Oleh Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/urban/3398505.htm ==========================
1. Saya diingatkan salah satu klien saya, bila mau berbisnis, harus dipikir masak-masak. Maksud saya bukan masak bisa, masak susah, masak gitu sih. Maksudnya pikirkan matang-matang, terutama harga yang harus saya bayar saat memutuskan memulai bisnis. Katanya lagi, jangan mengobral janji. Kalau saya tak mampu dari awal membayar harganya, jangan coba-coba "berutang". 2. Nasihat kedua dia, jangan jadi pengecut. Kata dia, kalau saya mau terjun dengan benar dalam bisnis, jangan setengah-setengah. Itu sama dengan perkawinan, katanya. Kalau saya sudah memutuskan menikah, berbesar hatilah menanggung segala risikonya. Jangan susah sedikit terus mau selingkuh atau mau cerai. Ia malah mengingatkan janji sehidup semati dalam susah dan senang. "Lo janjinya sama Tuhan, lho," katanya. "Jangan cuma mau hartanya saja," lanjutnya menasihati. Wah... saya senang sekali dengan nasihatnya yang kedua ini. Pertama, saya belum pernah memutuskan menikah. Terpikirkan saja tidak. Terlalu malas membayar harganya. Kedua, berjanji sehidup semati pun belum pernah juga. Yang pernah, malah saya hidup dan orang lain mati. "Benar juga ya, Jeung. Seekor anjing, artinya cuma satu anjing. Jadi, sehidup, cuma satu yang hidup. Waduh... lo emang pinter banget, deh. Ngomong-ngomong, otaknya buatan mana, Mas?" celetuk teman saya. 3. Nasihat terakhir dari klien saya itu adalah jangan menyuruh orang lain membayar harga yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya. "Itu kurang ajar namanya," katanya. Saya lalu bercerita, saya sedang mau belanja, uang tak ada, kemudian memakai kartu kredit. Jadi, saya mau gaya, tetapi orang lain yang disuruh bayar duluan. Akhir bulan baru saya bayar. "Belum tentu. Malah mungkin lo cuma bayar batas minimumnya," katanya lagi. Teman saya dari perbankan nyeletuk, "Karena itu, kami ada untuk Anda." 4. Hari Sabtu lalu saya dinasihati teman wanita saya. Kalau seseorang membayar harga, artinya sesuatu harus dikeluarkan, baik berupa uang ataupun tindakan Dengan membayar itu saya akan menerima kembali apa yang sudah saya keluarkan. "Kalau lo berutang, misalnya, dan lo berniat mengembalikan, lo akan merasa lega. Perasaan lega itu adalah imbalan yang kembali ke lo dan orang akan memberi penilaian bahwa lo orang yang bisa dipercaya," katanya menjelaskan. Apabila saya tak mau membayar harga, jadi saya menahan uang atau tindakan yang harus saya keluarkan, maka imbalan yang baik tak akan datang kepada saya. "Kalau lo enggak bayar utang, maka bank atau debt collector akan mengejar lo," katanya lagi. Jadi, menurut dia, dengan satu kalimat disimpulkan demikian. Give and you will be given!
