Mbak Mariana,
   
  Numpang bertanya ya? Pohon timbul itu pohon apa to mbak? Kok belum pernah 
dengar sebelumnya.
  Tapi saya membayangkan halaman rumah nya mbak Mariana ini seprtinya teduh dan 
nyaman. Apalagi kalau minum teh dan makan goreng ubi nya sambil duduk dibangku 
kayu panjang dikebun, ya? Pasti bisa santai sekali, kedua kaki bisa ber-sila 
dibangku, sambil cerita-cerita kesana kemari mengenai "Perempuan" Indonesia 
dimasa mendatang.
   
  Aduh....saya rindu pulang ke Semarang jadinya. 
  Karena rumah mbak saya di Semarang juga rimbun dengan segala pohon-pohon 
buah-buahan dan bunga-bungaan. Biasanya kita duduk diteras samping rumah 
dibawah pohon mangga "manalagi" sambil ngobrol. Dan makan makanan khas Semarang 
(Gembukan atau "bolang-baling"; Janggelut atau "cakwe" dan tentu saja lumpia 
Semarang). Mas saya yang asli Solo mengatakan "cakwe" itu Janggelut (bujang 
gelut). Saya sering tertawa kalu dia memakai nama-nama makanan yang lucu-lucu. 
   
  Karena saya tinggal di apartemen, jadi balcony saya sudah berubah menjadi 
kebun yang sangat rimbun dengan tanaman bunga-bungaan dan juga buah-buahan 
(mini). Pohon kemuning saya selalu berbunga dan bunganya wangi sekali, setiap 
malam kalau saya duduk diruangan tamu,  bau harum yang segar bisa tercium 
sampai kedalam apartemen. Dan anggrek-anggrek dan bunga sepatu kuning dan merah 
saya juga selalu berbunga.
   
  Tetapi pasti tidak serindang rumah mbak Mariana.
   
  Salam,
  Yuli
  
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kalau mau lihat hutan mini, silakan main ke rumah saya
di daerah percetakan negara, rumah saya kayak kampung,
bisa buat nongkrong sambil minum teh hangat,
masih ada pohon beringin, pohon timbul, pohon sukun, pohon sawo, pohon
kelapa, pohon mengkudu putih, dan tanaman yang dibiarkan
tumbuh liar, ikan-ikan dibawahnya, dan 6 katak berpasangan.
Kalau hujan mau datang kodok-kodok itu pasti pasti kongres
kasih alaram, trus kita siap-siap angkat jemuran.
Enak kayak di kampung...

Burung-burung liar yang bulunya menyala bagus juga masih
berkeliaran, walaupun banyak anak-anak kecil diajarkan
menyakiti binatang, membawa katapel dan membunuh burung-
burung itu tanpa tujuan, cuma sekedar menguji kegagahan.

Trus di dekat rumah ada pasar, namanya pasar genjing juga
masih ada taman yang tengah-tengahnya ada pohon beringin
gede banget dari jaman belanda.

Dulu waktu om-om saya masih merasakan jaman belanda,
dan mereka bikin buku harian, wuih, di taman genjing
itu penuh pohon dan belukar, dan sekitarnya masih
banyak rawa, semak, dan bunyi jangkrik krik, krik,
oh indah sekali saya membayangkannya.

Wah, kalau samapai ini digusur juga, sedih banget deh,
karena depannya pasar itu udah ada halte busway yang gede banget...
belum lagi hotel-hotel dll. Untung ditengah ada lahan kosong
dan tempat tumbuh satu pohon palm yang tinggiiiiiiiiii banget.

Mas Agus Hamonangan juga tetanggaan sama saya pasti tau hehehe...

Mariana

T

Kirim email ke