Kasihan kita ini, pakai topeng badut terus, bagaimana kita bisa
bahagia?  bagaimana orang lain mau menerima kita?  akan selalu ada
pertanyaan, tuluskah dia?

bisa dipercayakah dia?

benarkah dia?

itulah yang menghambat hidup kita, topeng kita.

salam,
GG

--- In [email protected], Lasma siregar
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nampaknya "topeng" ini merupakan keperluan kita
>   sehari-hari seperti halnya makan dan tidur.
>
>   Apa lagi saat kita ber-ABS (asal bapak senang) dengan
>   seseorang yang lebih penting dari kita ini.
>   Topeng terpasang dan kita langsung bersandiwara agar
>   dirinya bisa kita manfaatkan...
>
>   Inilah hidup yang katanya adalah panggung sandiwara
>   dimana kita semuanya punya peranan, adegan dan babak
>   dimana kita beraksi...
>
>   Kita menyesuaikan diri dengan orang lain, masyarakat, situasi
>   dan kondisi.
>   Siapa tahu tanpa sadar kita sudah punya seribu topeng?
>   Siapakah diri ini sebenarnya?
>   Kadang-kladang kita bisa tak tahu diri atau lupa diri....
>
>   Apakah ada kemungkinan bisa sukses dalam hidup di alam fana
>   ini tanpa topeng?
>   Tanpa sandiwara dan mencoba menyesuaikan diri?
>   Bagaimana koleksi topeng kalian rekan-rekan sekalian?
>
>   Salam
>   Las.
>
>

Kirim email ke