Mohon maaf kalau yang lalu tulisan/pendapat saya dianggap provokatif.  Memang 
sih setelah saya baca ulang, gaya bahasanya menimbulkan kesan tersebut.  Di 
awal tulisan saya istilah "mohon ijin" atau "kecepatan berapa" itu maksudnya 
berguyon ria. Istilah "mohon ijin" kan biasa kita dengar di satuan pengamanan / 
kepolisian / militer.  Istilah "kecepatan berapa" juga maksudnya berseloroh 
kok, tapi mungkin tidak pas ya?  Kadang apa yang ditulis tidak sama dengan apa 
yang dimaksud.  Sekali lagi maaf. Poin saya adalah kepentingan dan sudut 
pandang.  Karena itu, saya pertama-tama perlu sampaikan bahwa beberapa tahun 
terakhir ini saya bekerja sebagai Business Development di salah satu grup 
perusahaan.  Sebelumnya, sejak tahun 1992, saya bekerja sebagai reviewer/analis 
kredit di beberapa bank.  Saat saya bekerja di sektor perbankan cenderung 
sebagai pemerhati risiko.  Apalagi pihak otoritas, banyak menekankan azas 
prudential (kehati-hatian).  Jadi kepentingan dan sudut pandang saya saat itu, 
kurang lebih bergerak di posisi ideal.  Menganalisa dan mamantau dari jauh - 
dari Jakarta, padahal lokasi proyek di Kalimantan atau bahkan Papua. Tetapi 
saat ini - sebagai Business Development - saya berurusan langsung dengan sektor 
riil, lebih banyak di lapangan daripada di belakang meja.  Itulah yang merubah 
kepentingan dan sudut pandang saya sekarang. Nah, kembali ke Lapt .., eh 
kembali ke "Juara Merusak Hutan".  Saya perlu menyampaikan satu contoh data 
lapangan dan beberapa hal terkait.  Tengok lokasi potensial di salah satu 
kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.  Kabupaten ini merupakan salah 
satu hasil pemekaran.  Naasnya ternyata, 84% wilayahnya "di-claim" sebagai 
Hutan Lindung (HL), padahal di lokasi itulah potensi mineralnya berlimpah.  Hal 
ini mengakibatkan  PAD Kabupaten tersebut relatif minim.  Info lokasi HL tsb, 
agak telat diketahui.  Sampai-sampai bangunan Kantor Bupati dan Pejabat daerah, 
sudah terlanjur dibangun berdiri di atas HL !!
Sewaktu investor akan masuk ke daerah potensial tsb., hal ini menjadi hambatan. 
 Padahal ijin untuk eksplorasi (penyelidikan) telah di-release oleh Pemda 
terkait.  Untuk tahapan eksploitasi (penambangan), investor harus mendapat ijin 
dari Dephut di Jakarta.  Pejabat Dephut terkait pun, tergugah untuk site visit. 
 Di sanalah kenyataan didapati.
 
Seorang geologist mengatakan bahwa, peta HL di Indonesia sebagian besar masih 
buatan orang Belanda dulu.  Terutama untuk daerah-daerah terpencil di 
Kalimantan, Papua dan Sumatera.  Rupanya geologist ini telah merambah banyak 
hutan di Indonesia.(Yang mungkin kebetulan adalah,) Area yang diplot sebagai 
HL, ternyata merupakan daerah yang secara ekonomi layak tambang.  
 
**)  Hal ini kami alami juga di salah satu lokasi di Kalimantan Selatan.  
Kandungan batubara di lokasi tersebut sangat potensial, baik secara kuantitas 
maupun kualitas.  Dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menambang di 
HL, potensi tsb dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, 
bukan hanya ekonomi investor.
 
Salah satu ketentuan Dephut mengisyaratkan adanya citra satelit.  Citra satelit 
itulah yang kelak dijadikan patokan, karena arealnya luas. Konsultan bidang 
kehutanan mengatakan, bahwa citra satelit kita dapati dari NOAA / LANDSAT, yang 
notabene buatan luar negeri.  Indonesia belum punya.  Seorang konsultan 
mengatakan bahwa data software citra satelit tsb ternyata berupa peta 
berwarna-warni, yang bisa kita "klik" salah satu areanya dan bisa berubah dari 
hitam ke merah, atau merah ke hijau.  Artinya luasan hutan yang rusak dan yang 
tidak, sangat mudah direkayasa.  Satu-satunya pembuktian adalah datang langsung 
ke lokasi. Atas dasar inilah saya berpendapat bahwa metoda pengukuran rusaknya 
hutan, perlu dikaji lebih dalam oleh pihak-pihak yang kepentingannya berimbang. 
 Hal ini sangat sulit dilakukan tanpa bantuan teknologi, yang kebetulan kita 
masih impor dari luar negeri..... Nah terus, bagaimana kondisi masyarakat di 
sekitar area potensial tersebut?  Mereka mendukung!  Pertengahan Maret 2007 
saya berkunjung ke lokasi di Kab. Pasaman tadi.  Mereka mengeluhkan kondisi 
ekonomi yang terus menurun, apa-apa mahal.  Mereka terus berharap agar investor 
segera masuk.  Dengan demikian jalan akses dan infrastruktur lainnya dapat 
digunakan dan seterusnya swakelola bersama masyarakat.  Selama ini mereka 
terpencil dari kehidupan kota, bahkan dari jalan provinsi saja, harus masuk 
lebih dari 100 km.  
 
Beberapa waktu lalu, kita dengar bahwa kongres AS mengangkat kembali masalah 
Papua sebagai bagian NKRI.  Saya kebetulan punya data sumberdaya alam di Papua, 
termasuk hutan dan kandungan mineral di sana.  Atau yang sudah jelas, Proyek 
Freeport, ada emas ada tembaga.  Tapi Freeport di bawah penguasaan negara lain, 
bukan Indonesia.  Saya berpendapat bahwa kongres AS mempunyai kepentingan di 
Papua, baik sekarang maupun yang akan datang.  Dan..., data mereka jauh lebih 
lengkap dari kita.  
 Btw Mas Mulyadi, mungkin keterangan di atas bukan pencerahan.  Hanya 
pengalaman dan curhat.  Saya sependapat, bahwa soal kerusakan hutan sebenarnya 
adalah soal law enforcement aja.  Pengusaha tambang/hutan yang benar, 
seharusnya melakukan reklamasi hutan.  Hutan lindung yang telah di Pinjam 
Pakai, harus diganti 2 x lipat dengan hutan di lokasi lain.  Minimal HL di satu 
kabupaten adalah 30%.  Plus ketentuan lain yang berwawasan lingkungan.  Itu 
semua harus dilaksanakan. 
 
Saya setuju dengan Mbak Wenny, ini adalah diskusi.  Saya hanya berharap agar 
kita tidak selalu naif dan percaya terhadap suatu informasi.  Kadang kita saru, 
mana kawan mana lawan.  Lagian, saya lebih suka baca harian KOMPAS ditambah 
rutin "Majalah Tambang".  Jadi pastinya kepentingan dan sudut pandang saya agak 
berbeda. Boleh kan...?
 
 
 
 
Rgds / Tedy


To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Wed, 21 Mar 2007 14:50:10 
+0000Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Juara Merusak Hutan - Negara Pelaku 
"Holocust" Ekologi



Mbak Wenny, ada gunanya juga sih basa-basi minta ijin nya, karena menurut saya, 
isi tulisannya mas Tedy itu cukup provokativ. Masalah "kecepatan" yang 
dibicarakan disini kan bukan sedang ingin membandingkan Kwantitas kecepatan 
Yamahanya Rossi dengan Hondanya Gibernau, atau Ferrarinya Kimi dengan 
Mercedesnya Alonso. Melainkan jelas-jelas kecepatan F16 (peralatan pembabat 
hutan secara systematis) dengan Bajaj (parang petani pencari kayu bakar). Jadi, 
kalau tokh ada data yang akurat .. so what .. gitu lhooo !! Alias kaga ngaruh 
!! Ada Negara yang kawatir Indonesia akan maju berkat kekayaan alam nya sendiri 
?? Saya orang sini, masih belon ngeliat tuh ada tanda-tanda negara ini akan 
maju .. yang ada malah, nenek nya aja akan dijual kalo ada yang mau beli, 
apalagi kekayaan alam yang notabene sebenarnya milik Negara, bukan milik nenek 
moyang pemegang kuasa !! Apalagi Negara-negara maju tersebut, tau betul 
kebobrokan pejabat kita. Mau dapet untung semilyar dari Indonesia, tinggal 
kasih seratus juta aja sama yang punya wewenang, udah jingkrak-jingkrak tuh. 
Mau dapet ijin ape juga dianterin kerumah. Gitu aja kok repot .. buat apa pake 
ngeplat-ngeplot segala .. wong jenis dan tahun buatan mobil yang lagi seliweran 
dijalan raya aja bisa dikenali dari gambar satelit kok !! Kembali ke masalah 
lingkungan, benar sekali keadaan sekarang sangat sangat gawat. Kebetulan saya 
merasakan sekali "perubahan" Jakarta dan sekitarnya kearah yang sangat 
memprihatinkan ini, sampe-sampe, pernah sekitar 20 tahunan yang lalu saya 
pertanyakan pada diri dan lingkungan dekat saya: bertanggung jawab kah kita, 
bila kita melahirkan anak ke bumi yang seperti ini ?? Harapan apa yang kita 
dapat berikan pada mereka ?? Kini .. kondisi yang lebih baik tidak saya lihat, 
dan jawaban dari pertanyaan diatas pun belum dapat memuaskan .. c'est la vie?
Salam,

Bodo--- 

Kirim email ke