Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Psikolog 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/konsultasi/3398496.htm
=====================

Apakah yang dimaksud dengan kata kesesuaian pada topik kali ini? 

Ada tiga jenis kesesuaian yang menjadi bahan diskusi para pakar 
perkawinan, yaitu kesesuaian pertama, kedua, dan ketiga (Whipple 
et.al.). 

Dalam kesempatan ini yang akan dibahas hanyalah kelompok kesesuaian 
pertama karena rangkaian keenam aspek kesesuaian pertama ini dinilai 
sebagai bahan pertimbangan mendasar bagi setiap orang yang hendak 
menentukan siapa orang yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak. 

Kejadian perceraian yang semakin marak pada dua dekade terakhir ini 
memaksa kita berpikir ulang tentang sejauh mana kesesuaian kita 
dengan pasangan hidup dan bagaimana menyiasati kondisi kesesuaian 
yang ternyata semakin kritis di antara kita dan pasangan. 

Ada enam komponen kesesuaian pertama seperti diuraikan di bawah ini. 

1). Sosiabilitas, hal ini menyangkut sejauh mana kebutuhan seseorang 
akan kehadiran dan minat terhadap orang lain. Orang yang mempunyai 
kebutuhan besar untuk bergaul dengan banyak orang lain tentu saja 
sering berkeinginan berkumpul bersama dan melakukan berbagai 
aktivitas dengan banyak orang. Bahkan, dia juga merasa senang 
dikelilingi orang-orang yang ia sukai. Jadi, masalah besar akan 
muncul bila ternyata istri/suaminya adalah seseorang yang justru 
kurang suka bergaul dan lebih merasa nyaman dalam kesendirian dan 
kesenyapan. 

2) Dimensi stabilitas-labilitas emosi. Dalam hal ini, orang yang 
relatif stabil emosinya akan dapat diajak bekerja sama membangun 
keluarga bahagia daripada orang yang labil, neurotis, psikotis, atau 
psikopatis. 

Kecuali itu, seseorang berkepribadian neurotis intens pun akan 
kesulitan menerima kasih dan perhatian dari suami/istrinya. Orang 
tipe ini kehidupannya diliputi kecemasan, kecurigaan, dan 
ketidakyakinan diri secara berlanjut sehingga sulit untuk yakin dan 
percaya terhadap cinta kasih yang dilimpahkan pasangannya. 

3). Dimensi dominan-submisif. Masalah akan sering muncul bila salah 
satu pasangan memiliki kecenderungan secara kuat mendominasi 
pasangannya. Dua orang dominan yang hidup dalam satu atap seyogianya 
menentukan area kehidupan perkawinan mana yang menjadi haknya dalam 
mendominasi. Dengan demikian, kemungkinan konflik bisa dikurangi. 

Dalam hal ini, mungkin saja seseorang yang sadar dirinya pribadi 
dominan secara sengaja memilih pasangan yang submisif agar terjadi 
komplemen dalam perannya. Dengan demikian, relasi harmonis dan 
membahagiakan kedua belah pihak dapat juga terjalin. Cara ini menjadi 
salah satu alternatif yang bisa dipertimbangkan agar kesesuaian masih 
dapat diraih. 

4). Kecerdasan. Perbedaan besar dalam taraf kecerdasan membuka 
peluang kesulitan yang tidak teratasi bagi kedua pasangan, apalagi 
bila di antara mereka memiliki perbedaan besar dalam hal minat, 
ambisi, serta kemampuan komunikasi. Biasanya konflik yang terjadi pun 
menjadi sulit dicari solusinya. 

5). Kebutuhan seksual. Kesempatan pasangan perkawinan untuk 
berbahagia dan mendapat kepuasan dalam relasi seksual akan meningkat 
bila kedua pasangan memiliki taraf kebutuhan seks relatif sama. 
Secara ideal, seyogianya kedua pasangan memiliki taraf kebutuhan 
dalam kisaran rendah, moderat, atau tinggi. Sebesar apa pun tarafnya 
tidak penting, asalkan relatif sama bagi pasangan perkawinan 
tersebut. 

6). Gairah dan energik. Sebagian orang memiliki gairah dan energi 
mental yang besar sehingga mereka tidak bisa diam, bergerak terus, 
dan selalu punya rencana aktivitas berlanjut. Sementara itu, orang 
lain dengan tingkat energi yang rendah tentu saja akan lebih cepat 
merasa puas dengan apa adanya dan kurang bergairah melakukan 
aktivitas berlanjut. Mereka juga penikmat, dan bila menikmati sesuatu 
sering tidak terbatas waktunya, suka leha-leha serta terkesan sebagai 
pemalas. 

Lagi-lagi, pasangan perkawinan yang memiliki perbedaan besar dalam 
tingkat gairah dan energi pasti akan menghadapi banyak konflik yang 
membuat kedua belah pihak akhirnya merasa tidak nyaman dan tidak 
berbahagia. 

Kecenderungan sama 

Dengan kata lain, kepribadian kedua pasangan dalam ikatan perkawinan 
seyogianya menunjukkan kecenderungan-kecenderungan yang analog 
sehingga peluang membangun keluarga bahagia akan lebih besar. 

Contoh lain, seorang laki-laki yang memiliki aspirasi tinggi akan 
karier di kantor akan menghabiskan waktu yang banyak untuk bekerja. 
Untuk itu, ia membutuhkan istri yang memahami hasrat ambisi karier 
suami dan yang sekaligus memiliki penilaian terhadap karier suami 
sebagai hal yang menempati posisi terpenting dalam hidupnya. Atau 
sebaliknya, bila justru yang memiliki ambisi berkarier adalah pihak 
istri. 

Nah, sudah saatnya kita mencoba menilai kehidupan perkawinan kita, 
sejauh mana keenam aspek kesesuaian tersebut ada dalam keluarga kita. 

Yang perlu kita simak bersama, bila hanya ada beberapa aspek yang 
sesuai, tidak berarti kita harus menceraikan istri kita atau 
menggugat cerai suami kita. 

Mengapa? Karena bercerai belum tentu merupakan solusi terbaik. 
Jawablah pertanyaan berikut: bisakah kekurangan dalam aspek 
kesesuaian tertentu dikompensasikan dengan aspek kesesuaian lain yang 
sudah ada di antara kita dan suami/istri sehingga kadar penyesuaian 
kita dengan istri/suami dapat perlahan-lahan meningkat demi 
kelanggengan ikatan cinta kasih dalam perkawinan yang selama ini 
sudah kita jalin bersama? Semoga.... 



Kirim email ke