Rekan Lasma Siregar dan miliser FPK,
Peristiwa 30 September 1965, pengetahuan saya adalah bahwa peristiwa itu 
diawali oleh penculikan dan pembunuhan beberapa Jendral dan perwira AD, yang 
jenazahnya akhirnya ditemukan di sumur tua daerah Lubang Buaya (Pondok Gede), 
seperti yang sama2 kita ketahui. Pada peristiwa itu Jendral AH Nasution lolos 
dari maut, tetapi putrinya (alm.Ade Irma Suryani Nasution) menjadi korban. Let 
Kol Untung Samsuri, lalu mendeklarasikan Dewan Revolusi, sebagai Pusat 
kekuasaan Indonesia. Let. Kol Untung akhirnya ditangkap oleh pasukan KOSTRAD, 
demikian juga Brigjen Soepardjo, Kol. Latief dll. Tentu saja Dewan Revolusi 
yang dideklarasikannya gugur hancur. Kendali lalu dikuasai oleh Mayjen. 
Soeharto. Demikian seterusnya, sampai Pak Harto diangkat menjadi Presiden RI, 
1966 - 1998. Ke tujuh almarhum Jendral dan perwira AD yang jenazahnya 
dikeluarkan dari sumur di Lubang Buaya itu, akhirnya diangkat oleh Pemerintah 
sebagai pahlawan Revolusi. Kita kenang mereka setiap tanggal 1 Oktober, yang 
juga diperingati sebagai Hari Kesaktian Panca Sila. Memori saya peristiwa 30 
September 1965 itu, seperti pengulangan sejarah keris Empu Gandring. Ada 
pembunuhan berantai dari tokoh2 pelaku sejarah itu. Jendral dan perwira AD 
terbunuh, akhirnya Let Kol Untung dieksekusi oleh MAHMILUB. Mungkin begitu, 
maaf bila saya keliru.
Salam damai
IBA
  ----- Original Message ----- 
  From: Lasma siregar 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, March 22, 2007 11:37 AM
  Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] DICARI: Guru Sejarah Cerdas!


  Nampaknya sukar sekali mengajarkan sejarah kalau sampai kini
  kita masih saja belum jelas siapa dibalik peristiwa 30 September 1965!

  Apakah CIA, PKI, Dewan yang ini atau yang itu, Soekarno atau
  Soeharto dkk?
  Apakah tidak mungkin untuk dibuka kembali semua informasi dari
  mana saja buat jadi penelitian sejarah sebagai ilmu pengetahuan?

  Bagaimana dengan RMS, DI/TII, PRRI/PERMESTA, OPM, GAM
  dan berbagai front yang ini dan yang itu plus laskar ini dan laskar itu?
  Bagaimana kita menuliskannya dalam sejarah?

  Apakah ada rekan-rekan yang pernah jadi guru sejarah yang cerdas
  atau masih bertugas sebagai guru sejarah (yang cerdas)?
  Please explain deh!
  Makasih!

  Salam
  Las.

Kirim email ke