Oleh IVAN A HADAR 
Pengamat Globalisasi 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/27/opini/3384267.htm
=========================

Millenium Development Goals atau MDGs adalah proyek kemanusiaan yang 
dicanangkan PBB selama 15 tahun (2000-2015). MDGs disepakati semua 
anggota PBB, termasuk Indonesia. 

Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi jumlah penduduk miskin 
menjadi separuh pada 2015. Niat yang sama telah dicanangkan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono dalam kampanye pilpres saat menargetkan 
peningkatan pendapatan masyarakat dari 968 dollar AS menjadi 1.731 
dollar AS dan penurunan jumlah orang miskin pada akhir jabatannya, 
dari 16 persen menjadi 8,2 persen pada 2009. 

Sayang, akibat kenaikan harga BBM dan merebaknya bencana, jumlah 
orang miskin di Indonesia meningkat menjadi 17,75 persen (Maret 
2006) atau sekitar 39 juta jiwa. Jumlah penganggur menjadi 40,4 juta 
jiwa, sekitar 38 per- sen dari jumlah angkatan kerja. 

Bagi Amartya Sen, seseorang disebut miskin karena tak punya akses 
untuk memenuhi kebutuhannya. Akses yang menjadi hak tiap orang itu 
ditentukan "nilai diri". Bagi kebanyakan orang, nilai yang dimiliki 
sebatas tenaga kerja. Karena itu, kemiskinan dan kelaparan tak bisa 
diatasi dengan sekadar memperbesar produksi. Ada kesepakatan luas, 
jika pemberantasan kemiskinan adalah motif utama kebijakan 
pembangunan, pengadaan dan peningkatan penghasilan orang miskin 
adalah tujuan terpenting semua kegiatan. 

Namun, ada dua paradigma berbeda tentang cara pencapaiannya. 
Pertama, asumsi pertumbuhan ekonomi adalah resep terbaik memberantas 
kemiskinan karena akan menyerap tenaga kerja. Namun, kenyataan 
empiris menunjukkan hal berbeda. Penyebabnya, terutama akibat 
maraknya cara berproduksi padat modal dan hemat tenaga kerja. 

Berseberangan dengan paradigma itu adalah keyakinan, orang miskin 
harus dibantu mendapat penghasilan. Usaha kecil diyakini sebagai 
pendukung utama perekonomian rakyat. Ketika persamaan kesempatan 
dengan usaha padat modal tersedia, usaha kecil diyakini bakal mampu 
meningkatkan investasi, inovasi, pengembangan usaha, dan 
penghasilan. Sayang, belum ditemukan bukti empiris yang meyakinkan 
bahwa asumsi itu bisa menjadi kenyataan. Lagi pula berhasil tidaknya 
sebuah usaha banyak ditentukan oleh pasar. Berangkat dari kenyataan 
pesimistis ini, opsi apa yang harus dipilih? 

Pelibatan orang miskin 

Tampaknya, meski tidak ada resep instan dan dipastikan manjur, 
beberapa hal berikut ini bisa menjadi pegangan dalam kebijakan 
memberantas kemiskinan. 

Pertama, manusia, kesejahteraan, dan pengamanan masa depannya harus 
menjadi fokus utama kebijakan pembangunan. Bukan pertumbuhan 
ekonomi, pendapatan per kapita, kemampuan bersaing atau integrasi ke 
pasar global. Sebagai bahan abstraksi, semua bisa merupakan gambaran 
tingkat kesejahteraan sebuah bangsa. Namun, secara nyata, data 
pendapatan per kapita, kegagalan pasar, dan buruknya governance 
sering mengaburkan banyak detail dan melupakan hambatan (ceteris 
paribus) yang merugikan orang, negara miskin, dan relasi asimetrik 
pasar global. 

Kedua, lewat kebijakan dan regulasi, kesempatan sama harus diberikan 
dalam persaingan antara usaha kecil dan menengah- besar padat modal 
maupun antarusaha kecil itu sendiri. 

Ketiga, pemberantasan kemiskinan lewat pengadaan lapangan kerja 
harus memerhatikan tingkat pengembangan industri dan integrasi 
sebuah negara di pasar dunia. Negara yang tingkat pertumbuhan 
industrinya belum maju, sementara sektor informalnya mendominasi, 
seperti Indonesia, perlu mempertimbangkan strategi yang pas. Ambisi 
agar mampu bersaing dalam pasar global sebaiknya dibarengi upaya 
mendukung usaha kecil sebagai basis industrialisasi. 

Keempat, pemetaan masalah dan potensi sebuah negara serta akseptansi 
strategi pembangunan yang spesifik hanya akan bisa diterima luas 
bila hal itu dilakukan dengan melibatkan semua pihak, terutama orang 
miskin. 

Kelima, negara berkembang dengan potensi pasar luas seperti 
Indonesia sering ditekan lembaga multilateral (terutama WTO, IMF, 
dan Bank Dunia) serta negara adidaya (khususnya AS) untuk membuka 
pasarnya dan menghilangkan subsidi. Bila ini dituruti, berdampak 
anjloknya tingkat upah dan meningkatnya PHK yang berarti 
meningkatnya jumlah orang miskin. 

Bahwa cara pandang, nilai, dan struktur dalam perekonomian selalu 
berubah, telihat dalam kian pentingnya lingkungan sebagai faktor 
perekonomian. Tuntutan negara-negara berkembang berpenduduk besar—
seperti China, India, dan Brasil—atas cadangan air, oksigen, dan 
energi yang kian terbatas akan mendorong perubahan drastis dalam 
pola konsumen di negara-negara maju. Hal ini membuat cara 
berproduksi padat modal yang bergantung pada sumber energi eksternal 
dan tak terbarui menjadi kian mahal sehingga tenaga kerja sebagai 
faktor produksi —kembali— menjadi penting. 

Dengan demikian, pelibatan orang miskin akan semakin riil sehingga 
waktu tersisa untuk mengurangi jumlahnya pada 2015, menjadi lebih 
realistis. 





Kirim email ke