Saya setuju dengan Mbak/Mas Ade, Harusnya takarannya adalah "common sense"  
dan kepekaan kepada akar masalah-masalah bangsa. Tentunya untuk menjadi peka 
itu  perlu diperlukan pengetahuan minimum dan logika yang baik. Nggak lucu kan 
kalau  pemimpin atau wakil bangsa kita tamat SD atau lebih parah lagi buta 
huruf  misalnya.. Wah itu kan bisa jadi musibah nasional.., kalau ini terjadi 
waduh  malunya kita sebagai bangsa Indonesia.
 
Saya rasa yang juga penting adalah "NIAT". Dalam  agama Islam,  NIAT ini 
selalu di urutan pertama dalam persyaratan segala kegiatan  baik ibadah atau 
non-ibadah. Harusnya kalau semua wakil rakyat atau yang  mengurusi bangsa ini 
punya 
niat yang ikhlas, kita nggak bakal jadi begini.  Moga-moga yang sekarang ini 
masih ada yang punya niat ikhlas. Amiin.
 
Wasalam,
 
Benyamin Rasyad
 
   
 
 
In a message dated 3/20/2007 9:47:28 P.M. Central Daylight Time,  
[EMAIL PROTECTED] writes:

dear temans

kalau saya sih menanggap gelar atau titel itu  gak
penting-penting banget, kenapa kita nggak mencoba
alamiah saja,  kalau memang di Indonesia ini ada yang
pinter, cerdas, berperilaku yang  baik dan mampu
membawa Indonesia ke dunia yang lebih "beradab"
ternyata  dia sama sekali gak sekolahan, gimana?.

jadi perilaku yang baik, agung,  bermartabat dan
memahami kehidupan dengan lebih arif dan tidak
mengambil  banyak dari hidup ini jauh lebih
bermartabat, dibandingkan dengan orang  yang sudah
sekolah sampai ssss nya nggak kehitung-hitung, tapi
ternyata  suka korupsi, main perempuan, kalau ada
duitnya baru mau kerja, kalau nggak  ada nggak mau,
sukanya jalan-jalan ke luar negeri peke duit  rakyat,
menghambur-hamburkamenghambur-hamburka<WBR>n duit rak
kayak  gitu mending enggak deh, saya lebih memilih
orang yang nggak sekolah secara  "formal" tetapi lebih
punya kepekaan dan kemampuan diatas doktor,  belajar
dengan alam dan kehidupan, memang fikirran kayak gini
pasti  nggak akan diterima oleh orang-orang yang lagi
"haus' kuasa dan aura  negative dan fikiran /nafsu
liarnya masih jalan, tapi sesungguhnya nggak  ada yang
bisa kita ambil sangat banyak dari dunia ini kan,
ternyata kita  cuma bisa makan paling banyak 3 kali
sekali, punya baju secukupnya dan  tempat yang seadanya
untuk berlindung, coba difikir, kalau  tuhan
menghendaki, dan tiba-tiba dia mencabut nyawa kita
dalam keadaan  yang kemaruk, suka korupsi dan
mengumpulkan harta yang nggak bener, judi,  narkoba,
ngesek dimana-mana, aduh matinya gimana ya..., jadi
anggota DPR  yang katanya terhormat itu, nggak usah sok
memperjuangkan kepentingan  rakyat dengan dalih ini
itu, karena sebenarnya yang mereka perjuangkan  sama
sekali nggak bermakna, gak berarti, hakikat hidup
sebenarnya  adalah, bagaimana dalam kekosongan,
kemiskinan, ketidak mampuan, ketidak  berhargaan kita
mampu memaknainya dalam kesenangan, ketenangan  dan
kesempurnaan.

ade
-

Kirim email ke