pendapatnya: > > "I am not a learned man, but I have heard a lot about Jews in Nazi > concentration camps. It is history. How can one deny something the whole > world has witnessed? How can it be impossible to kill 6 million Jews in > several years when in Turkey they wiped out a million Armenians in just > a few days? Or in Bosnia only a few years ago?" says Ahmad, who runs a > small stationery shop in downtown Tehran. "Denying the Holocaust doesn't > change anything for the Palestinians. It makes it even worse. Our > president's weird ideas only serve to disgrace Iranians in the eyes of > the world and isolate them, but what can we do to stop this madness? " > > Apakah cerita ini benar demikian? Silahkan menghubungi wartawan yang > menulis artikel ini. > > Saya belum dapat mengumpulkan cukup data tentang siapa Toben. Tetapi > dalam sebuah jurnal akademik, Police Practice and Research, Vol. 6, No. > 2, May 2005, pp. 103119, artikel Steve James yang bertajuk The > Policing of Right-Wing Violence in Australia, mengutip informasi dari > anti-semit watchdog dari Tel Aviv University, mengatakan bahwa ekstrimis > sayap kanan dan neo-Nazi berada di Australia dan Toben adalah satu > jaringannya. > > Dalam paragraf akhirnya, sdr Cotan merasa bersyukur jika film > Schindler's List ditolak masuk di Indonesia. Dari sini terlihat bahwa > apa yang diutarakannya bukanlah bagian dari pengungkapan fakta sejarah, > tetapi menggunakan sejarah untuk kepentingan politik. > > Jika alasan penolakan holocaust lantaran perilaku Israel terhadap > Palestina ini agak membingungkan. Israel memang brutal terhadap > Palestina tetapi bukan berarti itu menjadi justifikasi untuk menyangkal > holocaust. Saya tidak sependapat terhadap perilaku Israel tetapi bukan > berarti saya harus menyangkal holocaust apalagi membuat analisa > konspiratif bahwa holocaust dipakai oleh Yahudi untuk mendirikan negara > Israel. > > Yang paling menyesakkan dalam diskusi holocaust adalah begitu > terobsesinya orang dengan angka. Bukannya menyamakan angka 1 dengan 2 > juta, tetapi esensi dari angka-angka itu adalah telah terjadi kejahatan > yang menjadi musuh ras manusia. Berkutat pada masalah angka akan membuat > kita jatuh para asumsi adanya hirarki dalam sebuah tragedi, dimana > tragedi yang satu kurang terkesan seram dan brutal ketimbang lainnya. > > salam > > Rahadian >
