Jika yang ingin dibicarakan a/ kesehatan, maka hal tsb bukan melulu ranah 
kedokteran.  Dokter hanya merupakan salah satu elemen dalam belantara 
kesehatan.  Elemen2 lainnya yaitu kebijakan kesehatan itu sendiri (yang dari 
pemerintah, dalam hal ini Depkes.  Apakah sudah berpihak bagi pemenuhan hak 
kesehatan rakyat Indonesia, bukan saja rakyat miskin tapi juga lapisan 
lainnya.), pelayanan kesehatan,  tenaga kesehatan (salah satunya yaitu DOKTER) 
dan perumahsakitan.
   
  Tapi jika ingin membicarakan salah satu aktor dalam pelayanan medis maka 
disinilah kita dapat membicarakan dokter.  Dan dokter itu dihasilkan dari 
FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM, yang berbeda dengan dengan Fakultas Kedokteran Hewan. 
 Seingat saya, mhn maaf jika salah, sekitar tahun 80an, Prof. Sajogjo dan 
Pudjiati Sajogjo dalam buku teks SOSIOLOGI  PEDESAAN yang kira2 memuat tentang 
urutan kedudukan pekerjaan yang dianggap ‘terpandang’ dalam kacamata masyarakat 
menyebutkan bahwa yg dipandang paling tinggi yaitu profesi dokter dan yg paling 
rendah a/petani, mengalahkan pekerjaan mengayuh becak.  Tentu hal ini tidak 
lepas dari ‘penempatan’ profesi dokter o/masyarakat.  Bahkan sejak masih di 
bangku kuliah pun para mahasiswa kedokteran sudah mempunyai ‘nilai tersendiri’. 
 Dulu, tak jarang kita mendengar para orangtua yg mengiming2i anaknya u/menjadi 
dokter ketika besar nanti.
   
  Kesan ‘prestisius’ itu tidak lepas dari sejarah perkembangan sekolah dokter 
di Indonesia.  Di Indonesia pendidikan kedokteran (sebenarnya kala itu sekolah 
tersebut lebih tepat disebut sebagai sekolah yang menghasilkan tenaga kesehatan 
saja) yang telah dimulai sejak tahun 1851, dengan didirikannya DOKTER DJAWA 
SCHOOL di Militair Hospitaal (Inlandsche Hospitaal) di Weltervreden (sekarang 
Menteng) pada waktu itu para mahasiswanya berasal dari kalangan Jawa yang 
berasal dari keluarga terhormat (fatsoenlijke Javaansche families) saja.  Dan 
baru 5 tahun kemudian mahasiswa dari luar Jawa diterima bersekolah disini.  
   
  Kembali ke persoalan kesehatan, amburadulnya kondisi dan derajat kesehatan 
kita bukan dikarenakan o/kurangnya jumlah tenaga dokter, tapi terlebih karena 
kekurangan yg terjadi pada kebijakan kesehatannya.   Pendistribusian tenaga 
dokter dan tenaga kesehatan non-dokter lainnya saja kita belum punya peta 
lengkapnya, juga besaran kebutuhan tenaga kesehatan u/ masing2 daerah.   Nah, 
jika mau membangun lagi fakultas kedokteran, apalagi di institusi yg core 
business-nya a/pertanian, apakah sudah dikalkulasi dengan matang semuanya?
   
  Sebagai gambaran, di Jakarta saja terdapat sekitar 7 FK, yang terdapat di 
Univ. Indonesia (UI), Universitas Kristen Indonesia (UKI), Univ. Katolik Atma 
Jaya (Unika Atma Jaya), Univ. Veteran, Univ. Kristen Djaya (UKRIDA), Univ. 
Trisakti, Univ. Tarumanegara dan Univ. Muhammadiyah-Jakarta.  Di Bandung 
sekitar 2, yaitu Univ. Pajajaran dan Univ. Kristen Maranatha.  Di Jawa Timur 
juga sekitar 4, yaitu Univ. Airlangga (Unair) dan Univ. Wijaya Kusuma dan Univ. 
Brawijaya serta Univ. Muhammadiyah-Malang.  Di Jateng ada Univ. Diponegoro, 
Univ. Sebelas Maret dan Univ. Sultan Agung.  Di Jogja ada 2, Univ. Gajah Mada 
dan Univ. Muhammadiyah-Jogya.  Di Sumatera ada sekitar 8 FK, yaitu Univ. 
Sriwijaya dan Univ. Tridinanti (Palembang), Univ. Lampung dan dan 1 FK swasta 
(Univ. Malahayati(?)), Univ. Sumatera Utara Medan dan Univ. Methodist (Medan), 
Univ. Syiah Kuala dan Univ. Malikul Saleh (NAD).  
   
  Sementara u/luar Jawa dan Sumatera hanya ada sekitar 6 FK, yaitu Univ. 
Udayana (Bali), Univ. Mataram (NTB),  Univ. Hassanudin dan Univ. Muslim 
Indonesia (Makassar), Univ. Sam Ratulangi (Manado) dan Univ. Lambung Mangkurat 
(Kalimantan Selatan).  Saya tidak tahu, apakah di Univ. Cendrawasih (Papua) 
sudah ada FK-nya.
   
  Kenapa tidak dibangun diluar Jawa dan Sumatera saja, kalau memang mau 
mendirikan FK lagi?
   
  ED

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke