Wah .. buat saya malah jadi engga jelas tuh .. yang jelas sama, hanyalah bila kepala kita dikemplang pake balok dari belakang, sama- sama modar. Jelas engga bisa dong dikatakan mereka menggunakan nuraninya untuk melakukan sesuatu yang dimengertinya sebagai "dosa" (apapun alasannya!!), ataupun dengan nuraninya merasa bahagia saat membantu rakyat, yang "kapan & bagaimana" nya mereka sendiri yang menentukan !!?? Bahwa kita semua adalah manusia yang pada dasarnya sama, ya ngga perlu dibahas mungkin .. sebab, coba bayangkan, anda dilindungi undang-undang (legal) selalu membawa senjata api dipinggang, ditambah lagi dengan "kondisi" yang agak gurem, bila tokh salah menggunakan senjata dimaksud, akan banyak jalan untuk "mengguremkan" kesalahan (asal jangan nodong atau bahkan nembak seorang dari lingkungan pejabat). Dengan sendirinya lah "nyali" anda akan tambah mantap, yang pada akhirnya tercermin pada: Sikap, Perilaku, Kepekaan perasaan (terutama harga diri), Nilai Benar-Salah, dlsb. Saya pernah punya kesempatan bergaul (bukan sekedar kenal) dengan anggota polisi dan militer Negara eropa daratan, di negaranya. Sungguh ngga bedanya dengan pegawai bank biasa. Ngga ada yang namanya nenteng beceng diluar jam kerja apalagi bawa pulang ke rumah. Ngga ada yang namanya petantang-petenteng atau privilege macam apapun. Saat kita ngobrol, baru terlihat bahwa seorang lebih mengerti tentang aturan tata tertib umum (yang Polisi), atau lebih mengerti akan strategi pertempuran (yang militer). Jadi "image" yang sudah tertanam pada diri saya (sebagai rakyat kecil di negeri ini) terhadap polisi & militer sama sekali engga berlaku. Contoh pengalaman lain lagi, disini, selama sepuluh tahun terakhir saya ditawarin beli beceng udah kaga keitung, dan yang nawarin, yah yang berseragam gitu, dan katanya "legal". Kembali lagi ke tulisan awal dari pak AH, kalo itu "message" nya bagi saya jelas, sebab bukan untuk membenarkan definisi "dosa" dengan nurani. Salam, Bodo
--- In [email protected], "suprijodio" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Ya jelas. Lha wong Pulisi itu MEMANG MANUSIA sejati kayak kita2. > Mereka perlu makan, perlu minum, perlu uang, perlu hiburan, perlu > istirahat. > Mereka juga kadang MARAH, kadang RAMAH. > > Dan ... > Mereka juga merasa dalam nuraninya, > bahwa pada saat mereka MENILANG, atau Meminta Uang kepada yg > berperkara, atau pada saat MINTA UANG kepada anggota yg PROMOSI ... > Adalah perbuatan DOSA. > > Dengan nuraninya pula mereka bisa merasa BERBAHAGIA, > dikala dapat membantu rakyat yg lemah dari perkara yg dihadapinya ... > > Mereka manusia. Seperti kita. > > Maspri
