He he he .. menarik juga nih cara berpikir yang begitu ringkes !! 
Tapi coba bila ada waktunya, renungkan pemikiran kasar yang mungkin 
agak "njlimet" ini: Kita adalah bagian dari masyarakat suatu NEGARA 
yang berlandaskan UUD, yang sudah tentu masing-masing mempunyai Hak 
dan Kewajiban. Salah satu HAK dari masyarakat yang turut menjalankan 
pemerintahan, adalah mengumpulkan dana dari setiap anggota 
masyarakat (termasuk dirinya) yang terwajibkan membayar, baik 
melalui NPWP pribadi, maupun pihak lain (postingan mas Putra sudah 
menjelaskan hal ini). Bersamaan dengan itu mereka (pemerintah) 
diWAJIBkan mengatur penggunaan dana terkumpul (baca: Uang Negara) 
dengan salah satu Kriteria tertingginya adalah, meningkatkan 
kesejahteraan Masyarakat seluas-luasnya. Kita yang menamakan diri 
rakyat kecil (lebih dari 90% lho!) berHAK merasakan kesejahteraan 
dimaksud (bukan dengan dibagi-bagikan duit), dan berkeWAJIBan 
(minimal) bersikap kritis secara positif terhadap rencana, maupun 
pelaksanaan dari kebijakan yang akan, maupun sedang dijalankan. 
Sedangkan faktanya di Negara kita sekarang, jauh lebih dari separuh 
rakyat kecil kita, tidak/belum mau dan atau tidak/belum mampu 
mewujudkan kewajiban minimalnya itu. Oleh karena itu, kita tiap hari 
masih disuguhi "dagelan", karena mayoritas rakyatnya memang masih 
bisa dan mungkin seneng "didagelin" (tau bener apa engga tuh 
istilah?)
Nah sekarang kalo kita mau kembali ke laptop, itu sih menurut saya 
boleh-boleh aja, tapi .. apabila diseantero republik kita tidak ada 
lagi gedung sekolah yang dikit lagi ambruk, menyusul yang udah 
keburu ambruk. Atau contoh lain, yang makan nasi aking, yang puasa 
karena beras mahal, yang mati karena ngga punya duit untuk berobat, 
atau yang belon mati tapi menderita hydrocepalus digubug reotnya. 
Wah buanyak lagi .. yang kalo dibandingkan dengan ngomongin laptop, 
saya jadi merasa amat sangat luar biasa dungu dan tidak bertanggung 
jawab. Jadi sekali lagi saya mohon, jangan membayangkan Agung 
laksono muter ke gubug-gubug orang miskin ngumpulin duit buat beli 
laptop. Walau saya pribadi lebih setuju itu, sebab kita pasti ngga 
sempat diskusi kayak gini, dia udah keburu babak-belur dikemplangi 
orang buanyak.
Salam,
Bodo


--- In [email protected], "cahyadi_juananda" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Justru itu yang saya pertanyakan Bang, dana itu kan tidak diambil
> dari rakyat kecil seperti saya contohnya, tapi diambil dari orang
> kaya raya, menurut saya ya lebih baik biarin saja, toh jika TIDAK
> DIBELIKAN laptop, toh juga TIDAK MUNGKIN DIBAGIKAN ke kita-kita ini
> kok, ya tidak?
> 
> Jadi istilahnya biarlah uang setan itu dimakan jin....hehehehe
> 
> salam
> cahyadi
> 
> 
> --- In [email protected], "bodo_kerlchen"
> <bodo_kerlchen@> wrote:
> >
> > Hallo Bang junior,
> > Maaf celetukan saya, Jawaban dari pertanyaan anda: "TIDAK SALAH".
> > Segala macam PP atau BB yang disebutkan itu tentu dipungut dari
> > warga yang WAJIB BAYAR, mau itu rakyat kecil, atau rakyat gede !!
> > Yang penting, penggalangan dana tersebut oleh Negara, bukan
> > diperuntukkan buat hal-hal yang BULLSHIT, melainkan untuk
> > kepentingan masyarakat seluas-luasnya, yaitu rakyat kecil dan 
gede.
> > Bahwa pembelian laptop buat mereka itu sesuatu yang, baik
> > secara "fungsional" maupun "kepantasan", sangat tidak masuk akal
> > sehat, sebenarnya mereka (pendukung) pun sadari itu, oleh karena
> > itu, perhatikan argumentasi mereka, seperti seorang rekan kita
> > pernah uraikan, yaitu "hitam putih", bahwa misalnya: "anggarannya
> > sudah disetujui" .. dan tetek-bengek lainnya !!
> > Salam,
> > Bodo
>


Kirim email ke