Setuju sekali. Seorang pemimpin harus dinilai dari karakter dan cara memimpin 
dan bukan dari permainan politik dan sok membela rakyat. Seorang pemimpin hanya 
butuh: 1 rumah, makan 3 x sehari, pakaian secukupnya, 1 mobil dinas beserta 
drivernya, serta jujur dan memperjuangkan hak rakyat. Kalau kita lihat 
pemimpin2 kita saat ini semua berdasarkan gensi, rumah harus mewah lebih dari 
satu diluar rumah dinas, mobil lebih dari 2, pembantu lebih dari 3, Satpam 3 x 
24 jam harus siaga, jalan2 ke LN dengan biaya negara, naik turun mobil harus 
dibukakan pintu (polio kaliii), dan masih banyak lagi yang nggak jelas dan 
semua adalah karena gengsiiii sekali lagi gengsi dan persaingan antar partai 
politik.
  Kenapa tidak mulai hari ini atau setidaknya besok kalian para pemimpin 
bersatu tanpa embel2 gengsi, melihat kebawah dan ngaca diri bagaimana 
sebetulnya penampilan kalian yang korupsi dan sudah tidak punya rasa malu 
menghadapi rakyat yang menderita. Coba rubahlah kelakuan kalian dan menerima 
apa adanya. Hidup hanya sementara dan buktikan bahwa kalian para pemimpin 
sanggup merubah sikap dan berbalik arah memperhatikan kepentingan masyarakat 
dan jangan berlindung dibalik kemungkinan2 yang ada antara lain para koruptor 
berlindung dibelakang surat keterangan dokter yang menyatakan yang bersangkutan 
sakit (asal jangan sakit jiwa), dan juga para dokter bersangkutan harus 
menyadari bahwa memberikan keterangan tidak sesuai keadaan kesehatan pasien 
juga melanggar sumpah dokter. Wis negaraku memang sudah bubrah dan bagaimana 
kita bisa membenahi kalau kekuatan2 atau kelompok pemimpin2 kita sudah berjanji 
hidup mewah bersama dan saling melindungi kepentingan masing2. Yang nggak
 sejalan akan tergilas oleh rekayasa mereka dan kepentingan kelompok2 tertentu. 
Maaf kalau saya salah memberikan komentar karena memang tidak semua bersikap 
seperti yang saya utarakan diatas, tapi minoritas akan tergilas oleh mayoritas 
dimanapun dibelahan dunia ini. Semoga suatu saat nanti ada dewa pelindung NKRI 
yang meluruskan hal2 negatif yang saat ini sedang berjalan.
   
  Salam
  BS

ade zuchri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          dear temans

kalau saya sih menanggap gelar atau titel itu gak
penting-penting banget, kenapa kita nggak mencoba
alamiah saja, kalau memang di Indonesia ini ada yang
pinter, cerdas, berperilaku yang baik dan mampu
membawa Indonesia ke dunia yang lebih "beradab"
ternyata dia sama sekali gak sekolahan, gimana?.

jadi perilaku yang baik, agung, bermartabat dan
memahami kehidupan dengan lebih arif dan tidak
mengambil banyak dari hidup ini jauh lebih
bermartabat, dibandingkan dengan orang yang sudah
sekolah sampai ssss nya nggak kehitung-hitung, tapi
ternyata suka korupsi, main perempuan, kalau ada
duitnya baru mau kerja, kalau nggak ada nggak mau,
sukanya jalan-jalan ke luar negeri peke duit rakyat,
menghambur-hamburkan duit rakyat, aduh punya pemimpin
kayak gitu mending enggak deh, saya lebih memilih
orang yang nggak sekolah secara "formal" tetapi lebih
punya kepekaan dan kemampuan diatas doktor, belajar
dengan alam dan kehidupan, memang fikirran kayak gini
pasti nggak akan diterima oleh orang-orang yang lagi
"haus' kuasa dan aura negative dan fikiran /nafsu
liarnya masih jalan, tapi sesungguhnya nggak ada yang
bisa kita ambil sangat banyak dari dunia ini kan,
ternyata kita cuma bisa makan paling banyak 3 kali
sekali, punya baju secukupnya dan tempat yang seadanya
untuk berlindung, coba difikir, kalau tuhan
menghendaki, dan tiba-tiba dia mencabut nyawa kita
dalam keadaan yang kemaruk, suka korupsi dan
mengumpulkan harta yang nggak bener, judi, narkoba,
ngesek dimana-mana, aduh matinya gimana ya..., jadi
anggota DPR yang katanya terhormat itu, nggak usah sok
memperjuangkan kepentingan rakyat dengan dalih ini
itu, karena sebenarnya yang mereka perjuangkan sama
sekali nggak bermakna, gak berarti, hakikat hidup
sebenarnya adalah, bagaimana dalam kekosongan,
kemiskinan, ketidak mampuan, ketidak berhargaan kita
mampu memaknainya dalam kesenangan, ketenangan dan
kesempurnaan.

ade
--- Edy P <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya tidak ngerti, siapa sih yang sedang kebakaran
> jenggot? Kok tiba-tiba muncul lagi upaya-upaya untuk
> mengeluarkan kriteria akademik yang tidak selalu
> sejalan dengan kualitas tampilan seseorang. Dulu
> ketika PDI-P meroket namanya dan kans Mbak Mega
> terpilih menjadi presiden besar muncul upaya
> mengganjalnya dengan isu "PEREMPUAN TIDAK LAYAK JADI
> PEMIMPIN (PRESIDEN)".
> Sekarang, ketika LSI mengeluarkan hasil survey-nya
> dan memperlihatkan bahwa PDI-P kembali menguat
> posisinya di mata masyarakat (penjawab pertanyaan
> survey tentunya) dan bertengger di posisi paling
> atas lalu muncul wacana DPR atau Presiden minimal
> harus S-1.
> Apa-apaan nih....kok sejak dulu model-modelnya atau
> gaya-gayanya sama. Bangsaku-bangsaku....!!!!!
> 
> Salam


         

 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke