Saya sering tak habis pikir, sebenarnya mereka yang
kita percayai untuk duduk di atas sana sebagai anggota
DPR/DPRD manusia apa sih? Pemimpin atau anak buah?
Pemikir atau kuli panggul? Orang yang punya integritas
atau calo? Pejuang atau orang cari makan? Pejabat atau
cecunguk?

Saya tiba pada pertanyaan-pertanyaan di atas karena
akhir-akhir ini banyak sekali argumen (terutama dari
anggota DPR) yang membuat saya jadi meragukan kwalitas
mereka:

1. Kami memerlukan banyak studi banding agar kami
cakap dalam melaksanakan tugas....

Rakyat memilih seseorang untuk duduk menjadi anggota
DPR/DPRD didasarkan oleh asumsi bahwa mereka memang
adalah orang yang cakap untuk jabatan tersebut. 

Dan masa jabatan itu pun sangat terbatas. (Hanya lima
tahun). Terlalu mahal biaya yang harus ditanggung
rakyat kalau ia masih harus "memoles" atau mengirim
seorang anggota DPR/DPRD untuk studi banding. 

Lagipula, setelah memiliki keahlian tertentu, belum
tentu seorang anggota DPR/DPRD akan menduduki jabatan
yang sama pada periode lima tahun berikutnya. Kalau
seseorang tidak lagi terpilih oleh rakyat untuk
menjadi anggota DPR/DPRD maka ia harus menyingkir. Ia
tidak bisa tetap gentayangan di kantor DPR/DPRD
Bupati. 

Pendidikan (termasuk studi banding) hanya pantas
diberikan kepada seseorang yang menduduki jabatan
karir, karena untuk jangka waktu yang lama orang itu
masih diharapkan menangani tugas dan tanggung jawab
yang sama. 

Anggota DPR/DPRD bukan jabatan karir. Itu adalah
jabatan politik.


2. Kami memerlukan gaji, uang transport, asuransi
kesehatan, tunjangan pensiun, dsb. agar bisa
melaksanakan tugas dengan baik....

Jabatan sebagai anggota DPR/DPRD bukanlah profesi. Itu
adalah panggilan dan pelayanan. Adalah lucu kalau kita
membanding-bandingkan gaji seorang anggota DPR/DPRD
dengan gaji seorang pegawai negeri sipil eselon
tertentu atau Dirut BUMN/BUMD. 

Boleh-boleh saja seorang anggota DPR/DPRD memperoleh
imbalan yang lebih rendah daripada seorang pegawai
negeri sipil eselon tertentu  atau Dirut BUMN/BUMD.
Tapi angota DPR/DPRD berhak memanggil pegawai negeri
sipil eselon tertentu atau Dirut BUMN/BUMD. 

Dan sebaiknya tak usahlah struktur imbalan anggota
DPR/DPRD itu dibuat dengan struktur "aneh-aneh" (uang
komunikasi, uang kesehatan dsb). Cukuplah hanya ada
uang kehormatan dan uang penggantian
transport/konsumsi/akomodasi rapat dan tugas-tugas
lainnya.

3. Kami memerlukan laptop agar bisa bekerja lebih
baik.....

Seorang anggota DPR/DPRD hanya perlu berpikir dan
berbicara dengan baik dalam mengutarakan pikirannya.
Ia tak perlu mencatat-catat. Ada "segudang" pegawai
sekretariat DPR/DPRD yang siap melayani. Dan kalau
seorang anggota DPR/DPRD (apalagi kalau umurnya sudah
relatif lanjut) tak berminat atau tidak terbiasa
memakai laptop, maka untuk apa memberinya laptop?

4. Kita memerlukan presiden yang (minimal) bergelar
sarjana S-1.....

Tak heran kalau dari kumpulan anak buah, pekerja
kasar, calo, orang cari makan dan cecunguk, datang
pikiran cupet seperti di atas.

Tak usahlah pendidikan minimal dijadikan syarat bagi
seorang pemimpin sekaliber presiden. Rakyat cukup
cerdas untuk mengamati dan memilih siapa yang layak
untuk dijadikannya sebagai presiden. Dan di dunia ini
tak ada negara yang memberi syarat pendidikan minimal
(S-1) bagi presidennya.

Sama halnya seperti anggota DPR/DPRD, maka jabatan
Presiden/Gubernur/Bupati bukanlah sebuah jabatan 
teknis dan membutuhkan keahlian khusus. Kwalitas yang
dibutuhkan untuk jabatan-jabatan itu adalah kwalitas
kepemimpinan, pemikiran, integritas, dan kejuangan.

5. Untuk bisa mengikuti pemilihan umum, maka partai
harus memiliki deposit uang sekian miliar....

Astaga! Kita ini membicarakan partai politik atau
membicarakan bank perkreditan rakyat? 

6. Partai politik adalah pilar demokrasi. Karena itu
adalah wajar kalau negara memberinya tunjangan uang,
kantor dan fasilitas lainnya....

Ini omong-kosong apa lagi? Pers juga pilar demokrasi.
Universitas juga pilar demokrasi. Rakyat yang
mengikuti pemilihan umum dengan damai dan
bertanggung-jawab juga pilar demokrasi. 

Akh, bagaimana masa depan sebuah bangsa dan negara,
kalau kwalitas negarawan yang seharusnya dimiliki oleh
para penyelenggara negara itu (terutama para anggota
DPR/DPRD-nya), kini telah diredusir habis-habisan
menjadi kwalitas tukang dan orang cari makan?

Horas,

Mula Harahap
   



  


 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke