Oleh Faisal Kamandobat 
Penyair, Eksponen Bale Sastra Kecapi Yogyakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/24/humaniora/3400499.htm
=========================

Apa perbedaan pengarang (aucthor) dan penulis (writer)? Pertanyaan 
sederhana yang tidak mudah dijawab, apalagi bila disusul beberapa 
pertanyaan berikut: bagaimana membedakannya? Apa ukuran yang kita 
gunakan? Kenapa dibedakan? 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui persamaan 
pengarang dan penulis. Kerja keduanya sama-sama berhubungan dengan 
bahasa. Bahasa dalam pengertian paling luas dan mendasar: formula 
yang membentuk kesadaran (bahkan ketidaksadaran, menurut 
psikoanalisis) dan pandangan hidup manusia. Seandainya terdapat 
seorang pengarang atau penulis mengaku mampu bekerja tanpa bahasa, 
orang tersebut bisa dibilang sedang berdusta. 

Ibu guru memberi pelajaran mengarang, murid-muridnya menulis cerita. 
Pak guru memberi tugas menulis karya ilmiah, para siswa menulis 
laporan penelitian. Mengarang sering diasosiasikan dengan karya 
sastra yang fiksional, sedangkan menulis dengan ilmu yang sifatnya 
faktual: seakan-akan mengarang sastra tidak memerlukan studi ilmiah, 
dan menulis karya ilmiah tidak memerlukan bahasa imajinasi yang 
fiksional. 

Bukan bentuk, tetapi fungsi 

Kita akan tahu asumsi tersebut keliru. Terbukti dengan adanya karya 
ilmiah yang ditulis dengan bahasa literer atau kental unsur 
sastranya. Filsuf, ekonom, dan ilmuwan politik Karl Marx menulis 
karyanya dengan bahasa yang literer, penuh simbol dan metafora, 
contohnya dalam Capital. Demikian pula Darwin yang terkenal dengan 
bukunya, The Origin of Species. 

Sebaliknya, terdapat banyak karya sastra yang penuh muatan ilmiah, 
dan mengolah fakta-fakta dengan metodologi tertentu. Umberto Eco 
misalnya, secara konsisten menggunakan logika abduksi sebagai metode 
dalam novelnya, The Name of the Rose. Demikian pula Jorge Luis 
Borges yang menggunakan labirin sebagai konsep (bahkan semacam 
metode) untuk membahas matematika dan metafisika dalam prosa-
prosanya, khususnya Tlon, Uqbar, Orbis Tertius, dan Perpustakaan 
Babel. 

Artinya, asumsi tersebut keliru karena adanya kesalahan dalam 
menentukan kategori. Seseorang disebut pengarang bukan karena sifat 
karyanya literer-fiksional, dan disebut penulis bukan karena sifat 
karyanya ilmiah dan faktual (barang siapa tetap menggunakan kategori 
ini untuk membedakan pengarang dan penulis, jalan pikiran orang 
tersebut pasti akan tersesat). 

Yang membedakan keduanya bukan bentuk bahasa, melainkan fungsinya. 
Fungsi bahasa bagi pengarang adalah untuk mencipta wacana, sementara 
bagi penulis untuk menyampaikan pesan. Marx, Darwin, Eco, dan Borges 
adalah pengarang, karena karya mereka melahirkan wacana. Sementara 
banyak karya sastra dan ilmiah yang tidak melahirkan wacana, dengan 
alasan yang berlainan; entah bahasanya kurang kuat, penalarannya 
kurang akurat, atau sekadar mengulang karya sebelumnya. 

Seorang pengarang niscaya menempatkan bahasa sebagai basis dari 
gagasannya, melampaui fungsi instrumentalnya sebagai media 
komunikasi. Gagasan seorang pengarang memberi bobot baru terhadap 
bahasa, sehingga mampu mengubah struktur kesadaran, pandangan hidup, 
dan landasan baru dalam memandang dunia. Adapun penulis menjadikan 
bahasa semata sebagai instrumen untuk menyampaikan pesan agar para 
pembacanya memahami makna yang disampaikan. 

Pengaruh yang mendasar 

Apa yang membuat sebuah karya sastra dan ilmiah menjadi wacana 
sehingga penciptanya layak disebut pengarang? Pertanyaan itu juga 
tidak mudah dijawab, karena banyaknya ukuran yang bisa digunakan, 
dan jangan-jangan kita akan salah lagi (dan lagi) dalam menentukan 
kategori. Tulisan ini kembali berusaha menjawabnya, dan jika jawaban 
itu ternyata kelak bisa dibuktikan salah, maka itu berarti kita 
telah menawarkan sepercik gagasan kepada pembaca, dan oleh sebab itu 
bolehlah disebut sebagai "wacana". 

Sebuah karya ilmiah bisa menjadi wacana karena di dalamnya terdapat 
tiga hal. Pertama, ide kreatif yang didukung dasar filosofi yang 
kuat. Marx bisa dikatakan adalah orang pertama yang mengemukakan 
hukum ekonomi sebagai hukum yang menentukan perkembangan masyarakat 
dan sejarah. Kebudayaan (seperti agama, negara, dan institusi sosial 
lainnya), dicipta semata agar manusia dapat mengatur kebutuhan 
ekonominya. Melalui budaya, agama, dan negara, manusia 
mendistribusikan kebutuhan ekonominya, bukan sebaliknya. 

Kedua, gagasannya memiliki pengaruh melampaui disiplinnya, bahkan 
pandangan hidup secara keseluruhan. Sebelum Darwin, Lamarck telah 
menggunakan teori evolusi untuk menjelaskan asal-usul manusia, 
tetapi Darwin-lah yang membuat teori evolusi berpengaruh melampaui 
disiplin biologi, seperti pandangan yang ditawarkan kitab suci serta 
dunia mitos. Lebih luas lagi gagasan Marx yang mengubah pandangan 
manusia tak semata secara teoretis, tetapi juga praksis. Kita tahu, 
di abad lalu komunisme menguasai sepertiga dunia. 

Ketiga, pemikirannya dapat dibuktikan kebenarannya. Darwin 
melahirkan teori evolusi dengan melakukan observasi terhadap 
serangkaian fakta-fakta ilmiah, demikian pula Marx dengan teori 
ekonominya. Gagasan mereka bukan spekulasi penalaran belaka, 
melainkan didukung bukti-bukti empiris. Tanpa itu, gagasan mereka 
akan rapuh, persis seperti mitos-mitos yang ditentangnya. 

Sastra tak jauh beda 

Bila karya ilmuwan menjadi wacana melalui tiga hal di atas, karya 
sastra tidak jauh beda. Membaca novel Eco, The Name of The Rose, 
kita akan mendapati ide yang didukung basis filosofis yang kuat, 
salah satunya bobot relevatif (kewahyuan) filsafat Aristoteles. 
Sebelum Eco mungkin sudah ada yang mengatakannya, tetapi Eco 
melakukannya secara lebih konstruktif dengan cara menghubungkan ide 
tersebut dengan berbagai ide yang menentang dan yang mendukungnya, 
termasuk filsafat Abad Pertengahan yang terkungkung teologi 
apokalipsis. Demikian pula Borges, yang secara konstruktif memberi 
bobot filosofis terhadap labirin, dan melalui itu ia mencipta model 
berpikir tertentu. 

Karya Eco dan Borges juga berpengaruh hingga di luar disiplinnya. 
Novel Eco tak hanya mengubah pandangan manusia terhadap novel, 
tetapi juga terhadap agama dan filsafat Abad Pertengahan. Demikian 
pula Borges, karyanya berpengaruh secara generik terhadap filsafat 
dan ilmu pengetahuan. Eco sendiri, bahkan Michael Foucault, adalah 
filsuf dan ilmuwan yang menimba ilham dari prosa-prosa Borges. 

Lalu apa gagasan dalam karya sastra dapat dibuktikan secara ilmiah? 
Tak terhitung karya sastra yang penuh muatan ilmiah, karena 
sastrawan lazim menggunakan disiplin tertentu dalam menciptakan 
karyanya. Namun, bukan di situ posisi unik sastra dalam hubungannya 
dengan ilmu. Bila Marx dan Darwin mengajukan pertanyaan filosofis 
dan menyelesaikannya secara ilmiah, sastra membaca kesimpulan ilmiah 
melalui serangkaian pertanyaan imajinatif sehingga dari sana terbuka 
wilayah baru bagi spekulasi para filsuf dan ilmuwan, persis seperti 
pengaruh Borges dan Eco terhadap khazanah humaniora kontemporer. 

Kita juga memiliki karya-karya ilmiah dan sastrawi yang sebetulnya 
memiliki karakteristik seperti karya-karya mereka yang "pengarang" 
dan bukan sekadar "penulis". Pemikiran Tan Malaka, sajak-sajak 
Chairil Anwar, dan prosa-prosa Iwan Simatupang di antaranya. 

Lalu kenapa karya mereka tidak punya pengaruh mendasar di luar 
disiplinnya? Jawabannya, karena mereka adalah orang- orang cemerlang 
yang hidup di tengah bangsa dengan tradisi pengetahuan yang buruk 
(kita berharap jawaban ini salah). Bangsa yang belum memiliki 
tradisi pengetahuan yang kuat membutuhkan banyak "pengarang", bukan 
sekadar "penulis". 

Salah satu bukti karya ilmiah, filsafat, dan sastra yang melahirkan 
wacana adalah ketika ia menjadi tonggak dalam disiplinnya. Misalnya 
dalam membahas kapitalisme (baik ekonomi, politik, maupun budayanya) 
kita tidak bisa lepas dari landasan yang diberikan Marx. Begitu pula 
mengenai asal-usul manusia sulit lepas dari Darwin. Novel Eco tidak 
bisa dilewati ketika kita membahas dunia Abad Pertengahan, juga 
Borges dalam kaitannya dengan sastra filsafi dan fantasi. 

Katakanlah, karya mereka memiliki otoritas terhadap wacana. Chairil 
Anwar memiliki otoritas terhadap puisi Indonesia modern. Sulit 
bicara puisi Indonesia modern tanpa Chairil Anwar. Demikian pula Tan 
Malaka dan Iwan Simatupang dalam filsafat dan prosa di negeri ini. 
Nama-nama mereka—termasuk tentu saja Marx, Darwin, Eco, dan Borges—
sering disebut bukan sekadar nama melainkan semacam "istilah" yang 
merujuk pada gagasan tertentu yang pengaruhnya luas. Itu membuktikan 
mereka adalah pengarang (author), mempunyai "otoritas" terhadap 
wacana, dan bukan sekadar penulis (writer) yang menyampaikan 
sebuah "pesan". 

Apa yang kita inginkan, pengarang atau penulis? Kita tak bisa 
menjawabnya kecuali dengan berdusta. Karena, secara etos mereka yang 
penulis lebih elegan bila bekerja layaknya pengarang, sedangkan 
secara etis mereka yang pengarang lebih elegan bila tetap memandang 
dirinya sekadar penulis. Sejauh ditempatkan pada konteks etis dan 
etos itulah polemik seputar "kematian pengarang" (the death of 
author) yang diusung Roland Barthes dan ramai didiskusikan beberapa 
tahun silam di sini relevan untuk direnung. 

 



Kirim email ke