VISI SAYA UNTUK INDONESIA Visi saya untuk Indonesia sangat sederhana sekali tidak "Mengerikan" seperti angannya Anthony Salim dengan Yayasan Indonesia Forum (YIF) Indonesia 2030.
Sebagai orang Indonesia yang nekat ke LN bermodalkan "dengkul" untuk mendapatkan ilmu dan bekerja. Namun demikian sangat besar pula keinginan saya untuk pulang kekampung Betawi ditahun 2012. Dengan latar-belakang pendidikan arsitektur dan pelayanan jasa, saya sudah membuat dan menyiapkan konsep sederhana untuk rencana kedepan dikampung. Konsep sederhana tersebut adalah: Menyiapkan saudara-saudara Indonesia saya yang putus sekolah atau hanya tamatan SMA - belum beruntung mendapatkan pekerjaan dan keberanian membuka usaha sendiri - untuk mendapatkan pelatihan keterampilan teknik dan jasa pelayanan dengan dengan masa pelatihan tidak lama (seminggu atau 40 jam), tepat, bertanggung jawab tanpa membayar alias gratis! Agar kelak memiliki percaya diri untuk bekerja dan usaha sendiri atau setidak-tidaknya ketika melamar pekerjaan telah siap bekerja karena memiliki keterampilan. Katakanlah tempat pelatihan tersebut bernama "BPPT" Bengkel Pemuda- Pemudi Terampil. "BPPT" bukan organisasi politik, dan non partisan, tidak mengenal batasan agama, ras, suku, golongan dan etnik. Pendiri, pengurus, peserta pelatihan tidak diperbolehkan melakukan tindakan seperti pengemis (panhandler), minta-minta dipinggiran jalan, area pertokoan, perkantoran, ruko, atau mengetuk pintu dari rumah kerumah membawa selebaran dengan nama "BPPT" Untuk mewujudkan "BPPT" tersebut saya tidak bisa sendirian. Butuh bantuan orang lain yang memiliki sama pandangan dan tujuan untuk ada yang menjadi pendiri, pengurus, tenaga sukarela sebagai pengajar. Butuh orang lain sebagai sahabat yang bisa memberi saran, berdebat, kritik, masuk- bahasan. Butuh bantuan orang lain sebagai penyumbang dana, sarana, dan kebutuhan. Pemberi sumbangan bisa berasal dari perorangan, perusahaan, badan usaha, partai politik, perkumpulan sosial, dsb. Sumbangan tersebut bisa dalam bentuk apapun termasuk uang atau semisal: peralatan teknik, pertukangan, dan alat-alat Bantu kerja berlistrik ataupun manual (baru dan bekas, jika harus membeli dengan harga murah namun berkwalitas), atau juga seperti: peminjaman unit ruko, rumah, bengkel, gudang atau lahan 500 m2. Jika harus membeli, sewa atau kontrak, tentunya diharapkan dengan harga sangat murah.Buku-buku bekas yang layak. Lokasi "BPPT" untuk proyek pertama berada di wilayah hukum Jakarta atau sekitarnya secara sah dan diakui, memiliki kekuatan hukum, tercatat di notaris. Idealnya semoga terus ada diseluruh daerah di Indonesia. Segala bentuk sumbangan yang diberikan / didapatkan dalam bentuk apapun. harus selalu tertib, resmi dicatat, terbuka, ada perjanjian tertulis, memiliki kekuatan hukum, dan dapat dipertanggung jawabkan kelak. Saya berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan semoga panjang umur dan dapat mewujudkan visi saya yang sederhana ini di tanah air tahun 20012 kelak. Apabila dari rekan-rekan dimilis ini dapat segera mewujudkan mimpi "BPPT" yang mirip-mirip seperti saya,tanpa tunggu-tunggu. Betapa gembiranya hati saya. Saya pribadi merasa terhormat jika ada kritik, saran, masuk-bahasan dari rekan-rekan dimilis ini. Silakan hubungi saya melalui e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia is my life! Bobby V. Pattiasina.(BVP) [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] Elmhurst-Queens.NY 11373. --- In [email protected], "Mula Harahap" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ketika membaca headline "2030 RI Capai 5 Besar Dunia" di harian > Kompas saya langsung memelototkan mata. Dan karena melihat ada foto > Presiden SBY di bawahnya, saya menyangka ini adalah visi baru lagi > dari sang dari presiden. Karena itu saya langsung berkata dalam > hati, "Sebuah bangsa yang sudah hampir setahun tak kunjung bisa > menyelesaikan semburan lumpur, bermimpi mau menjadi 5 besar dunia? > Ini ocehan apa lagi?" > > Ketika membaca lebih jauh, maka barulah saya faham bahwa ini adalah > visi dari Yayasan Indonesia Forum yang dimotori oleh konglomerat > Anthony Salim, Chairul Tanjung dsb. Tapi karena sebagai salah > seorang (dari mayoritas) rakyat Indonesia saya sudah pernah (dan > masih) hidup babak belur akibat ulah para konglomerat, maka (maaf) > wajar saja kalau saya langsung menjadi curiga terhadap setiap move > yang mereka lakukan. > > Kata saya dalam hati: "Para pengemplang BLBI, anak emas dari > rezim 'trickle down effect' Suharto ini mau bikin apa lagi? Lalu > para ekonom di ISEI, di LIPI dan di beberapa universitas, yang > katanya ikut memotori Yayasan Indonesia Forum ini, koq belum kapok- > kapok juga sih? Koor mereka tentang 'memperbesar kue ekonomi dengan > ujung tombak memperbesar konglomerasi perusahaan' di bawah pimpinan > Sang Dirigen Suharto ternyata sumbang dan membuat negara nyaris > bangkrut..." > > Tapi ketika membaca tanggapan Presiden SBY saya agak terhibur juga. > Presiden yang santun ini memang tidak apriori menertawakan mimpi > tersebut. Ia hanya mengatakan, "Mari kita rame-rame bermimpi atau > membuat visi..." (Dan saya berdoa kepada Tuhan moga-moda ia tidak > mengadopsi visi para konglomerat itu menjadi mimpi atau visinya > juga). > > Sejak kita tidak lagi mengenal sistem "GBHN" dalam penyelenggaraan > hidup berbangsa dan bernegara, memang ada sekelompok orang yang > merasa bahwa bangsa ini agak kehilangan arah. Dan karena itu ada > suara-suara yang mengatakan agar kita kembali lagi menerapkan sistem > GBHN. > > Saya menentang pemikiran seperti itu. GBHN yang dibuat oleh sebuah > parlemen yang sangat tidak demokratis adalah juga sebuah visi yang > konyol. > > Visi sebuah negara dan bangsa sebaiknya dibuat oleh berbagai unit > dan elemen bangsa dan negara itu secara "rame-rame" dan tak perlu > diedit dan dikompilasi oleh siapa pun. Arah atau visi bersama akan > dihasilkan dari diskusi yang luas dan intens dari visi yang > ditawarkan berbagai unit dan elemen itu sendiri. > > AS, Inggeris, Jerman dan banyak negara-negara besar dan demokratis > di dunia ini tak mengenal GBHN. Tapi sebagai bangsa dan negara > mereka tetap memiliki "sense of direction". Bagaimana hal itu bisa > terjadi? Semua menawarkan visinya (tentang negara dan bangsa dimana > dia berada) dan saling berdiskusi. Presiden Bush punya visi. Partai > Demokrat atau Republik punya visi. Masing-masing senator (sebagai > anggota partai) punya visi. MIT atau Universitas Harvard sebagai > institusi punya visi. Masing-masing profesor di institusi tersebut > punya visi. NASA punya visi. Astronot dan insinyur di NASA punya > visi. Angkatan Darat punya visi. Setiap prajurit di dalam matra > angkatan tersebut punya visi. Hasil pertukaran dan diskusi yang > terus-menerus dari berbagai visi itulah yang kemudian menjadi visi > atau arah bangsa. > > Saya berharap hal yang sama berlaku di Indonesia. Disamping Anthony > Salim dkk yang bergabung di Yayasan Indonesia Forum, maka saya juga > ingin mendengar apa visi Muhammadiah, apa visi Din Syamsudin sebagai > anggota Muhammadiah, apa visi NU, apa visi Gus Dur sebagai anggota > NU, apa visi Angkatan Darat, apa visi Golkar, apa visi Yusuf Kalla, > apa visi KADIN, apa visi Bupati Bantul, apa visi Lurah Cempaka Putih > Timur, apa visi Fauzi Bowo (sebagai calon Gubernur DKI Jakarta), apa > visi HKBP, apa visi PGI, apa visi Akademi Jakarta, apa visi Goenawan > Mohamad (sebagai anggota Akademi Jakarta), apa visi isteri saya, apa > visi tukang ojek di depan rumah saya tentang bangsa dan negara > dimana ia berada. > > Para konglomerat yang bergabung dalam Yayasan Indonesia Forum telah > menyampaikan visinya. Memang, kalau kita duduk di puncak pencakar > langit "Wisma Metropolitan" atau "Menara Trans-TV", kamar kita > ditutupi karpet yang tebal, dan penyejuk kamar berfungsi baik > (sehingga kita tidak perlu membuka jas), maka visi kita tentang > bangsa dan negara ini cenderung otimistis. > > Tapi visi bupati di Sidoarjo (yang sebagian wilayahnya ditutupi > semburan lumpur yang tak kunjung henti) tentu akan lain lagi. > Demikian juga dengan visi seorang kepala sekolah SD atau Komandan > Koramil di Pulau Miangas (di ujung Sangir Talaud), visi seorang > mahasiswa perguruan tinggi swasta (yang perguruan tingginya hanya > diberi status terdaftar oleh Pemerintah), atau visi seorang uztad di > sebuah desa di Sukoharjo. > > Ada pun visi saya tentang bangsa dan negara ini adalah: Saya > membayangkan Indonesia yang adil (dan kalau bisa, ya juga > sejahtera). Saya tidak perduli negara ini mau menjadi kekuatan > ekonomi nomor berapa di dunia. Tapi semua warganya harus bisa > memperoleh makan, pendidikan dan kesehatan yang paling elementer. > Tidak ada korupsi. Tidak perlu ada segelintir orang yang masuk > dalam "Daftar 500" Fortune atau Forbes kalau masih ada orang yang > bunuh diri karena tak sanggup menyekolahkan anaknya atau membiayai > perawatan isterinya di rumah sakit. > > Saya juga membayangkan sungai yang airnya jernih dan hutan yang > hijau. Pada liburan hari raya orang duduk menggelar tikar dan > menyantap makanan yang sederhana tapi dalam suasana damai di pinggir > sungai atau hutan tersebut. (Bukan hanya melongok-longok sambil > menahan air liur di mall atau supermall yang wuah). Saya juga > membayangkan orang Indonesia yang tidak serta-merta tercerabut dari > akar tradisi dan budayanya, dan bisa berdamai dengan dirinya..." > > Bagaimana visi anda? > > > Horas, > > Mula Harahap
