Melihat konvoi warga Perum Tangulangin aka korban lumpur panas yang dimuat di 
halaman 1 Kompas Jum'at (23 Maret), saya pikir lama-lama warga yg sdh marah + 
frustasi berpotensi menjadi "bonek", tinggal tunggu "trigger"nya saja.
Terlalu besar "social cost"-nya kalau sampai itu terjadi.
Mengutip pendapat seorang analis: "Gusti Ora Sare".

Salam.



----- Original Message ----
From: Bambang Soetedjo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, March 23, 2007 7:52:28 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Siasat busuk PT.Lapindo untuk menghindar 
dari pembayaran ganti rugi.

Terima kasih pak Eko atas penjelasannya.

Salam 
BS


EKO KERTAJAYA <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:

Salam

Wah Pak Bambang ini ketinggalan pesawat kayaknya...

Blok Brantas Sidoarjo ( yang sedang dilanda banjir Lumpur) awalnya hak 
kepemilikannya adalah 50% dimiliki oleh Lapindo Brantas Inc, selaku operator 
yang sahamnya dimiliki oleh Kalila Energy Ltd dan Pan Asia Enterprise, keduanya 
perusahaan asing yang mayoritas sahamnya dimiliki PT. EMP (salah satu 
perusahaan milik keluarga Bakrie), 32% milik PT Medco E&P Brantas ( dimiliki 
oleh PT Medco EI Tbk, salah satu perusahaan milik keluarga Panigoro) dan 18% 
milikSantos Brantas Pte Ltd dari Australia (tidak diketahui siapa yang 
dibelakang nya)
Setelah bencana mereka ramai2 menjual kepemilikannya , PT EMP menjualnya ke 
Freehold Group Ltd, sedangkan Medco menjualnya ke Group Prakarsa senilai USD. 
100 . Wow.........
Nah......sekarang bisa dianalisa sendiri khan, kenapa masalah ini 
berlarut-larut. Menurut saya sih...karena banyak kepentingan dan tidak ada 
itikad baik. Sederhana sebenarnya ?

Wasallam

Kirim email ke