Yo,i. 
  Saya sering mengamati jalannya politik di Indonesia tapi saya sangat banyak 
menemukan kekecewaan. PDI Perjuangan bilang bahwa mereka adalah partai oposisi 
dengan bipartisan. Tapi, itu hanya jadi slogan kosong ketika dalam pilkada DKI 
mereka ikut koalisi Partai Demokrat dan Golkar, yang nyata-nyata partai utama 
pembela SBY-JK. Begitu juga partai demokrat yang pada Pilpres putaran kedua 
minta bantuan PKS untuk mendukung SBY, dan diiyakan oleh PKS. Pada pilkada ini 
PD bersama koalisinya menganggap bahwa PKS adalah musuh ideologi. Inikan 
merusak bangunan tatanan politik yang sehat dan mendidik. Rakyat disuguhi 
kebingungan-kebingungan oleh sikap partai. Jika hipotesanya yang merekatkan PDI 
Perjuangan, Demokrat dan Golkar dan koalisinya adalah money politics. Dan 
setiap partai dikasih 40 milyar, maka total jumlah uang yang dikeluarkan untuk 
lima koalisi partai adalah 200 milyar. kita anggap gajih gubernur 1 milyar 1 
bulan. maka lima tahunnya adalah 60 milyar. Berarti dia rugi
 120 milyar dan harus balik modal. Pertanyaannya adalah sempatkah sang gubernur 
mengurus masalah rakyatnya ?
  Surya,

"/\\/\\ o + u |_ z" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sedih ya.. 
Kondisi ini sebetulnya sudah terjadi berulang-ulang. Dari kepemimpinan satu 
lalu pindah ke pemimpin berikutnya. Masyarakat nampaknya tidak bisa mengambil 
pelajaran masa kemarin untuk masa besok. Kita harusnya bisa melihat dan menilai 
siapa sih Fauzi Bowo, Adang, Agum, Rano Karno.. Tidak sulit rasanya jika 
masyarakat mau menilai dengan cara pandang yang lebih terbuka.

Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya POLITIK UANG, 
keduanya itu kakak-beradik. Menggalang modal untuk berpolitik, lantas mengeruk 
uang dengan politik. Dalam kondisi masyarakat yang saat ini tunduk kepada uang, 
uang menjadi alat beli politik yang ampuh. Tidak ada itu konsep pemimpinan, 
konsep pemberantasan kemiskinan, konsep pemerataan.. semua itu wacana bullshit.

Masyarakat miskin adalah tools politik yang ampuh, jika mereka hilang maka 
hilang pula amunisi berpolitiknya. Ini adalah bentuk kotornya politik yang 
tidak mengedepankan konsep bernegara dan berbangsa.

Pemilu lalu sudah pernah membuktikan bahwa RAKYAT punya suara yang paling kuat 
dibanding suara partai. Jangan hilangkan kekuatan ini untuk pilkada DKI. 
Indonesia masih similiar dengan Jakarta. Masyarakat Jakarta lah yang bisa 
mengubah cara pandang politik nasional.

Jika pilkada DKI buruk, maka itu adalah cerminan politik Indonesia.. makin 
gagal lah pembaharuan di negara ini.

Kita butuh seorang pemimpin kota ini yang tegas, berwibawa, dan pro kepada 
pembaharuan. Ya ini memang jargon klise.. apa boleh buat kita sudah hidup 
dengan kenyataan klise selama ini. Penegakan hukum yang klise, perekenomian 
yang klise, pemimpin yang klise, begitupula dengan masyarakat yang hidup dalam 
klise.. palsu.. munafik.. dan menindas.

Koq ya gak capek? hehehe..

Semoga warga kota Jakarta tidak BUTA atas apa yang dia lihat dan buta hati dari 
apa yang dia rasakan. Jangan mau dikadalin sama partai. Partai tidak punya hak 
untuk mengatur kita.. justru kita yang punya kekuatan mengatur partai.

Be smart!
Motulz

Kirim email ke